Talking Two Way Monologues

Ma

All the other options that you had in mind stun me

‘Cause I’m optionless and turkey-free and blind

Tanpaku, kamu masih bisa menikmati hidup; bekerja dari pagi ke senja dan berbincang-bincang tentang banyak hal serius dengan teman-temanmu. Itu yang kamu katakan padaku ketika kutanya bagaimana kabarmu. Kamu memang selalu begitu. Tidak pernah mau menjawab pertanyaan basa-basi dengan jawaban basa-basi juga. Dan kamu jujur.

Ini sama seperti saat kamu memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda dari apa yang kita rencanakan selama ini. Dulu. Kamu bilang, kamu tidak berubah jadi pribadi yang lebih baik sejak bersamaku. Kamu merasa tidak berkembang. Sakit mendengarnya. Namun aku bisa menerimanya. Menerima kejujuranmu.

Empat bulan sejak kamu tidak bersamaku lagi. Aku bersyukur kamu bisa move on. Karena aku tidak. Aku masih berharap kita bisa menghabiskan waktu senggang di kafe dan menyeruput kopi masing-masing. Membicarakan hal yang membuat kita semakin mengenal satu sama lain. Semakin mengenal diri kita masing-masing juga.

Pa

Won’t you listen and I’ll let you in on this

Blind me

Won’t you listen and I’ll reduce advice to dust

Oh no

I shouldn’t have to spell my name

It’s obvious. I need you. Aku butuh orang yang bisa mendengarkan tiap kisahku. Aku butuh orang yang duduk di sampingku dan menyaksikanku berbicara tentang apa yang ada di pikiranku. Aku butuh orang seperti kamu. Yang hanya mendengar dan tidak menyela dengan berbagai komentar menggurui. Yang hanya menyaksikan tanpa harus memotong ceritaku hanya supaya aku tahu aku tidak sepenuhnya benar.

Aku tidak tahu apa yang membuatmu merasa tidak berkembang. Aku mengharapkan kamu menjadi orang yang lebih baik tentunya. Tapi apa benar, kebersamaan kita tidak berarti apa-apa bagimu.

Ma

If it’s worth the made up smiles, the quiet fights

Oh, mother

It is hard not to look in the mirror’s eye

I have come to this while you have come along

So it’s alright if you change your mind the other way around again

I shouldn’t have to spell my name

Jangan katakan padaku itu semua palsu. Jangan katakan padaku kamu cuma pura-pura. Sebab, aku mengenalmu dan kejujuranmu. Kalian seperti Edward Cullen dan Bella Swan yang tidak bisa dipisahkan. Termasuk oleh maut. Kamu orang paling jujur yang pernah aku kenal.

Lalu katakan padaku, tentang apa semua ini? Mengapa tiba-tiba kamu berubah pikiran? Mengapa tiba-tiba kamu merasa tidak cocok denganku? Mengapa kita harus berpisah?

So start the two way monologues that speak your mind

We’re talking two way monologues with words that rhyme

See? This is what I like the most about us. Ketika bertengkar pun kita masih bisa mengucapkan hal dengan rima yang manis. Dengan kata-kata yang lemah-lembut. Mungkin artinya menyakitkan saking jujurnya. Tapi kamu, kamu tidak akan pernah berkata kasar padaku. Aku kangen itu. Aku kangen kamu.

SATURDAY NITE FEBRUARY 27, 2010 – 9:42 PM

I miss it when we’re talking two way monologues with words that rhyme. I’m still here. Where are you?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s