Psiko-test yang Bikin Lieur Inih

Weschler-Bellevue Test. Salah satu jenis psiko-test yang diberikan oleh anak-anak fakultas psikologi ini bikin saya pusing hari ini. Tapi jadi bikin saya sadar betapa banyak hal yang belum saya ketahui. Ada serangkaian tes yang harus saya lalui. Saya tidak ingat semua karena banyak sekali.

Berawal dari tawaran dari si abang ini menjadi Objek Penelitian (OP) untuk mahasiswa Psikologi di salah satu mata kuliah mereka. Mahasiswa Psikologi itu namanya Intan. Lucu sekai loh dia. Belum kenal saja, saya sudah gemes ketika berhubungan lewat sms dengannya. Waktu saya bilang saya sudah tiba di kampusnya, dia kirim pesan seperti ini: “Kamu nunggu di sebelah mana, pake baju apa? Aku pakai kemeja putih lengan panjang, rok item, kalung, dan cantik. Hehe.” Wowww! Luar biasa sekali cara mahasiswa jurusan kejiwaan itu dalam mendeskripsikan penampilannya.

Sebelumnya sih saya pernah mengikuti psikotest untuk membantu mahasiswa Psikologi. Tapi psikotest kali ini benar-benar menguras pikiran saya. Hanya memakan waktu satu jam, tapi terasa berjam-jam dan membuat saya menguap beberapa kali karena bosan. Lalu berulang kali saya sempat bilang sama diri: “Bego banget sih pertanyaan gitu aja ga bisa njawab. Doh!

Tes pertama cukup mudah: saya hanya harus menjawab pertanyaan mengenai pengetahuan umum. Tesnya mungkin mudah, tapi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu bikin pusing saja. Hehe. Siapa sih pencipta “Dian yang Tak Kunjung Padam”? Saya seperti pernah dengar judul buku itu, tapi tidak tahu siapa penulisnya. Kemudian saya gagal menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Burma itu di mana, ibukota Italia apa? Hehe. Bersyukur saya cukup berhasil menjawab pertanyaan mudah seperti siapa pengarang buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan kapan hari Kebangkitan Nasional diperingati, dll.😀

Tes-tes selanjutnya bikin semakin pusing, apalagi di bagian saya harus melakukan penghitungan. Yaampun, untuk menjawab pertanyaan begini saya butuh waktu yang cukup lama: jika untuk sekian hari dibutuhkan sekian pekerja, lalu berapa pekerja yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dalam setengah hari. Heu. Itu kan matematika zaman baheula banget. Terus ada pertanyaan: jika ada kereta api melaju dengan kecepatan 30 meter/detik, berapa desimeter yang bisa dicapai dalam waktu 1/5 detik. Hahhh! Lupa sayaaaaaaaaaaa..😦 Selama kuliah di Fikom, tak pernah lagi saya repot-repot menjamah soal-soal yang melibatkan angka.

Ada juga tes yang bikin saya terbahak-bahak dalam hati. Pertanyaannya: sebutkan alasan-alasan, mengapa sepatu terbuat dari kulit? Atau pertanyaan ini: terbuat dari apakah karet alam? Hahaha. Adong-adong saja alias aya-aya wae. Sampai si tester alias si Intan senyum-senyum waktu kasih pertanyaan itu ke saya.

Tes yang paling saya suka yaitu ketika saya diminta menyusun gambar acak sehingga terciptalah jalan cerita yang masuk akal. Salah satu jalan cerita yang saya buat: ada seorang bangsawan yang tengah berjalan-jalan mengelilingi kota dengan mobilnya yang mewah. Namun di tengah perjalanan, ia melihat sesosok gadis yang anggun lagi menarik sedang berjalan sendirian. Lalu sang bangsawan menyuruh supir menghentikan kendaraan yang ditumpanginya. Ternyata, gadis itu adalah seseorang yang sudah dikenal oleh sang bangsawan dan selama ini dia tertarik pada gadis itu. Bangsawan itu lalu turun dari mobil dan menghampiri sang gadis. Mungkin karena juga tertarik dengan si bangsawan itu, si gadis menyambut dengan gembira sang bangsawan yang menuju ke arahnya. Daripada naik mobil mewah dan diganggu keberadaan supir, akhirnya si bangsawan itu memilih untuk berjalan berdua saja dengan sang gadis. Bangsawan itu memang terkenal senang memperlakukan perempuan-perempuan di kotanya dengan hormat dan romantis. Akhir cerita, mereka menghabiskan hari itu berdua saja dan berbagi banyak cerita yang menarik satu sama lain. *the end*

Picisan sekali memang jalan cerita yang saya ciptakan. Tapi saya merasa sangat nyaman membuat cerita daripada disuruh menghitung atau menghitung. Terus saya juga sangat suka ketika diminta menyusun beberapa balok sehingga menghasilkan pola tertentu. Atau ada juga tes yang berhasil saya lalui karena perintahnya mudah: menyusun benda-benda, jadi seperti puzzle begitu.

Satu hal yang saya sesalkan dalam psikotest seperti ini ialah saya tidak berhak meminta hasil tes yang telah saya lalui. Padahal kan penting sekali bagi saya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan saya. (Eh, terus nurani bilang, kalau tidak bisa mendefinisikan kata “masgul”, mosok iya kamu gak tahu kemampuan kamu sudah di level mana? Dohhhh!)

Wednesday, May 05, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s