Menjadi Diri Sendiri

Menjadi diri sendiri. Seringnya, aku bingung, apa selama ini aku telah menjadi diri sendiri. Menjadi seorang Tina. Menjadi seorang perempuan berusia 20 tahun yang menikmati hidup dan bersyukur untuk tiap hal yang ada padaku. Apakah aku telah menjadi seorang perempuan yang menaruh perhatian besar pada orang-orang, hal-hal yang aku sayangi? Apakah selama ini aku telah berusaha sungguh-sungguh mengejar apa yang menjadi impianku?

Apakah aku telah menjadi diriku sendiri ketika aku senang menyendiri dan ketika tak berkata banyak? Apakah lantas aku tidak menjadi diri sendiri ketika berada di tengah orang-orang yang kusayangi dan berusaha maksimal menciptakan kehangatan di tengah-tengah mereka? Kalau aku terlalu banyak tertawa dan seperti tidak habis obrolan, apakah itu bukan aku yang sebenarnya? Toh, aku menikmatinya. Sangat menikmati waktu-waktu seperti itu.

Aku cuma ingin jadi diriku sendiri. Aku cuma ingin jadi orang yang tidak perlu berpura-pura. Aku cuma ingin jujur terhadap orang-orang di sekitarku. Aku cuma ingin jujur terhadap perasaanku.

Orang bilang aku mengumbar perasaan. Menurutku, mereka cuma terlalu mencemaskanku. Apa yang salah sih dengan aku menuliskan puisi dan mengekspresikan kecintaanku terhadap Si Abang? Toh, dia juga tidak menyadari. Meski, secuil dari diriku menginginkan dia tahu.

Tidak tahukah mereka bahwa ketika Si Abang pergi, separuh dari diriku seperti dibawanya. Mungkin orang lain melihat aku masih utuh sampai sekarang. Tapi kepergiannya membuatku tidak pernah sama lagi seperti diriku yang dulu. Aku tidak peduli kalau orang bilang aku ini bodoh. Siapa sih yang bisa terlihat pintar di hadapan cinta?

Aku merindukannya, sangat. Setengah mati kukubur kalimat itu dan tiap kali ia berusaha muncul, dengan sepenuh tenaga dan kekuatan hati aku membenamkannya. Di lubuk hatiku yang terdalam. Sangat dalam sampai aku bahkan tidak pernah tahu aku punya bagian itu dalam hatiku. Aku hanya tidak ingin merana karena memikirkannya terus. Tapi aku mau jujur sekarang. Aku sedih sekali ketika dia harus pergi. Aku tahu aku tidak bisa tidak memikirkannya. Biarlah perasaan ini kupendam. Kalaupun dia harus meledak, semoga saja itu tidak lantas menyakitiku. Meski aku tidak yakin ada yang lebih sakit daripada menahan rindu.

Seorang saudara bilang, ”Kamu hanya akan terjebak dengan perasaanmu terhadap dia. Kamu tidak akan bisa melanjutkan hidup kalau belum bisa melepaskan rasa cintamu terhadapnya. Itu bisa berakibat fatal. Nantinya kamu akan membanding-bandingkan pria lain dengan dirinya. Dan mengingat betapa hebatnya dia, aku ragu ada pria lain yang mendekati Si Abang.”

Oh, bunuh saja aku. Kalau saja aku bisa tidak memikirkannya. Begitu menyadari kepergiannya bukanlah hal yang bisa dielakkan, aku sudah mati-matian menjauhkan dia dari pikir dan angan. Harus apa aku untuk bisa mengenyahkannya dari mimpi-mimpiku?

Aku tak tahu apa keadaanku itu diperparah atau dipulihkan dengan kehadiran beberapa pria yang mengisi hidupku. Bukannya aku tidak menghargai usaha mereka, tapi tetap saja, mereka bukan Si Abang. Tak seorang pun dari mereka yang mendekati kebaikan, ketulusan, kecerdasan, kemurnian hati, kepedulian, seperti yang Abang miliki.

Kadang mereka memang mengalihkan perasaanku. Tapi itu hanya sementara. Aku langsung saja kembali membayangkan, apa yang Abang pikirkan jika ia tahu aku memberi sedikit kesempatan bagi pria lain? Apakah lantas aku tidak cukup baik baginya? Apa lantas aku tidak pantas untuk dia?

Menyedihkan sekali memang. Inilah mengapa aku tidak mau mengingat Abang lagi. Aku pikir dengan kepergiannya hidupku akan baik-baik saja. Aku pikir aku bisa melanjutkan hidupku tanpa dia di sini bersamaku. Tampaknya aku salah lagi. Sama salahnya seperti aku mengharapkan dia merasakan cinta yang sama seperti aku. Sama salahnya seperti aku merindukannya setengah mati sementara ia bahkan tidak mengingat janjinya padaku.

1:42 PM

**room oh room

Dan ”Perahu Kertas” mengingatkanku kembali akan cinta yang tidak bisa mati. Puas kau, Bang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s