Karya Tulis untuk Saya

Beberapa orang (baca:pria) pernah mengirimi saya tulisan (sajak, puisi, cerpen, artikel, dsb). Saya tidak begitu paham mengapa. Maksud saya begini, saya tahu persis tujuan mereka mengirimi tulisan-tulisan itu. Tapi saya tidak mengerti benar mengapa harus tulisan.

Menurut analisis saya sih: (1) karena mereka pikir saya bisa menulis. Mungkin dengan begitu mereka berasumsi saya juga akan menghargai tulisan yang mereka tujukan buat saya; (2) mereka memang jago menulis. Itu kelebihan mereka dan mereka ingin menunjukkan “kehebatan” itu pada saya; dan (3) mereka tidak punya modal untuk membelikan bunga atau hadiah-hadiah lain atau mengajak saya “jalan” (hehe!).

Beberapa dari pria itu memang punya latar belakang sastra (oh, percayalah, mahasiswa-mahasiswa Sastra Indonesia itu kadang-kadang bisa sangat menyebalkan karena mengirimi tulisan dengan diksi-diksi yang bikin tidur saya diselingi mimpi buruk). Yang lainnya, membuat saya sedikit terkagum karena ternyata tidak hanya “anak” Sastra yang bisa bikin tulisan bagus.

Anehnya, terkadang, entah mengapa, saya merindukan tulisan-tulisan seperti yang pernah dikirimkan ke saya. Rangkaian kata yang kadang konyol tapi selalu berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri. Diksi-diksi yang cerdas sekaligus menggelitik. Kalimat-kalimat yang ngejelimet tapi ketika saya dapati artinya menjadi lumayan manis. Ide tulisan yang membuat saya jadi tokoh utama yang punya makna. Yeah, I kinda miss it. Only sometimes.

Tunggu dulu. Bukan berarti saya senang digombalin. Seringnya sih tulisan-tulisan itu bukan bikin saya jadi melayang ke langit ketujuh. Malah saya jadi sering bertanya-tanya, kekuatan apa yang menggerakkan mereka menulis karya-karya yang sedikit lagi mencapai level novel terlaris negeri ini.

Saya dapati jawabannya ketika saya akhirnya juga menghasilkan karya tulis serupa. Meski tak pernah dikirimkan ke seseorang di luar sana dan niatan untuk itu tak pernah ada. Saya jadi tahu persis kenapa saya jadi bisa menulis hanya dengan memikirkan pihak terkasih itu. Hal itu bikin saya jadi menghargai tiap karya tulis yang dikirim ke kotak masuk ponsel saya atau surat elektronik saya.

Hingga saya menyadari satu hal. Tulisan itu ternyata tidak hanya bisa membuat saya tersanjung. Di satu sisi, itu malah melukai saya. Mengapa? Karena saya merasa saya sudah kasih pengaruh yang berlebihan sehingga dia bisa menulis sedemikian rupa tentang saya. Karena saya merasa dia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan dan menghasilkan tulisan tentang saya. Karena saya tahu saya tidak akan bisa mewujudkan apa yang diimajinasikannya dalam tulisan-tulisan itu (I’m not a princess or a queen or whatsoever). Saya tidak sedemikian “tinggi” untuk bisa menggapai kata-kata sifat yang ada di tulisannya. Karena di satu sisi dia bilang dia mengasihi saya, tapi ternyata tak cukup kasihnya untuk berbuat sesuatu yang nyata ketimbang kata-kata sarat makna tapi cenderung mengawang. Karena, entah karena di-publish ke situs jaring sosial atau hanya melalui kotak masuk ponsel atau ke kotak pesan chatting, saya tak lebih dari objek tulisan. Saya hanya bisa dideskripsikan dengan sangat baiknya melalui tulisan, di-publish sehingga orang-orang bisa kasih penilaian, bukan hanya untuk gaya tulisan tentunya tapi juga untuk objek tulisan: saya.

Dan kalau ditanya, apa itu mengganggu saya? Iya, itu mengganggu. Tapi apa saya berhak menghentikan mereka untuk menulis tentang saya? Let them decide…

5 thoughts on “Karya Tulis untuk Saya

  1. Selama karya tulis yang diterima dalam bentuk kebaikan, sungguh sesuatu yang menyenangkan.
    Semoga tulisan-tulisan yang terkirim tersebut menjadi doa-doa yang menyejukkan, ..🙂

  2. ummmmm…. saya yakin kalau Anda adalah wanita yang sangat luar biasa sampai banyak pria yang mampu menghasilkan tulisan indah tentang Anda. beberapa tulisan Anda sebelumnya sudah saya baca. sepertinya saya tidak yakin kalau Anda tidak bisa menulis.

    mungkin saja dari banyak pria itu, ada di antara mereka yang malah bisa menulis setelah mengenal Anda. bukankah seharusnya Anda bersyukur kehadiran Anda di dunia seseorang telah mengubah kehidupan orang itu?

    soal ‘gangguan’ yang mereka (pria itu) datangkan kepada Anda, mungkin Anda bisa meniru Celine di film “Before Sunset” favorit Anda. saya mengerti perasaan Anda sama seperti saya mengagumi “Before Sunrise” dan “Before Sunset”. terkadang saya berfikir, apakah hanya film Indie yang bisa menghadirkan tontonan bagus bagi penikmat film? (omongan saya semakin tidak karuan)

    imtinya, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan: seharusnya Anda bersyukur bisa menjadi orang berpengaruh bagi orang banyak. Anda juga harus mendoakan mereka segera sadar dari mimpi mereka tentang Anda..

    Damai sejahtera bagi Anda dan juga teman satu tempat kos..
    Tuhan Memberkati.

    salam dingin
    Bakus

    • oh, saya bersyukur kok, bakus.. tapi sesuatu yang berlebihan itu cenderung berdampak negatif. dan itu yang saya rasakan sehingga saya menulis postingan di atas🙂

      damai sejahtera juga bagimu..

      salam hangat ^^

      p.s: ngng, apa hubungannya dengan celine di tayangan yang “sebelum-sebelum” itu ya?😀

  3. Ping-balik: Tweets that mention Karya Tulis untuk Saya « Kompleksitas bukan Koinsidensi -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s