beda level itu…

Selalu seperti ini. Seharusnya aku sudah tahu polanya. Semua hal muncul berbarengan, membuatku penuh dengan harapan. Lalu, ketika aku pikir aku tahu apa yang akan terjadi, nyatanya selalu saja aku salah. Semua itu hanya harapku. Tidak lebih.

Setelah curhatan dengan seorang saudara di tengah malam itu, aku lega. Tapi aku tak menyangka itu malah memantik kenanganku tentang dia. Aku sudah berjanji pada diriku, ketika dia pergi hatiku juga dibawa, jadi aku tidak perlu khawatir untuk terus menahan rasa. Namun aku salah. Lagi-lagi.

Parahnya, aku melakukan kebiasaan buruk itu lagi. Guilty pleasure yang itu-itu lagi. Tidak tahan, kataku dalam hati. Fakta baru yang kutemukan selalu saja membuat senyumku merekah seketika. Cuma di sini, aku bisa melihatnya, meski tak utuh. Lalu, kusadari fakta itu seperti candu. Aku terus mengungkap secuil realita tentang dia. Bodohnya itu malah membuat aku makin tertekan. Padahal, logika sudah peringatkan berulang kali.

Dan sekarang, kau harus tahu aku berharap hatiku mati rasa. Kalau ternyata bisa, aku kan menganggap dia sungguh berjasa. Satu kutipan itu menuntunku pada sebuah buku. Jujur, sudah kuluruskan motivasi untuk membaca buku itu. Dia tidak ada di daftar motivator.

Satu paragraf sebelum kutipan itu aku berhenti sejenak. Mengambil tisu yang ada di atas meja sebelahku. Menyeka air mata yang tak kusadari menetes begitu saja. Kenapa jadi teringat padanya? Kenapa juga mata ini jadi panas dan tetesan air tak terelakkan di pelupuk mata?

Meski merasa tak sanggup melanjutkan membaca saat itu juga, toh aku malah berjumpa dengan kutipan itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Setelah hampir dua bulan, kenapa aku harus mengungkitnya kembali? Apa memang naturku untuk menyakiti hatiku sendiri? Mungkin karena tak ada yang melukai hati ini, jadi aku pikir lebih baik aku yang memulai membuatnya sakit?

Kalau aku mengulangi kebodohan yang sama, apa aku pantas dipanggil bodoh-bodoh atau bodoh kuadrat? Bodoh sekali, mungkin lebih tepat.

Bodoh sekali aku menganggap dia ”not exist” di pertemuan pertama. Bodoh sekali aku melirik dia di pertemuan kedua. Bodoh sekali aku berniat kenalan di pertemuan ketiga. Bodoh sekali aku menyambut jabatan tangannya di pertemuan keempat. Bodoh sekali aku balas sapa ramahnya di pertemuan kelima. Bodoh sekali aku menerima permintaan maafnya di pertemuan keenam. Bodoh sekali aku melepaskan dia pergi, dengan sukarela sungguhan, di pertemuan ketujuh.

Bodoh (kata sifat); dungu, tolol, tidak lekas mengerti jika diterangkan atau dinasihati, tidak memiliki pengetahuan (pendidikan atau pengalamannya rendah) –KBBI.

Aku belum yakin rela dianggap dungu, tolol atas semua ini. Kalau pikirku sebenarnya sudah peringatkan untuk tidak memendam rasa, apakah lantas hatiku pantas disebut bodoh? Atau ini semua hanya karena pengalamanku yang rendah? Untuk apapun itu artinya.

Kau begitu cerdas dan pintarnya, sedangkan aku selalu menganggap diriku bodoh. Apa karena level kita tidak sama, maka tidak diizinkan bersama? Memang apa yang mungkin terjadi kalau aku berusaha penuh untuk meningkatkan kualitasku, hanya untuk dipandang selevel denganmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s