Mencinta Hati dan Logika

Ketika hati dan logika dituntut untuk serius,

Aku berusaha untuk tidak menciut.

Rencanaku jelas:

Memaksakan hati untuk menunggu

Dan membuat logika bersedia menanti.

 

Tapi kemudian aku diperhadapkan pada satu fakta:

Keduanya tidak sesabar itu.

Harus ada keputusan.

Harus ada tindakan.

Harus ada hasil.

 

Ini seperti momen ketika Juliet harus memilih.

Mengalami getir bersama Romeo atau setia pada keluarganya.

Kita semua tahu apa yang dia pilih.

Atau ketika Bella Swan harus menentukan pilihan.

Edward yang begitu mempesona.

Ataukah Jacob yang bikin nyaman setengah mati.

Meski melepas kehidupan, tapi ia bahagia pada keabadiannya yang konyol.

Itukah yang terpenting? Kebahagiaan? Atau kebersamaan?

 

Bagaikan perdebatan tiada akhir ketika aku bertanya,

Siapa yang harus didahulukan?

Siapa yang harus kupertahankan?

Siapa yang harus aku perjuangkan?

Hati atau logika?

 

Aku tidak bisa persatukan keduanya.

Setidaknya hingga saat ini.

Mereka berada di dua kutub yang selalu berlawanan.

Dan aku sungguh ingin mendamaikan keduanya.

Kau tahu bagaimana caranya?

Sebab, sampai sekarang, aku tidak.

*) Sederhananya, ketika aku mendahulukan hati, logika akan berontak sedemikian rupa. Tapi kalau aku pilih logika, hati bisa menangis sejadinya. Hoalahhhhhhh. Kukira akan mendapati dilema ini setelah satu tahun yang delapan bulan itu. Tapi kenapa malah sekarang??ย  SUNDAY, FEBRUARY 14, 2010 โ€“ 2:13 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s