sendiri itu mewah tauuuu

Aku bangun dalam pikiran tentang kesendirian. Aku memang benar sendiri tapi tidak merasa sepi. Aku menikmati kemewahan ini.

Hari libur terus menjadi dilema bagiku. Hari libur memberi kesempatan padaku untuk terjaga lebih larut dan terbangun lebih telat. Hari libur memberi kesempatan padaku untuk keluar dari keteraturan; rutinitas. Hari libur menawarkanku untuk mengulangi guilty pleasure. Hari libur memberi kelonggaran padaku untuk tidak mengerjakan tugas.

Mungkin memang hanya pada hari libur aku membuang waktu sekaligus menikmatinya. Kalau sudah begitu, masih bisakah dia disebut waktu yang terbuang? Karena toh aku menikmatinya. Sangat.

Bermalas-malasan. Mungkin kalian akan menyebutnya seperti itu. Namun bagiku, rehat adalah kata yang lebih tepat.

Aku menyukai ritme kehidupan yang diberikan padaku selama tiga minggu belakangan. Lebih menyukai ketika hari ini diberikan kesempatan dan kelonggaran di atas. Aku dapat hari liburku.

Aku terbangun dalam pikiran akan menghabiskan hari ini untuk diriku sendiri. Tidak ada orang lain. Karena memang tidak tersedia orang lain. Namun aku tidak merasa sepi. Bagiku ini suatu kemewahan.

Selepas bercakap-cakap intensif dengan Sang Dia, aku tidak tahu persis apa yang harus kulakukan. Apa karena libur, otakku juga seperti meliburkan fungsi untuk merencana?

Dengan enggan kunyalakan laptop dan mulai mendengarkan musik (sekaligus nge-test speaker baru. Yipppi). Setelah itu tidak begitu tahu mau apa. Tidak begitu ingin menulis berita tentang diskusi yang kemarin kuikuti. Dan aku paling tidak suka menulis ketika tidak benar-benar ingin.

Tadinya mau menulis tentang kamu; apa yang kurasakan ketika aku mendapatimu kembali merayap di sela-sela jaringan otakku, menyesap dalam resah ketika aku butuh hadirmu di sampingku. Tentang kenangan yang melesat ketika kemarin aku tiba-tiba teringat tentang liburan yang kita habiskan bersama, sebelum kamu kembali ke kotamu dan aku tetap di kotaku. Namun itu tidak kulakukan. Entah mengapa.

Aku memang tidak jadi menulis tentang kamu. Tapi niatan untuk menulis tentangmu malah membuatku memikirkanmu. Aku tahu meski libur kamu masih berkutat dengan semua hal tentang penelitian yang kamu lakukan. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana kamu lupa makan, lupa tidur, dan lupa mengubah status Facebook karena tenggelam dalam data penelitianmu. Sejenak aku malah sedih memikirkan, aku bisa berleha-leha di hari libur sementara kamu harus bersibuk-sibuk dengan hipotesa dan hitungan untuk menyelesaikan penelitianmu.

Lalu aku teringat sebentar lagi Maret tiba. Artinya, perhelatan musik Java Jazz sudah tidak lama lagi. Satu acara yang tidak pernah kita lewatkan karena kamu sangat mencintai jenis musik itu. Sedangkan aku, aku hanya mencintai apa yang kamu cintai.

Saat ini di tanganku sudah ada dua tiket untuk menonton acara itu. Ingin sekali aku meminta kamu pergi bersamaku. Barangkali kebersamaan kita bisa membuatmu kembali menikmati kehidupan sesungguhnya; di luar dari semua percobaan-percobaan yang kamu lakukan, jauh dari makalah penelitianmu.

Kemustahilan itu membuatku meringis. Mengapa selalu terasa pedih jika memikirkanmu? Ini tidak sehat, kukatakan pada diriku. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu tentang kesendirianku. Sejak pertama kau utarakan keinginanmu untuk menjadi peneliti di negeri orang, aku tahu aku akan menjalani waktu-waktu dalam kesendirian. Tanpamu. Dan kalau kamu katakan itu yang terbaik bagi kita, aku bisa bilang apa lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s