Efektivitas Komunikasi Ortu-Anak

Menjadi orang tua di daerah perkotaan dengan kesibukan yang padat merupakan tantangan tersendiri. Salah satu tantangan yakni untuk berkomunikasi dengan anak. Waktu yang minim untuk bisa bersama dengan anak membuat orang tua sukar mengikuti perkembangan dan kemauan anak jaman sekarang.
Demikian ungkap Erwin Parengkuan, salah satu pendiri TALKinc, sekolah untuk Presenter TV dan MC dalam acara Peluncuran Buku TALKinc Points for Parents dan TALKinc Points for Kids di Atrium Utama West Mall Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (23/2). Erwin didampingi sahabatnya Becky Tumewu dan Alexander Sriewijono yang juga pendiri dan penulis buku TALKinc itu mewujudkan kepedulian mereka terhadap mirisnya komunikasi orang tua-anak melalui penulisan buku. Kedua buku itu diharapkan bisa menjadi panduan bagi orang tua dan anak-anak untuk berkomunikasi dengan lebih baik.
“Sebagai orang tua masa kini, apalagi di daerah perkotaan, semakin ke sini kami melihat komunikasi dengan anak menjadi sesuatu yang bisa dibilang sulit,” kata Erwin yang memiliki tiga orang anak itu.
Erwin memerhatikan anak-anak di lingkungan modern punya banyak tantangan terutama menyangkut nilai-nilai kebaikan. Saat ini, nilai-nilai kebaikan seperti sopan santun menjadi semakin langka untuk diterapkan.
Sejalan dengan itu, Alexander mengatakan buku yang mereka tulis sekaligus menjadi pengingat bagi orang tua akan peran mereka sebagai tokoh utama untuk mendidik anak.
“Fenomena yang ada sekarang yaitu orang tua cenderung mencari sekolah yang mahal, yang bagus, bahkan yang berkelas internasional untuk anak-anak mereka lalu lepas tangan begitu saja. Orang tua tampaknya tidak ambil pusing untuk menjadi pendidik bagi utama anak-anak. Mereka menyerahkan peran itu pada sekolah sepenuhnya,” ujar Alexander.
Menurut Alexander, hal itu seharusnya tidak terjadi. Anak-anak butuh pendampingan orang tuanya. Mereka harus melihat teladan orang tuanya dalam masa pertumbuhan. Inilah yang membuat peran orang tua sangat signifikan untuk anak-anak.
Becky Tumewu menambahkan, buku yang mereka tulis bisa menjadi jembatan aktivitas bagi orang tua dan anak-anak untuk membahas sesuatu yang positif.

Learning Parents
Program Director TALKinc Alexander menegaskan pentingnya sikap mau belajar untuk para orang tua. Sikap ini akan membantu orang tua untuk memahami anak-anak di era teknologi yang canggih ini.
Ia mencontohkan hubungan anak-anak dengan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Dalam pemakaian situs jejaring sosial seperti itu, kata Alexander, harus ada kesepakatan atau aturan khusus antara orang tua dengan anak-anak. Namun terlebih dahulu, orang tua harus memahami teknologi sehingga bisa membuat batasan-batasan tersendiri.
“Yang bahaya adalah ketika orang tua melarang anaknya bermain Facebook padahal mereka sendiri tidak memahami Facebook itu seperti apa, konsekuensinya apa. Hal itu hanya akan membuat anak bertanya-tanya mengapa dia dilarang. Kemudian yang dilakukan adalah mencoba-coba Facebook tanpa didampingi orang tua,” kata Alexander.
Orang tua harus berbesar hati untuk mau belajar bersama anak. Menurut Alexander, orang tua yang baik ialah orang tua yang mau menurunkan egonya untuk anak-anak. Sebab, sesungguhnya anak-anak setara dengan orang tua, meskipun lahir lebih dulu ke dunia.

Menjadi Sahabat untuk Anak-anak
Dalam acara yang dipandu Novita Angie itu hadir pula Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Wardana. Pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini mengatakan yang paling penting dalam hubungan antara anak dengan orang tua yaitu komunikasi yang efektif tua. Anak-anak membutuhkan informasi. Namun orang tua seringnya memberi informasi dengan sikap arogan yang tidak bisa diterima oleh anak-anak. Hal ini membuat mereka cenderung mencari cara alternatif yang sifatnya kompromi.
Menurut Kak Seto, cara yang sangat efektif untuk berkomunikasi dengan anak yakni dengan menjadikan anak sebagai sahabat. Ketika anak menganggap orang tua sebagai sahabat maka dengan sendirinya mereka mau sendiri isi hati dan pikiran mereka kepada orang tua.
“Menggenggam anak remaja itu seperti menggenggam seekor merpati. Terlalu kendor, ia akan lepas, terlalu kencang ia akan mati. Hal itu berkaitan dengan prinsip hidup dalam keluarga seperti keselamatan, kesehatan. Orang tua harus bisa menyadarkan anak mengenai prinsip-prinsip itu,” ujar Kak Seto.
Dalam hal berkomunikasi, menurut Kak Seto, orang tua harus menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak. Penelitian membuktikan orang tua umumnya tujuh kali berbicara, satu kali mendengar. Hal ini yang seharusnya diubah menjadi tujuh kali mendengar, satu kali berbicara. Jika itu diterapkan, anak-anak akan terbuka dan merasa orang tua sebagai sahabat sejati. Jika tidak, anak-anak bisa saja mencari orang lain sebagai sahabat yang belum tentu bisa mengarahan pada hal-hal yang positif.
Ketika ditanyakan tentang kasus-kasus yang mencuat belakangan ini akibat pemakaian Facebook oleh anak, Kak Seto menegaskan itu semua bermula dari komunikasi yang tidak efektif antara orang tua dengan anak, terutama anak remaja.
Kasus seperti Nova dan Arie misalnya. Buktinya pada waktu disuruh pulang oleh orang tua Arie, Nova tidak mau. Itu karena Nova menganggap rumah sebagai tempat yang penuh dengan kekerasan, bukan kekerasan fisik melainkan kekerasan psikologis. Hal itu membuat anak merasa tidak dihargai dan tidak dimengerti. Ketika ada orang yang bisa menghargai dan mengerti maka orang itulah yang dijadian tempat berlabuh hati anak remaja.
“Nah, supaya anak tidak lari, jadilah sahabat sejati bagi anak, berdiri dan duduk sama sejajar, menjadi pendengar yang baik, dan teman curhat yang sangat akrab. Hal ini akan membuat anak menganggap tempat yang paling sejuk, teduh, dan indah justru ada dalam keluarga,” kata Kak Seto. (mg-2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s