Menunggumu

Menunggumu. Mungkin itu keputusan terbodoh yang pernah kuambil. Bodoh karena aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggu. Bodoh karena kamu bahkan tak tahu aku menunggu. Bodoh karena aku tidak benar-benar pasti dengan apa yang kutunggu: hadirmu atau apa yang terjadi setelah kamu kembali. Aku tidak akan pernah lupa tiap detail di hari kamu mengucapkan perpisahan. You didn’t say goodbye. I remember it was “See you later!” Dan aku senang kamu memilih kata-kata itu. Karena aku pun tidak mau berpisah darimu.

Hari itu selepas acara perpisahan yang diadakan teman-teman, kamu menghampiriku. Apa kamu sadar waktu itu aku berusaha keras untuk menghindarimu? Walau tahu, kamu pasti akan tetap mendatangiku. Seperti biasa, kamu muncul dengan senyum kecilmu yang menawan. Senyum yang buat sesak itu melesak dalam hatiku, membuat aku ingin lenyap seketika dari hadapanmu. Apa kau pikir aku bisa tanpamu?

“So, here we are. I hope you know that this is not goodbye. I will see you again, if God allow us to,” he told me with that cute lil smile that bursted me into dust.

“Sure. I’ll be waiting for that day. When you’re come back and we’re gonna spend days talking two way monologues with words that rhyme,” I hated fake-smiling you.

“I’m gonna miss you so much. Well, I already do,” he almost hugged me.

“Yeah, me too,” reluctantly speaking, off course.

Setelah itu kita hanya berkirim pesan sekali-sekali. Menyatakan syukur kita untuk tiap hari baik yang Tuhan beri. Untuk tiap hari kita masih diberi kesempatan menikmati tiap berkat-Nya. Untuk tiap aktivitas yang bisa berjalan dengan pertolongan-Nya. Khusus bagiku, aku bersyukur karena setelah sekian lama, aku masih bisa menghadapi pesan-pesan singkatmu. Menyingkirkan pedih yang memaksa hati menjerit lirih. Terus saja bertahan dan menikmati kebersamaan semu ini.

Minggu depan aku kembali ke Indo. Kalau kamu tidak sibuk, maukah bertemu denganku?

Hidupku berjalan normal tanpamu hingga kamu datang lagi dengan tawaran yang sangat menggiurkan itu. Tentu saja aku mau bertemu denganmu. Lupakan semua kesibukan di kantor. Lupakan semua liputan tentang kasus Century dan basa-basi Pansus. Aku sangat ingin bertemu denganmu.

Aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu. Tapi akan aku kabari secepatnya kalau aku sempat.

Kalau kamu sempat? Mana mungkin kamu sempat bertemu denganku sementara perempuan itu pun sedang berada di sini. Kenapa sih perempuan itu harus memilih waktu yang sama untuk kembali ke kota ini dengan waktu yang kamu pilih? Ini memang bukan persaingan, tapi yang benar saja, mungkinkah kamu lebih memilih bersamaku manakala perempuan itu memberikan sesuatu yang lebih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s