My dear (3)

In the middle of Jakarta Bay

060310 – 07.35

My dear,

MP3 Samsung yang merah muda ini memainkan lagu kita, “Let My Love Open the Door” dari Sondre Lerche. Can you believe it? Why now? Why our song?

When people keep repeating

That you’ll never fall in love

When everybody keeps retreating

But you can’t seem to get enough

Let my love open the door

Let my love open the door

Let my love open the door

To your heart

Kamu datang di saat hati tak mampu lagi mengucap cinta. Ketika apa yang kukira indah ternyata semu. Cinta yang kukenal dulu hanya permainan untuk mendapatkan status. Semua berubah, ketika cintamu membuka pintu hati yang sudah kugembok dan kuncinya hilang ke mana entah. Namun, beruntungnya aku, kamu menemukan kunci itu.

***

Punggungku ditepuk pelan. Aku menoleh. Bapak yang duduk di samping kiriku tersenyum, memulai percakapan. Uhh. Tidak tahukah ia aku sedang menikmati laut lepas ini dengan khusyuknya? Tapi tak mengapa, cukuplah kesenduanku. Ini saatnya aku berinteraksi selain dengan diriku.

Si bapak ini ternyata orang pemerintahan di Pulau Panggang, pulau yang bersebelahan dengan Pulau Pramuka yang akan kukunjungi. Pak Yusuf namanya. Setelah tanya-tanya sedikit tentang asal-usulku, ia langsung jadi non-official public relations guide of Seribu Archipelago (eh, bener gak sih ini bahasa Inggris untuk Kep.Seribu? hehe.)

Pulau pertama yang dicapai kapal ini disebut Pulau Bidadari. Kata Pak Yusuf, pulau ini salah satu pulau yang jadi tujuan wisata. Dari jarak 20 meter, aku memang melihat jajaran bangunan seperti hotel. Katanya lagi, di situ ada benteng peninggalan Belanda. Namun, tinggal separuh.

Kalau mau lihat benteng Belanda yang lebih jelas ada di Pulau Onrust, dek. Di situ bentengnya masih utuh. Kelihatan gak dari sini?” kata Pak Yusuf sambil menunjuk dengan tangan kirinya yang hitam legam.

Di sebelah Pulau Bidadari, ada Pulau Onrust. Dari jauh kelihatan pasirnya putih. Ah, aku semakin tidak sabar bermain-main di pasir putih.

Aku cuma tersenyum. Kabut pagi itu lumayan memperpendek jangkauan pandangku. Lagipula, mana aku tahu dengan jelas seperti apa benteng peninggalan Belanda itu. Aku hanya bisa lihat bangunan dengan atap putih. Kata Pak Yusuf sih, itu dia yang namanya benteng Belanda.

Secara pribadi, aku akan enggan memilih Pulau Bidadari untuk berwisata. Perairan di sekitarnya kotor sekali. Karena jaraknya yang paling dekat dengan Muara Angke ataupun Marina Ancol, pulau ini tercemar parah. Airnya saja sampai menghitam. Liburan di pantai macam apa kalau airnya tidak membiru?

Kemudian kapal kami melaju melewati pulau-pulau di Seribu. Setiap melewati satu pulau, Pak Yusuf tidak pernah lupa memberi penjelasan tentang apa isi pulau itu, sekaligus sejarah singkatnya.

Tidak semua aku ingat. Kep. Seribu, yang jadi kabupaten pada 2001 itu punya ratusan pulau. Kalau tak salah, Pak Yusuf menyebut angka 113 untuk jumlah pulau di Seribu. Hahh. Cuma 113 pulau kok ngasih nama Kepulauan Seribu, pikirku.

Ada satu pulau yang cukup menarik dan aku ingat. Namanya Pulau Rambut. Anehnya, pulau itu bukannya penuh dengan rambut atau apa, tapi pulau itu dipenuhi berbagai jenis burung. Malah, kata Pak Yusuf, pulau itu menjadi semacam tempat konservasi burung. Waktu kapal kami melewati Pulau Rambut itu, aku melihat sepasang Bangau terbang menjauhi pulau. Ah, kenapa harus sepasang? Memang kalau sendiri kenapa? Lho, kenapa jadi bertanya-tanya seperti itu?

Aku juga ingat Pak Yusuf menyebut nama Pulau Untung Jawa. Unik sekali sih nama tiap pulau. Ada apa di pulau ini? Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pulau-pulau lain, Pulau Untung Jawa juga merupakan tempat wisata. Di situ kita bisa menikmati hidangan laut diselingi pemandangan cantik di saung-saung di pinggiran laut.

Setelah melewati Pulau Untung Jawa, perjalanan hanya menyuguhkan air laut dan langit yang membiru. Di sisi kanan dan kiri kapal, sesekali ikan terbang yang mungil-mungil itu menunjukkan kelihaiannya. Cantik sekali.

Oh iya, kata Pak Yusuf, kadang-kadang pengunjung bisa melihat lumba-lumba kalau lagi beruntung. Dalam hati aku merasa Pak Yusuf memberi harapan palsu. Mana mungkin ada lumba-lumba di tengah kabut begitu, pikirku.

Matahari mulai menunjukkan taringnya. Sinarnya menyegarkan sekaligus menyengat sedikit. Aku ambil jaket dari tasku. Takut menghitam (seperti air yang di Muara Angke itu, euwww) aku pakai jaketku. Pak Yusuf belum berhenti berbicara.

Kali ini dia ceritakan pengalamannya di sekolah dengan guru dari suku Batak. Mungkin karena sedang bersebelahan dengan gadis Batak, nadanya memuji. Katanya, guru-guru yang orang Batak itu tegas sekali tapi tidak pernah mendendam seperti guru-guru ehmm Jawa. Aku tidak kasih banyak komentar. Aku biarkan saja ia bernostalgia. Toh, ia tak butuh aku dalam ceritanya. Aku tak terlibat.

Di benakku, aku teringat liburan kita terakhir, my dear. Hanya dua hari memang, tapi aku masih ingat tiap detil. Ramai-ramai memang, tapi aku merasa hanya ada kita berdua di kota itu. Sudahlah, aku tidak mau ikut-ikutan bernostalgia seperti Pak Yusuf.

Setelah sekitar tiga puluh menit diterpa sinar matahari, tampaklah tiga pulau yang cukup besar itu: Pulau Pramuka, Pulau Panggang, dan Pulau Karya. Ketiga pulau ini letaknya membentuk segitiga. Kata Pak Yusuf, tinggal naik ojek laut (atau sebut saja kapal kecil) dan membayar 3000 rupiah, kita bisa jalan-jalan ke tiga pulau itu.

Kapal kami merapat ke dermaga. Waktu itu, suasana di Pulau Pramuka cukup ramai. Aku dan setengah isi kapal turun di dermaga. Setelah turun aku melambai sebentar ke Pak Yusuf. Setengah berteriak dia waktu mengundang aku main ke Pulau Panggang.

Datang aja ke rumah saya. Ada di bagian depan Panggang. Tanya aja sama penduduk sana, Yusuf yang orang pemerintahan,” aku mengangguk pelan dan merasa geli melihat dia di atas kapal setengah teriak.

Aku mengiyakan walau dalam hati ragu untuk berkunjung. Aku di sini kan bukan sepenuhnya liburan. Waktuku di sini juga kurang 24 jam. Apa mungkin sempat bertandang ke rumah bapak itu?

Oh my dear, aku sudah sampai. Pulau yang cuma aku dengar dari cerita Pak Yusuf sudah kupijak. Di sinilah my dear, sampai besok pagi aku akan menghabiskan waktu.

Air laut yang membiru seperti menggoda untuk kuselami. Teman yang bersamaku menggandeng tanganku.

Inget ya Tun, kita di sini buat penelitian gw. Gak ada berenang-berenang sebelum gw dapet Sargassum gw,” katanya mengajakku ke Balai Taman Nasional. Di mess balai itu kami akan menginap malam ini.

Sabar ya,” kubisikkan pada laut yang ombaknya sangat tenang itu. Pagi yang indah di dermaga Pulau Pramuka. Dan oh, maafkan aku, my dear, tapi pulau ini ternyata tidak kurang sempurna meski kamu tak ada di sini menikmati semua ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s