Peran Perempuan Tanggulangi Kemiskinan

Kemiskinan memang tidak memiliki jenis kelamin tapi bisa dipastikan bahwa perempuan menjadi korban utama. Ironisnya, pemerintah tidak memandang inisiatif-inisiatif perempuan untuk menanggulangi kemiskinan itu.

Dalam laporan terkait pelaksanaan Millenium Development Goals (MDGs), pemerintah tidak pernah menyebutkan peran lokal perempuan dalam mengatasi kemiskinan. Padahal itu merupakan sumbangsih terbesar dalam pencapaian MDGs.

Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) Muhammad Firdaus dalam Konferensi Pers tinjauan Gerakan Masyarakat Sipil terhadap Beijing Declaration and Platform for Action pada Kamis (04/03), di Jakarta. Dalam konpres itu hadir juga Ketua Perhimpunan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat (PPKM) Titik Hartini, Ulfa dari KAPAL Perempuan, Rach Alida Bahaweres dari Aliansi Jurnalis Independen, dan Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia Dian Kartikasari.

“Kami melihat banyak program kemiskinan bersifat umum (tidak bersifat lokal), tidak mempertimbangkan suara perempuan, dan selalu dalam bentuk amal seperti Bantuan Langsung Tunai. Hal ini tidak mendidik dan netral gender,” kata Firdaus.

Artinya, menurut Firdaus, pemerintah tidak memilah siapa yang miskin, apakah laki-laki atau perempuan. Dalam hal ini seharusnya pemerintah menyediakan data terpilah untuk melihat masyarakat miskin. Sebab, ada perbedaan strategi untuk menanggulangi kemiskinan yang dialami laki-laki dan perempuan.

Tinjauan 15 Tahun Implementasi BDPfA

Beijing Declaration and Platform for Action (BDPfA) merupakan salah satu kesepakatan yang diambil pemerintah Indonesia dalam komitmennya membangun kualitas hidup bangsa, khususnya kaum perempuan. BDPfA disahkan dalam The Fourth World Conference on Women di Beijing pada 4-15 September 1995.

Dalam BDPfA tersebut, ada 12 bidang kritis yang diharapkan menjadi prioritas negara untuk memajukan perempuan dan anak Indonesia. Kedua belas bidang kritis ini mencakup persoalan kemiskinan, ketidaksetaraan akses kesehatan dan akses pendidikan, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia.

Setelah 15 tahun BDPfA berjalan, jaringan advokasi yang menamakan dirinya Gerakan Masyarakat Sipil melakukan tinjauan terhadap kesepakatan tersebut. Gerakan ini terdiri dari Koalisi Perempuan Indonesia, PPMK, KAPAL Perempuan, ASPPUK, AJI Indonesia, enet for Justice, dan Yayasan Kesehatan Perempuan.

“Dalam pandangan kita, masyarakat sipil di Indonesia, seluruh kerangka dalam BDPfA pada awalnya menjadi pijakan pemerintah untuk menyusun rencana aksi pemberdayaan perempuan,” kata Dian.

Sejumlah undang-undang diciptakan untuk mengatasi 12 bidang kritis itu. Namun pada sisi yang lain, Koalisi Perempuan Indonesia menemukan ada 156 perda yang diskriminatif terhadap perempuan.

“Kita melihat proses penyusunannya seperti penjiplakan (copy and paste) saja. Contohnya perda tentang perlindungan anak, kekerasan dalam rumah tangga, dan pelacuran,” ujar Dian lagi.

Hal ini, menurut Dian menyatakan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani 12 bidang kritis yang harus ditindaklanjuti itu. Padahal jika 12 bidang itu diimplementasikan dengan baik maka target MDGs juga akan tercapai.

Untuk itu, gerakan ini merekomendasikan revitalisasi implementasi BDPfA ke dalam rencana Induk Pemberdayaan Perempuan. Ke depannya pemerintah harus punya target capaian dan kerangka waktu yang jelas dalam rencana itu.

Selain itu, pemerintah di berbagai kementerian dan pemerintahan daerah didorong untuk mengintegrasikan BDPfA dan MDGs ke dalam Rencana Strategis Pembangunan jangka panjang, menengah, dan tahunan. Hasil tinjauan dari gerakan ini, kata Dian, akan dipaparkan dalam sidang ke-54 Komisi Status Perempuan (Comission Status of Women) di kantor pusat PBB New York, Amerika Serikat, yang berlangsung pada 2-13 Maret 2010. (mg-2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s