My dear (1)

My dear,

Hari ini terasa sangat panjang bagiku. Mau tahu kenapa? Karena setengah hari kulewatkan di depan layar komputer. Bayangkan setengah hari aku menyiksa mataku melihat deretan kata-kata itu. Bukan. Aku bukannya memikirkanmu. Aku memikirkan akhir minggu ini.

Seperti yang sudah kukatakan padamu, akhir minggu ini akan jadi petualangan tersendiri bagiku. Aku akan berkunjung ke Kepulauan Seribu. Bersama seorang teman. Tenang saja, dia perempuan. Itu kulakukan di hari Sabtu. Keesokan harinya, selain beribadah, aku menyegarkan diri menyaksikan perhelatan musik Java Jazz Festival.

Mungkin ini terdengar mewah bagi kamu. Tapi tidak, ini bukan perjalanan yang menghabiskan banyak biaya atau bepergian dengan moda transportasi pribadi. Sama sekali jauh dari itu.

Untuk sampai ke Kep. Seribu, tepatnya Pulau Pramuka, aku hanya naik perahu (dari tempat terdekat, aku kurang jelas, dari mana perahu itu mulai berlayar). Biayanya, kata temanku itu, Rp 30 ribu saja. Seharian aku akan menemani temanku itu untuk mengambil bahan penelitiannya. Sargassum sp. Atau lebih dikenal dengan oseng, sejenis rumput laut.

Aku tidak begitu jelas teknisnya bagaimana. Yang pasti, selain mengambil bahan penelitian itu, kami akan menikmati keindahan pantai, laut, dan biota alam lainnya. Jujur, aku tidak sabar. Tapi tentu saja aku harus menunggu.

My dear, akan terdengar gombal jika kukatakan aku ingin sekali liburan denganmu. Bukan hanya ke Kep. Seribu. Ke berbagai tempat aku bersedia menghabiskan waktu denganmu. Tapi apa itu mungkin?

Aku tak yakin kamu masih ingat dengan liburanmu yang terakhir kali. Kapan sih kamu meluangkan waku dan menikmati waktu senggang (itu pun kalau kamu punya)? Kenapa sih yang di pikiranmu hanya tentang segala penelitian itu? Ah, aku saja yang sampai sekarang belum memahami apa yang kamu sebut panggilan itu.

So, here I am, my dear. Aku akan terus mengharap liburan bersamamu. Atau setidaknya aku terus berusaha mengenang liburan kita bersama. Ketika kamu tak diganggu dengan makalah penelitianmu. Ketika kamu bisa fokus pada siapa yang bersamamu. Dan oh ya, tentu saja, kamu orang pertama yang terlintas dalam benak ketika aku dapat tiket untuk menonton Festival Musik Jazz se-Jawa itu. Tapi, aku tahu, sudah cukup aku salah berharap. Sudah cukup, my dear.

Ini namanya aku memikirkanmu bukan sih? Kayaknya sih.. ngngng.. gimana yaaa? πŸ˜›

06.03.10

*Sebelum perjalanan yang menyenangkan itu. Well, setidaknya aku membayangkan ini akan menyenangkan.*

One thought on “My dear (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s