My dear (7)

At the pier of Pramuka Island
07.03.10 – 06.30

My dear,
This is it. I have to leave now. Tidak rela meninggalkan pulau yang indah ini. Laut yang biru seperti membujukku untuk tetap tinggal. Sedihnya, waktuku sudah cukup. Umm, sebenarnya aku masih tinggal beberapa jam lagi di sini, menanti waktu keberangkatan berikutnya, siang nanti. But if so, I would not gonna make it to Java Jazz Festival tonight. Dan bukankah aku butuh musik dalam keramaian untuk menghilangkan jejakmu yang begitu lekat dalam hati dan logika? Kadang-kadang aku bisa benci juga keheningan. Terutama ketika hening itu malah menghantarkanku pada pikiran tentangmu. Aku benci menyiksa diri seperti itu.

Sebelum kapal datang, aku abadikan sudut-sudut perairan dan pulau ini serta pulau di sekitarnya dengan SLR-ku. Ah, seandainya SLR-ku secerdas mata pemberian Tuhan. Mungkinkah ia bisa mengabadikan semua pemandangan cantik ini seperti mataku menncengkeramnya dalam pikiran?

Itu dia kapalku datang, my dear. Tidak perlu pakai tangis . Aku tahu sang pulau juga tak rela melepasku pergi. Well, kuharap sih dia masih sedia menerimaku ketika ada lain kali. “Kalau Tuhan berkehendak, kita jumpa lagi,” kataku pelan pada sang pulau ketika kapalku menjauh dari dermaga. Aku tersenyum puas, mengatakan hal yang sama seperti yang pernah kamu katakan padaku.

Tiba-tiba kenangan akan perpisahan kita berkelebat dalam bayanganku. Saat itu mataku basah karena menangis terus-menerus. Saat itu aku tak sadar bahwa aku sedang melepas peranmu dalam hidupku. Kamu bukan lagi milikku. Bukan lagi lelaki-ku. Kamu sudah jadi milik penelitian entah apa itu yang katamu berkontribusi banyak bagi masyarakat. Sejenak aku pikir kamu kejam dan tak mau tahu perasaanku. Tapi siapa aku mendebat logikamu yang genius itu?

Dan waktu seorang sahabat memintaku untuk melupakan kamu yang sudah pergi, aku hanya bisa menjawab seperti ini: “Bukan pertemuan kami yang kusesali. Bukan juga perpisahan. Toh kami akan bertemu jua. Ia pergi bukan tiada kabar. Aku hanya tak menyadari ia tidak sepenuhnya serius dengan apa yang ia ucapkan. Atau aku saja yang butuh bukti?”

Lalu sahabatku itu terus saja bilang tak habis pikir denganku dan bertanya apa lebihmu. Dengan pasti aku jawab: ”Karena ia telah menyusup ke sela-sela hati sementara yang lain hanya sanggup mengisi sela-sela jari.” Untungnya jawab itu buat sahabatku tak pernah lagi ribut soal aku yang belum saja bisa tutup buku tentang aku dan kamu. Belum saatnya, my dear. Tapi aku tahu, akan ada waktunya. Aku tidak mau berpayah-payah berargumentasi dengan waktu. Di sini aku hanya berupaya beriringan dengan waktu. Mencoba berdamai kala ia tertatih-tatih mencapai saat aku yang sungguh-sungguh tanpamu.

P.S: Mungkin di lautan di seberang sana kamu menatap perairan dengan cemas berharap aku datang padamu. No, my dear. I am waiting for you. Not you are.

One thought on “My dear (7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s