Taksir-Menaksir

Tun, dia bilang dia juga suka sama gw.

Satu kalimat curahan hati itu keluar dari teman baik yang sedang naksir-naksirnya, kagum-kagumnya, suka-sukanya (???) sama seorang oknum yang juga teman saya. Apparently, terungkap juga akhirnya bahwa si oknum itu naksir juga sama teman baik saya.

Turut bahagia untuknya? Tentu saja itu hal pertama yang terlintas dalam benak. Sungguh tiada yang lebih menyenangkan daripada melihat senyum teman baik saya itu merekah karena apa yang diimpikan terwujud. “A wish came true, dong?!” timpal saya padanya. Dia, lagi-lagi memandang saya dengan pipi merona.

Sesudah itu saya hanya bisa kasih masukan supaya dia tidak terburu-buru, menguji si oknum itu dulu, menguji perasaannya, apa Tuhan sudah kasih jawaban doa, apa oknum itu sesuai dengan kriteria yang dia bikin, dan bla bla bla…

Setelah kami berpisah, satu hal mengganggu pikiran saya. Ngngng, saya kok tak pernah mengucapkan kalimat serupa ya? Dalam kehidupan cinta saya (tsahhh *orang2 bergidik ngeri mendengarnya :-P), sejauh yang saya sadari, tak pernah saya merasakan balasan dari tepukan cinta saya. Tidak pernah sekali pun. (Devil voice of my own: Ke mana sih tangan cinta pria-pria di luar sana, gak lihat apa aku lagi menebar “tepukan cinta”? kok ndak mbales ya mereka? Ahahahahaaa! *devil laugh*)

Yang terjadi selama ini, saya naksir seseorang, dan orang itu malah naksir orang lain atau tidak ngeh kalau saya taksir, atau malah dia tahu dan mundur teratur dari kehidupan saya, tanpa bekas. Sebenarnya itu juga yang seringnya saya lakukan ketika ada yang (katanyaaaaaaa…) naksir saya. Kalau saya tidak sedang naksir orang lain, maka saya tidak percaya dia benar-benar naksir saya jadi saya tidak ambil pusing tentang keberadaannya yang naksir saya, atau saya ngeh dan saya mundur teratur dari kehidupannya, tanpa jejak.

Masuk akal sih. Kalau yang terjadi adalah seperti ini: saya atau dia duluan yang naksir, lalu kami sama-sama ngeh dan juga membalas perasaan itu (bukannya menghindar), maka saya tidak akan jadi single and very happy seperti sekarang. Iya toh?

Itulah mengapa saya tidak bisa memahami RAN yang bilang, “Kau buatku jadi gila, saat kau juga bilang suka padaku. Tak kuasa ku menahan, rasa bahagia, saat kau ucapkan cinta.” Kalau ternyata “lelaki yang di barat” sana bilang dia juga naksir saya, apa saya bakal jadi gila? Dan, apa pula itu tak kuasa menahan rasa bahagia?

So, let say, I am very lucky for He is not into me like I’m into him. Hehe. Saya tak mau jadi gila atau dengan konyolnya bilang tak kuasa menahan rasa bahagia kalau ternyata dia juga suka sama saya. (Terus nurani bilang: “Ah, itu mah bisa-bisanya aku aja cari alesan. Kalau emang pria platonis itu gak naksir sama aku, ya, karena aku gak selevel sama dia, gak bisa jadi pendamping yang sepadan, gitu lho.”) Doh!

P.S: Memperpanjang masa lajang mode: ONenONenON

3 thoughts on “Taksir-Menaksir

  1. tintun,, siapa tmnmu itu..
    cem2 kenal aku ma dia ya??
    hhaaa.. *naluri gossipku mli keluar..
    oia,, ak suka sama kalimat ketiga paragraf ke5..
    it reflects me closely..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s