Kakak yang Menggaet Bule Ini

“Aku harap aku ada di Mandoge sekarang ini,” kataku dalam hati dan logika. Kalimat itu tiba-tiba menyeruak ketika aku baru saja menyelesaikan sepuluh bab di buku Lady in Waiting. Mandoge itu sebuah daerah di dekat Pematang Siantar (Sumatera Utara) sana. Aku tak pernah ke sana, pun tak tahu persisnya Mandoge itu di mana. Namun saat ini, Mandoge menjadi tempat utama yang padanya ingin aku menjejak.
***
Di suatu siang, awalnya aku berencana tidur sebentar supaya energiku penuh waktu malam hari sehingga bisa mengerjakan banyak tugas hingga pagi menjelang (waktu kesukaanku). Mata tak kunjung menutup dan alam bawah sadar seperti tak menerima kunjunganku siang itu. Jadilah aku terus membaca buku yang bagus itu hingga tiba-tiba tersadar, esok hari, seorang kakak yang pernah sangat dekat denganku, akan menikah. MENIKAH. Kata-kata itu sering disebutkan buku yang kubaca. Mungkin itu yang membuatku teringat akan pernikahan Kak Joy/Nova/Kristin/Tiur.

Kakak sejuta nama ini pernah menjadi teman sekamarku di masa-masa terakhir kuliahnya. Aku ingat hari itu, dia menginap di kamarku, dalam keadaan setengah sehat. Di pagi hari, tiba-tiba ia menanyakan pertanyaan krusial, yang tak pernah ditanyakan seseorang padaku sebelumnya, “Dek, gimana kalau kita sekamar aja. Sebentar lagi kan aku lulus. Repot kalau harus pindah kosan lagi.” Aku, yang waktu itu, jujur saja belum mengenal dia dengan dekat (padahal sudah 2 tahun tinggal di kosan yang sama, hehe) langsung mengiyakan.

Sampai saat ini, ketika aku ingat hari itu dan keputusan yang kuambil, selalu saja aku tidak menyangka. Aku ini orang yang penuh pertimbangan. Belum lagi kadang-kadang, dengan nakalnya, aku menimbang sesuatu berdasarkan untung-rugi. Tapi waktu itu, ketika kakak yang sampai saat ini kupanggil Kak Joy menanyakan kesediaanku menerimanya sebagai teman sekamar, aku tidak pikir panjang dan mengiyakan. Jauh di dalam hati dan pikirku, aku tahu aku tidak bisa menolak. Aku yakin bukan karena aku segan (dia angkatan 2003 dan aku 2006). Bukan juga karena aku butuh seseorang untuk bersamaku sebagai teman sekamar (aku malah seringnya senang sendirian). Aku bersyukur karena keputusan menerimanya sebagai teman sekamar adalah salah satu keputusan tepat yang pernah aku buat.

Selama hampir setahun bersama Kak Joy di Pondok Monica kamar 26, tentunya banyak hal yang kudapatkan. Awal-awalnya sih sulit bagiku untuk berbagi sepenuhnya. Sungguh bukan hal yang mudah untuk pulang ke kosan dan mendapati ada orang lain yang juga jadi tuan atas kamar yang kudiami. Puji Tuhan karna pertolongan-Nya nyata atas aku dan dia sehingga sampai sekarang kami masih berhubungan baik. Meski secara formal dia bukan kakak rohaniku, tapi aku bertumbuh ketika aku menjalani hari-hari bersamanya. Ada masa-masa kami menjadi sangat dekat dan berbagi banyak cerita. Ada juga saat-saat kami diam tak banyak bicara karena masalah pribadi kami. Ada masa-masa aku membutuhkan pertolongan dan dia ada untuk mendukung dan membantuku. Ada juga masa-masa dia memerlukan bantuanku dan aku dengan senang hati membantu. Ada masa-masa aku dengan keterbatasanku tak bisa membantunya, begitu juga sebaliknya. Tapi tak pernah kudapati satu pernyataan menyesal dariku atau dirinya karena kami pernah menjalani waktu yang begitu lama dalam satu atap.

Aku pernah membayangkan Kak Joy itu sebenarnya salah satu “malaikat” yang Tuhan kasih untuk membimbing aku menjadi orang yang lebih baik. Secara tidak sadar, aku bisa bertumbuh karena melihat teladan yang ia berikan. Dia tidak sempurna, aku tahu dengan pasti. Tapi ketidaksempurnaannya pun mampu membuat aku melihat kasih Tuhan nyata atasnya. Hampir setahun kami bersama, Kak Joy dengan setia mengajariku hal-hal yang telah ia alami sebelumnya. Bukan hanya dari perkataannya, tapi juga dari semua yang dia lakukan untukku dan orang-orang di sekitarnya. Apa aku juga melakukan hal yang sama? Percayalah, pertanyaan itu sering kali kutanyakan pada diriku. Mungkin suatu saat akan kutanyakan pula padanya.

Besok dia akan menikah di Mandoge. Itulah mengapa aku bilang aku sangat ingin berada di Mandoge sekarang ini. Aku harap aku bisa berada di sampingnya. Membuatnya tenang karena aku tahu pernikahan punya kekuatan membuat seorang perempuan (atau lelaki) gugup setengah mati. Atau sekadar mengekspresikan sukacitaku karena ia telah memenuhi salah satu panggilan Tuhan baginya untuk menikah. Aku percaya dia sudah sangat siap untuk menerima Steve (tunangannya) dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki bule asal Melbourne, Australia itu. Aku percaya, Kak Joy yang kukenal adalah perempuan paling siap untuk memulai suatu keluarga. Dia telah menunjukkan kesiapannya selama ini.

Selamat menempuh hidup baru, Kak Joy. Seperti yang dikatakan Pastor pada pernikahan kakakku (tiga hari sebelum hari pernikahanmu), biarlah Kristus yang menjadi pemenang dalam keluargamu. Ahhh, ingin sekali menyusulmu menikah, oopsss, maksudku ke pernikahanmu di Mandoge sana.😛


P.S: I believe God will help her through the sunshine and rain in her new family. May God bless her wedding preparation and her very big day. I wish I was there, seeing her in lovely wedding-gown smiling cause she knows exactly Steve is the right man for her. And sure I wish there will be an invitation to visit her in Aussie😀

**26042010**

5 thoughts on “Kakak yang Menggaet Bule Ini

  1. Ping-balik: Tweets that mention Kakak yang Menggaet Bule Ini « Hati dan Logika -- Topsy.com

  2. udah pulang lagi, mel..🙂
    kemaren itu aku kirain bisa lama di medan, eh, taunya ad kuliah Seminar. Ga jadi ikut deh. Padahal aku hampir jadi pengiring pengantin. Hehe..

    serius ga tau mandoge?
    eh, kalo kata kak joy, kalo mau bilang mandoge harus bilang “santabi..” lho..
    ga sopan kalo menyebut mandoge tanpa santabbi.. hihi..
    *tanya kenapa*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s