My dear (4)

Pramuka Island

060310 – 10.00

My dear,

Aku dan temanku ini sudah sampai di Balai Taman Nasional Kep. Seribu. Kami sedang menunggu Pak Sugeng, ketua balai ini. Temanku mau tanya-tanya perihal penelitiannya dan jenis rumput laut yang dicarinya.

Lima detik berada di tempat ini kamu pasti menyadari sesuatu yang beda. Matahari sudah cukup garang, meski ini baru pukul 10.00. Tapi kamu tahu, my dear, meski padat penduduk, pulau ini sangat sepi.

Tidak ada suara klakson dari mobil-mobil yang bisa bikin bising telinga. Tidak ada suara deru kendaraan bermotor yang hanya bisa menyisakan asap mengepul. Bahkan, tidak ada suara televisi dengan volume maksimum seperti yang kudapati hampir tiap detik di kosanku. Tidak ada itu semua. Pagi di Pulau Pramuka sungguhlah hening.

Aku tersenyum menyadari semua ini. Kamu tahu dengan pasti, aku dan hening seperti bersahabat akrab. Aku suka keheningan. Karena hanya dalam hening aku bisa dengan jelas mendengar suara-Nya. Dalam hening pula, aku menemukanmu.

Saat itu, kala penumpang pesawat lain tertidur pulas, kamu masih terjaga dengan sebuah majalah ekonomi di depanmu. Kalau saja aku tak memalingkan pandanganku dari awan-awan putih di luar pesawat, aku tidak akan menoleh dan mendapatkanmu. Pria yang paling mengerti aku dan semua yang ada padaku. Satu lagi, hening bikin karakter melankolisku sangat menonjol. Aku suka ini. Aku suka pulau yang hening ini.

Pak Sugeng akhirnya datang. Setelah bercakap-cakap untuk memberi penjelasan pada temanku, ia mempersilahkan kami memasuki satu mess di situ. Kamar kecil dengan dinding kayu bercat hijau dan putih itu akan jadi tempat menginap kami malam ini. Sedihnya, hanya untuk malam ini. Besok pagi kami sudah harus hengkang dari pulau yang hening ini.

Ternyata, jenis rumput laut yang dicari temanku untuk penelitian gampang ditemui di Pulau Panggang. Ingat kan, pulau tempat tinggal Pak Yusuf, yang bisa ditempuh dengan naik ojek laut itu. Oh, fakta yang menyenangkan. Berarti aku bisa melihat-lihat pulau itu. Aku hampir menari-nari kegirangan.

Untuk sampai ke Pulau Panggang, kami ditemani Bang Sidik. Pria asli Pulau Panggang dan berkaca mata itu sangat ramah. Jarang ia berhenti bicara. Dia tahu betul kondisi Pulau Panggang. Malahan, dia sering jadi pemandu bagi turis lokal maupun mancanegara yang datang ke Pulau Panggang.

Bang Sidik yang akan segera meninggalkan perairan yang sangat cantik itu. Semoga ada yang membujuk dia untuk tetap tinggal di Kep.Seribu🙂

Sayangnya, dalam perjalanan dari Pulau Pramuka ke Pulau Panggang, Bang Sidik bercerita tentang rencananya pindah ke Jakarta. Katanya, mumpung masih muda, dia ingin cari pengalaman.

Aku hanya berdoa dalam hati. Semoga orang seperti Bang Sidik ini tidak banyak jumlahnya di Kep. Seribu. Mau jadi apa masa depan kabupaten ini kalau generasi mudanya tidak mau membangun daerah sendiri? Apa Jakarta sebegitu menggiurkannya sampai dia memutuskan pindah?

Ketika aku tanya mau cari kerja macam apa, dia jawab, “Apa ajalah.” Aku cuma bisa tersenyum kecut. Apa pulau ini kurang menantang untuk dieksplorasi? Kenapa orang justru mendambakan kota yang padat penduduk dan bising setiap saat? Ah, aku tidak cukup mengerti, my dear.

Sama seperti aku tidak mengerti keputusanmu untuk pindah ke negeri orang. Bukan karena negara ini sangat menyedihkan untuk ditempati. Tapi itu panggilan, katamu. Kamu meyakininya dan aku hanya bisa mendukung. Walau itu berarti, kita mengambil jalan berbeda.

Ah, kita sudah pernah bahas ini. Aku juga pernah bilang, “Kamu di sana, aku menjalani hari-hariku di sini. Kamu ditemani orang-orang yang bersamamu, aku puas dengan teman-temanku di sini. Apa kamu juga tahu ke mana ini semua akan berujung?”

Baiklah, perahuku sudah merapat di dermaga. Petualangan mencari Sargassum itu pun dimulai. Semoga tidak berlarut-larut seperti petualangan cinta kita😛

One thought on “My dear (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s