Di Rumah Aki

Rintik hujan terus saja membasahi tanah di luar sana tapi aku masih merasa gerah. Mungkin karena sejak sampai di desa ini aku belum mandi. Dari sore, hujan tidak berhenti jatuh ke bumi. Dinginnya bikin aku malas mandi. Tapi sekarang aku merasa sangat gerah.

Aku ambil ponsel dari saku jaketku. Pukul 22.32. Orang-orang di sekitarku sudah pulas. Bahkan tadi aku dengar Ony mengigaukan sesuatu, aku tidak jelas mendengarnya. Sekian waktu aku berpikir, memutuskan aku harus mandi atau tidak.

Ragu-ragu aku mengeluarkan handuk dari tasku. Ini barang pertama yang kukeluarkan dari tasku. Dari tadi aku asyik ngobrol dengan Ony dan beberapa teman soal tujuan kami datang ke desa ini. Katanya sih kami diminta untuk jadi sukarelawan di sini. Ada beberapa rumah yang baru dibangun untuk mengganti beberapa rumah warga yang rusak akibat gempa.

Aku dan teman-temanku sangat menantikan perjalanan ini. Tidak banyak kesempatan yang diberikan pada mahasiswa macam kami untuk bisa jadi sukarelawan.

Perjalanan ke desa ini memakan waktu dua jam. Tadi kami sampai sekitar pukul 18.00. Sesampainya di rumah warga, kami hanya mengobrol dan memakan camilan. Kami baru mulai bekerja membantu pembangunan rumah keesokan hari.

Aku mengalungkan handuk yang kuambil di leherku. Sebenarnya aku agak takut untuk mandi jam segini. Tapi aku tidak enak membangunkan Ony atau temanku yang lain hanya untuk menungguiku mandi. Kalau aku yang diminta seperti itu, pasti aku keberatan. Kuputuskan untuk mengubur ketakutanku dan beranjak ke kamar mandi.

Untuk kamar mandi ukuran orang desa, sebenarnya kamar mandi Nini ini lumayan normal. Tapi untuk ukuran gadis kota sepertiku, ini jauh dari layak. Aku cuek saja. Kunyalakan lampu dan kuputar keran air yang ada di ujung kanan bak mandi.

Tidak lama aku mandi. Yang penting aku tidak mati kegerahan pas tidur. Segar juga mandi menjelang tengah malam begini, pikirku.

Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku dikagetkan dengan sosok kakek-kakek yang sedang duduk menghadap tungku. Sekilas ia mirip suami si Aki, suami si Nini yang sedang duduk di teras ketika kami tiba di rumah mereka tadi sore. Tapi aku tidak habis pikir, apa yang dilakukannya tengah malam begini di depan tungku. Setahuku, si Aki punya sakit mata, jadi kubuang jauh-jauh buruk sangkaku, kalau si Aki mengintipku mandi.

Jantungku berdegup semakin kencang ketika kakek-kakek itu menoleh ke arahku dan tersenyum kecil. Leher kakek itu tampak mengerikan. Di bawah lampu yang temaram seperti ini pun aku bisa lihat ada seperti bekas luka di leher kakek itu. Bekas luka seperti pola yang tali atau apalah, aku tidak begitu jelas melihatnya.

Mandi, Neng?” tanyanya.

Kukumpulkan keberanianku dan menjawab, “Iya Ki, biar gak gerah aja pas tidur.”

Aku menyesal memutuskan mandi tengah malam tanpa ada yang menemani.

Kakek itu kembali tersenyum. Kali ini aku bisa melihat giginya masih utuh. Ini aneh. Si Aki kan sudah sangat tua. Tadi sore aku sempat tertawa dalam hati ketika melihat si Aki yang ompong di sebagian besar giginya. Bulu kudukku merinding. Kalau bukan si Aki, siapa gerangan kakek-kakek ini?

Saya ke kamar dulu, ya, Kek,” tanpa minta jawaban aku hampir berlari ke kamar tidur.

17.30 WIB di Teras Rumah Ujang

Nini: “Ayo Ki, kita pulang saja. Bentar lagi mahasiswa dari kota mau datang ke rumah kita. Besok mereka mau bantu-bantu bangun rumah tetangga.”

Aki: (Diam. Tampak kesedihan mendalam di raut wajah pria berusia 70 tahun itu.)

Nini: “Sudahlah Ki, yang sudah pergi jangan diratapi. Itu semua kehendak Yang Kuasa. Mungkin kematiannya mencoba menyadarkan kita untuk lebih menghargai kehidupan.”

Aki: (Menatap Nini penuh haru. Menikahi Nini adalah keputusan paling pintar yang pernah diambilnya. Andai saja dari awal dia sudah dipertemukan dengan Nini, dia tidak perlu menikahi empat wanita sebelum Nini.)

Nini: (Mengulurkan tangan) “Ayolah, Ki.”

Aki: (Menyambut uluran tangan Nini)

Mereka berdua pulang ke rumah tua yang sudah mereka tempati lebih dari setengah abad. Dalam benak masing-masing, mereka mempertanyakan, kenapa adik si Aki sampai berbuat hal sebodoh itu. Sebodoh itu sampai merenggut nyawanya sendiri.

15.00 di Rumah Ujang

Warga desa berbondong-bondong datang ke rumah kecil itu. Rumah itu tadinya hanya dihuni oleh Ujang. Namun kini rumah itu menjadi rumah tak berpenghuni. Warga desa datang ke rumah itu untuk berdoa untuk penghuninya yang kini telah tiada. Warga desa gempar mendengar kabar si Ujang bunuh diri dengan seutas tali.

Meski tinggal sendiri sebenarnya Ujang bukanlah sebatang kara. Dia masih punya keluarga di desa ini. Ada si Aki, kakak kandungnya, dan si Nini, istri si Aki. Namun hubungan mereka tidak begitu baik.

Menurut dugaan sementara, Ujang bunuh diri karena dilarang menikah oleh si Aki. Dia depresi mendengar kata-kata si Aki yang menganggap Ujang hanyalah benalu karena selama ini selalu minta dibiayai oleh Aki untuk keperluan sehari-hari, termasuk pernikahan yang sudah dilakukan tiga kali. Namun kali ini Aki menolak karena Ujang minta dinikahkan dengan Putri. Gadis itu baru tamat SMP seminggu yang lalu.

Sunday February 21, 2010 6.33 PM.

Waktu berkunjung ke Pangalengan, kepikiran cerita ini. Untung tidak mendapat penampakan apa-apa. Idenya dari cerita serupa dengan banyak modifikasi. Waktu pertama baca cerita ini, serem banget kayaknya. Tapi setelah aku yang tulis kok jadi nggak serem lagi yak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s