Aku, Tina, dan Titik-titik Cahaya

Kami melewati jalan yang panjang itu. Jalan yang seperti tiada ujungnya, kadang membuat kami bosan melihat pohon di sisi kami. Kanan dan kiri kami sudah gelap. Matahari sudah tidak lagi menunjukkan sinarnya pada kami. Hanya remang cahaya lampu jalan yang kami dapati sinarnya.

Muncullah titik-titik cahaya itu. Di balik dedaunan yang rindang, kami memandang heran pada titik-titik cahaya itu. Kening kami mengerut beberapa saat sebelum aku memutuskan untuk mendekati titik cahaya itu. Lalu aku melihat Tina, seakan meminta persetujuan terhadap apa yang akan kulakukan selanjutnya. Tina tersenyum, tanda setuju.

Kulangkahkan kakiku menuju titik-titik cahaya itu. Dari satu tempat ke tempat yang lain mereka menebarkan cahaya mereka. Seperti mau pamer keindahan, pamer kecantikan. Tapi mereka memang indah, memang cantik. Jadi tindakan pamer mereka kami anggap sah-sah saja.

Aku merentangkan kedua telapak tanganku. Menengadahkannya hingga titik-titik cahaya itu berada di atas daun tanganku. Titik cahaya itu pun hinggap di salah satu telapak tanganku. Aku mengarahkannya pada Tina. Ia tersenyum manis sekali, seperti biasanya. Aku hanya bisa berkata kepada keduanya: Tina dan titik cahaya itu: “How beautiful.”

Terpesona, kami berdua memandangi titik cahaya itu. Butuh beberapa waktu, beberapa lalu, beberapa jenak bagi kami untuk mengagumi titik cahaya itu. Dia memang sangat indah. Titik cahaya yang benar-benar indah. Ya, ciptaan Tuhan memang indah.

Langkah kaki kami belum terhenti menyusuri jalan yang panjang itu. Titik cahaya itu masih menjelajahi telapak tanganku. Kubiarkan ia berjalan-jalan dari satu jari ke jari yang lain. Oh, ia pun merayap naik ke lenganku. Belum mau ia beranjak dari tubuhku. Apa ia juga menyukaiku seperti aku menyukainya? Aku hanya bisa berharap begitu.

Tina mencoba menyentuh titik cahaya itu. Tangannya yang halus diarahkan pada sang titik cahaya. Namun titik cahaya itu segera beranjak. Bergerak lemah ia dari lenganku, menghindari tangan halus Tina. “Wow,” kataku. Meski seperti tertatih-tatih, titik cahaya itu tetap sedap dipandang. Jejak pelan dan lemah itu masih saja memancarkan keindahan. Sinarnya bagai tak bisa redup meski ada yang hendak mengusiknya.

Tina menghentikan usahanya untuk memegang sang titik cahaya. Makhluk itu seperti tak tersentuh. Kini titik cahaya itu kembali ke dalam telapak tanganku. Kami masih asyik memandanginya. Kagum.

Titik cahaya itu berhenti sejenak. Pandangannya pada kami diikuti sinarnya di bagian belakang. Aku mengira ia sedang mengucapkan perpisahan. Sebab, segera setelah itu ia mengambil posisi terbang. Dikepakkan sayapnya lemah, namun sanggup mengangkat badannya ke udara. Sesaat ia melekat di bajuku. Akan tetapi ia lalu terbang menyusuri keremangan jalan sore itu. Tak lupa, kami juga melambai padanya. “Tidak selamanya memang kita bisa melihat keindahan seperti itu,” kataku pada Tina. Ternyata, hanya butuh sekian menit bagiku untuk menyukai titik cahaya itu. Sang titik cahaya yang indah. Sang kunang-kunang.

Dan kami pun melanjutkan perjalanan kami. Panjang memang tapi kami bersyukur masih bisa mendapat pemandangan titik-titik cahaya berkelebat di pinggir jalan yang kami lalui. Aku tak lagi berusaha menangkap satu titik untuk kutangkup. Biarlah hanya ada aku, Tina, dan titik-titik cahaya nan indah itu.

@copyright.suandi.simanjorang – 10 April 2010 – jalan sore-sore

P.S: Bang, gak mungkin ada dedaunan kalau kita jalannya di jembatan. Btw, we were not really at the bridge, right?😛 And ohh, firefly is english word for “kunang-kunang”. And umm, hehe, mau bilang, tapi malu. Hahahaaaa.. Semangat lah ya menanti jawaban dari Tuhan. Whoopssieee. Love is in the air, isnt it, Bang? LOL😛 *ngakak banget aku*

4 thoughts on “Aku, Tina, dan Titik-titik Cahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s