How come bad things happen to good people?

Tuhan, aku kan rajin ke gereja dan persekutuan, ga pernah lupa kasih persepuluhan, tidak pernah punya niat buruk terhadap sesamaku, bahkan aku mendoakan mereka selalu. Terus kenapa aku yang Tuhan pilih untuk menjalani ujian ini? Kenapa orang tuaku harus Engkau panggil secepat ini?
***
Kenapa yah, keluarga X yang bahkan tidak peduli dengan relasi dengan-Mu punya hidup yang mewah, bisa jalan2 ke luar negeri kapan aja mereka mau, sedangkan aku, yang tiap hari baca Alkitab dan sepenuh hati meminta berkat dan kebaikan Tuhan justru ga sanggup menyekolahkan adikku ke sekolah yang bagus?
***
Firman-Mu katakan aku warga Kerajaan Sorga, tapi sampai sekarang aku ga pernah tuh merasakan kemewahan yang jadi gaya hidup orang-orang yang tidak kenal sama Tuhan. Kenapa bisa begitu, Tuhan?

***

Pernah mempertanyakan hal serupa seperti pertanyaan di atas, meski tak persis sama, dan diungkapkan hanya dalam hati atau pikiran? Sekarang tidak perlu lagi. Percayalah, orang Kristen tidak perlu lagi menggumulkan hal-hal yang cetek seperti itu.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya bisa dirangkum hanya dalam satu tanya: Mengapa orang baik menderita? Kamu orang baik, tapi pernah (malah sering banget banget banget) mengalami penderitaan? You are not alone, dear.

Semua pengikut Kristus pastinya mengalami penderitaan. Sebab, mengikut Yesus itu pada hakekatnya bukan perihal gampangan. Bukan suatu keputusan yang mudah untuk bisa menandatangani akte kematian terhadap dosa dan berbalik kepada jalan Allah yang benar dan kudus. Dan Allah kita juga bukan Allah yang memanjakan kita dengan hal-hal menyenangkan, yang bisa bikin kita jadi murid yang lemah dan dangkal dalam iman kepada-Nya. Mungkin kadang kita merasa menaati perkataan-Nya jadi suatu beban dalam hidup kita. Namun, apa itu berarti kita menderita?

Secara duniawi, kita mungkin berharap hal-hal baik terjadi pada orang yang baik. Mosok sih Tuhan tega memberikan sesuatu yang buruk pada orang yang sudah berbuat baik pada sesama? Kita sih pengennya orang baik mengalami hal-hal yang baik pula.

Sorry to say, that’s not what really happen, fellas. Hal-hal buruk juga terjadi pada orang-orang baik. Malangnya, orang-orang baik itu harus melihat fakta bahwa hal-hal baik justru dialami orang-orang yang jahat. Misalnya nih, kita tahu seseorang yang sering nyontek pas ujian, terus suka ngomongin temen di belakang, dan suka jelek-jelekin dosen kalo lagi nongkrong sama temen-temen, malah dapet IPK cum laude, punya temen yang gaul dan punya banyak link, bahkan dipuji sama dosen (yang dijelekin sama dia). It doesn’t make sense. Dengan cepat kita akan tanya sama Tuhan, “Emang Tuhan ga liat apa yang dia perbuat?”

Bersyukurlah kita, yang kenal sama Juru Selamat yang super duper bijaksana itu, karena firman-Nya menyediakan sudut pandang lain dalam melihat penderitaan. Ada tiga tokoh dalam Alkitab yang perlu dikasih jempol untuk kesetiaan mereka dalam menghadapi penderitaan sebagai anak Allah.

Kita pasti tahu kisah Ayub yang dicobai iblis di bawah “pengawasan” Tuhan. Nabi yang satu ini bener-bener contoh yang mantap ketika kita membicarakan ketabahan, kesetiaan, dan pengenalan yang mendalam akan Allah pencipta alam semesta.

kata Ayub: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Dalam ke semuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1: 21-22).

Ayub juga pernah berkata seperti ini, ketika istrinya menyuruh dia meninggalkan Allah. “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Ayub malah menyebutkan istrinya sebagai perempuan gila, karena mencoba membuat Ayub mengutuki Allah.

Di sini kita bisa melihat bahwa Ayub punya sikap iman yang benar dalam penderitaan. Hidup baginya, seperti uang logam punya dua wajah: kesenangan dan kesusahan. Ketika yang satunya hilang, maka koin itu tak lagi punya arti, tidak berguna lagi. Seperti hidup kita yang hanya akan bernilai ketika kita mau menjalani dua sisi kehidupan (senang dan susah) untuk kemuliaan Tuhan. Kalau Ayub bisa memuji Tuhan ketika hidupnya senang, tidak ada alasan baginya untuk mengutuki atau meninggalkan Tuhan ketika kesusahan menimpanya.

Tokoh kedua yaitu Yusuf. Orang Kristen juga tahu kisah Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri yang iri karena Yusuf dimanjakan ayah mereka, Yakub. Setelah dijual oleh saudagar, ia mengalami banyak penderitaan: ia dijadikan pembantu, difitnah oleh istri majikannya sendiri, bahkan sampai masuk penjara. Namun ia tidak mendendam. Ia tahu pasti bahwa ada rencana Tuhan yang indah di balik semua cobaan yang dihadapinya (baca Kejadian 45:7-9).

Tidak lengkaplah kita membicarakan kesetiaan tanpa menyebutkan nama Rasul Paulus. Tokoh yang disinyalir berkepribadian koleris ini tidak diragukan lagi kesetiaannya dalam menjalani penderitaan hidup. Mata jasmaninya melihat penderitaan, tapi mata rohaninya memandang tangan Tuhan yang menopang.

Bahkan Paulus berkata, ia senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika ia lemah, maka ia kuat. Dalam 2 Korintus 9 Tuhan menjawab Paulus:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Yang utama memang menjalin relasi yang intim sama Tuhan. Lho, kok gitu sih? Iya, karena ketika kita benar-benar mengenal siapa Allah pencipta dan pemelihara kita, ada sudut pandang yang benar dalam menghadapi penderitaan. Toh firman-Nya sudah sangat jelas bagi kita.

Hendaknya, PENDERITAAN tidak hanya MENIMPA kita, tetapi juga MENEMPA kita, menjadi pribadi yang kuat dan murni di hadapan tahta-Nya. Terakhir, Petrus juga ingatkan bahwa “Jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.” (baca 1 Petrus 2: 19-21). *plok plok plok*

Masih merasa berhak mempertanyakan mengapa orang baik menderita?🙂

P.S: Disarikan dari khotbah Pdt. Em. Jimmy Mc Setiawan (dari GKI Guntur, Bandung) pada Minggu, 21 Maret 2010, di GKI Samanhudi, Jakarta. Judul terinspirasi buku dari Harold Kushner “When Bad Things Happen to Good People”. Semoga ehmm, jadi berkat bagi kita semua  Hai orang-orang baik, menderita buat Tuhan yukkkk😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s