My dear (5)

Panggang Island

060310 – 13.15

On the phone

My dear, aku lagi di Panggang,” kataku antusias.

APA???” kaget setengah hidup.

Iya nih, aku udah ga di pulau yang tadi. Aku udah di Panggang,” tambah antusias.

MAKSUD KAMU APA SIH?”menjadi-jadi kagetmu.

My dear,

Percakapan di telepon waktu itu sungguh lucu. Aku geli kalau ingat kamu terdengar sangat panik mendengar aku yang antusias dengan isi percakapan kita yang penuh salah paham itu.

Hujan sedang deras-derasnya. Aku dan temanku ini berteduh di rumah Bang Sidik. Begitu hujan reda, kami akan kembali ke Pulau Pramuka. Sembari menunggu hujan lelah menyirami bumi, aku sengaja telepon kamu. Menyatakan kegembiraanku mendapat pengalaman baru.

Untuk mengambil rumput laut yang dibutuhkan temanku, Bang Sidik mengajak kami snorkelling dengan peralatan dari Balai Taman Nasional. Kami tiba di perairan Pulau Panggang dengan peralatan lengkap: goggles, snorkel, dan booties. Sayangnya kami tidak membawa alas kaki yang seperti telapak kaki katak itu. Padahal kata Bang Sidik, kalau pakai itu, berenang akan jauh lebih menyenangkan mudah.

Hampir sejam kami mencari jenis rumput laut untuk penelitian temanku itu. Setelah dapat dua kantong laut rumput laut, Bang Sidik mengajak aku dan temanku berenang dan juga mengajari teknik menyelam.

Kalau saja bisa menari-nari di tengah perairan itu, aku pasti nari-nari waktu itu. Sayangnya, temanku ini tidak begitu intim dengan air. Meski bisa berenang, dia tidak segembira aku mendapati diri di antara batu-batu karang yang cantik itu.

Bukti bahwa aku pantas berzodiak Aquarius ialah: aku tidak pernah bosan berenang-renang meski booties menyulitkanku, aku tahan napas cukup lama di dalam air (kata Bang Sidik), dalam waktu singkat aku bisa mempraktekkan teknik diving tanpa ragu, dan aku berani waktu Bang Sidik menantangku menginjak batu karang, yang sudah dekat dengan lautan dalam.

You should see it, my dear. The water is so dark and deep. Saking gelap dan dalamnya, kamu gak akan bisa melihat dasarnya (ya iyalah, wong dalemnya aja sampe 30 meter gitu lho!).

Jadi batu karang ini jadi semacam batas antara pinggiran laut dan bagian tengahnya. Kali pertama berenang dan menginjakkan kaki di karang itu, aku mau mati karena panik. Untungnya aku bisa menenangkan diri walau sekejap. Hanya beberapa detik aku sanggup berdiri di karang itu. Cepat-cepat aku beranjak dari situ, berenang ke tempat yang dangkal.

Kali kedua, nyaliku sudah cukup matang. Berdiri cukup lama di karang itu. Bang Sidik malah pamer keterampilan menyelamnya. Ia menyentuh karang di kedalaman 10 meter. Dalam hati aku berdoa supaya dia cepat balik. I was so terrified, my dear. I even whispered your name, hoped you came and saved me from the water.

Okay, itu cuma reaksiku yang lebay. Toh, Bang Sidik cuma beberapa detik meninggalkanku sendirian tanpa perlindungan di atas karang itu. Begitu balik, aku memuji-muji dia dengan mengarahkan jempolku ke hadapannya. Aku bisa lihat dia senyum. Bangga.

Kali ketiga, aku semakin percaya diri. Tanpa panik sama sekali. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik? Dua kali berdiri di karang itu, aku tahu dia takkan mencelakakanku, seperti Tuhan kita, Sang Batu Karang yang Teguh. (Di atas batu karang Ia mendirikan jemaat-Nya dan alam maut tidak akan menguasainya – Kitab Matius katakan itu pada kita).

Tadinya, Bang Sidik menawarkan naik kano untuk kembali ke Pulau Pramuka. Tapi temanku, yang tidak akrab dengan air ini, menolak. Sayang sekali, my dear. Padahal aku sudah antusias menyambut tawaran Bang Sidik itu. It’s okay. Lagian, aku juga tidak berani mengancam “nyawa” SLR-ku jika harus membawanya menyeberangi laut dengan kano.

Satu hal lagi, aku tidak merasa lelah sama sekali. Apa betul perairan itu candu? Setelah selesai menyelaminya, kamu bisa ketagihan? Yang pasti, aku sudah mengharap liburan berikutnya, pantai berikutnya, penyelaman berikutnya. Semoga saja ada hal-hal itu.😀

Hujan hampir selesai menunjukkan kuasanya. Percakapan kita harus diakhiri. Aku kembali ke Pulau Pramuka. Dengan kenangan akan pengalaman baru, dengan kenangan akan percakapan kita. Di situ, aku mengucap perpisahan pada Pulau Panggang. *waving*

P.S: Tahukah kamu asal-muasal nama Pulau Panggang? Jadi, kata warga setempat, dulu kala, ketika bajak laut merajalela di Kepulauan Seribu, mereka gemar mengeksekusi tawanannya di pulau ini. Aku tidak begitu jelas mereka itu kanibal atau apa. Yang pasti, mereka selalu memanggang korban mereka. “Dibakar kayak kambing guling itu lho, Mbak,” kata seorang warga. Menelan ludah. Aku bergidik ngeri. Goodbye is goodbye, Panggang Island.😛

P.S.S: Sebelum kembali ke Pulau Pramuka, Bang Sidik menunjukkan Kuda Laut berwarna kuning (kuda laut warnanya KUNING. YESSS!) pada kami. It was so small and cute. Jadi inget, Sea Horse is the most romantic creature ever. Bayangkan, kalau punya pasangan, dia takkan berpisah dengan pasangannya itu. Hanya maut atau tangan-tangan jahil (baca: tangan manusia) yang bisa memisahkan pasangan Kuda Laut. Romantic, isnt it? Dan yang mengalami masa reproduksi pada Kuda Laut adalah si jantannya. Hahaha. Random. Funny. God’s work.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s