Hari Melamar

Setelah menunda-nunda sekian bulan, saya membulatkan tekad untuk melamar media-media elektronik di Jakarta. Sejujurnya, saya tidak tertarik magang di media elektronik. Saya lebih suka liputan untuk media cetak. Namun, jurusan tidak akan memaklumi alasan pribadi dan tidak masuk logika itu. jadi, saya, dengan pertolongan dari-Nya, akhirnya datang ke Jakarta dan mengunjungi beberapa stasiun TV untuk melamar mereka.🙂
Ada tiga media yang saya lamar dalam satu hari ini (Jumat, 14/05). Mereka adalah Metro TV, SCTV, dan Global TV. Jangan tanyakan dulu mengapa saya memilih ketiga media itu. Sejauh ini yang bisa saya pikirkan hanyalah ketertarikan pribadi dan visibilitas untuk datang ke media itu. Ataupun untuk magang di media itu (kalau diterima..).
Pukul 06.20, saya duduk di boncengan motor Abang saya dan melaju ke kantor Metro TV. Dan untuk informasi, kosan Abang saya ada di Rawamangun (Jakarta Timur), sedangkan kantor Metro TV ada di Kedoya (Jakarta Barat). Jadi kalian bisa bayangkan lah, bagaimana salah satu bagian badan saya menderita karena harus duduk di atas motor selama hampir dua jam (rekor baru untuk saya tentunya). Sebelum pukul 08.00 (saya tidak tahu tepatnya), kami sudah sampai di Komplek Pilar Mas. Kantor Metro belum begitu ramai. Parkiran hanya diisi motor di sebagian wilayahnya. Saya tanya satpam, langsung ke resepsionis, menyerahkan surat lamaran saya, minta contact person HRD Metro, dan berdoa supaya kehendak Tuhan yang jadi (diterima atau tidak magang di Metro, kapan waktu yang tepat saya boleh diterima). Saya kembali ke tempat Abang saya menunggu. Dan terjadilah percapakan berikut:

“Kurang apa ya, Abang liat karyawan-karyawan sini,” di tengah-tengah sarapannya, Abang bilang begitu.
“Kurang bagaimana?” tanya saya dengan kerut mengening.
“Good looking sih mereka, tapi kayaknya kurang berkompeten kalau kerja di lapangan,” kata Abang mantap.
Masih dengan kerut mengening, namun lalu seperti mendapat pencerahan, saya berkata, “Well, I’ll prove it. Right,” tersenyum jahil saya.

Kenapa saya bisa tersenyum jahil seperti itu? Begini, dulu, waktu masih magang di Sinar Harapan, saya pernah beberapa kali liputan bareng orang-orang Metro. Dan ya, saya akui mereka cukup oke dari segi penampilan. Dan lagi, sahabat saya, ada yang naksir sama orang Metro. Waktu saya dikasih liat fotonya, saya tidak bisa tidak setuju kalau si orang Metro itu memang ganteng (lucu/cakep/oke). Jadi, kalau Tuhan berkehendak dan saya diterima magang di Metro TV, saya baru bisa kasih komentar, apa pendapat Abang saya itu benar atau tidak. Kan waktu liputan bareng mereka, saya tidak benar-benar bisa menilai banyak tentang kinerja mereka.

Abang saya pun mengendarai motornya, menjauhi Kedoya, dan mendekati Senayan. Selanjutnya, giliran SCTV Tower yang ada di Senayan City yang kami kunjungi. Tidak jauh berbeda proses lamaran itu. Dan saya berdoa dengan lebih gencar lagi. Lalu, seorang teman hubungi saya. Kami janjian ketemu di Senci. Ketika dia datang, saya berpisah dengan Abang saya dan bergabung dengan teman. Lalu terjadilah percakapan ini:

“Na, apa kabar ya kalau kita jadi magang di sini? Ke mall mulu lah pastinya,” kata saya.
Teman saya itu ketawa kecil menyetujui saya. “Iya ya, enak banget pastinya,” kata dia.
“Na, gw pengen deh magang di sini,” kali ini saya ketawa puas.

Untuk yang belum tahu, saya ini bisa digolongkan ke tipe cewek mall. Entah mengapa, saya tidak pernah bosan mengunjungi mall-mall yang ada di berbagai kota di negeri ini (tsahhh..). Setiap saya bepergian ke suatu daerah, pasti saya sempatkan ke mall. Selain mall, jarang ada tempat yang bisa jadi tempat hangout yang asyik buat tempat kumpul bersama teman-teman sejawat. Lagipula, saya dan mall itu seperti sudah ditakdirkan bersama. Bayangkan, waktu liputan di SH dulu, tidak terhitung berapa kali saya ditugaskan meliput di mall. Pun waktu saya ditempatkan di desk Metropolitan, saya ulangi, desk Metropolitan, saya juga diminta pergi ke mall untuk meliput. See?? Tapi kalau menurut kamu, salah bagi saya untuk menjadi cewek mall, feel free to remind me, okay. Karena, pernah sahabat saya tiba-tiba bilang, “Aku ga suka sama mall. Lain kali kalau mau ajak aku jalan jangan ke mall ya.” Waktu saya tanya mengapa, dia bilang, “Gak apa-apa, aku lagi di suatu seminar dan dalam khotbahnya, pembicara ini bilang sesuatu yang buruk tentang mall.” Saya lupa apa sesuatu yang buruk itu. Tapi sampai saat ini, saya menikmati jalan-jalan yang ke mall-mall itu.

Lanjut lagi hari lamaran itu dengan saya dan seorang teman ke Sudirman Central Bussiness District (SCBD). Teman saya mengajukan surat lamaran ke stasiun TV lokal: Jak TV. Dan penderitaan buat kedua kaki yang putih dan mulus ini pun dimulai (hoekkkkk). Kami turun di halte Polda dan setelah tanya-tanya satpam, kami berjalan menyusuri SCBD. Kalian pasti tahu Jakarta itu panasnya meranggas. Kalau begitu, kalian juga seharusnya bisa bersimpati pada kami yang harus menempuh sekitar 2 KM (bahkan lebih) untuk mencapai kantor Jak TV. Setelah surat diserahkan ke front office, kami rehat sejenak menikmati sejuknya pendingin udara di kantor itu. Di luar, matahari lagi ganas-ganasnya. Maklum, posisi matahari tepat di atas kepala (entah kepala siapa). Setelah matahari sedikit jinak, kami memutuskan untuk melanjutkan hari lamaran itu. Di perjalanan, saya lihat karyawan-karyawan keluar kantor dan saya prediksi mereka cari tempat makan untuk siang itu. Dan terjadilah percakapan yang ini:

“Ogah banget ga sih lo kerja di sini. Nyari makan aja musti pake taksi segala. Kalau makan siang sendiri musti naek ojek. Jauh dari mana-mana gini padahal di pusat kota. Bajaj aja kagak lewat,” kata saya menutupi setengah muka dari panasnya mentari.
“Iya, tapi gengsinya itu, lho, Tina. Kan ntar kalau ada yang tanya, ‘Kantor lo di mana?’ Keren aja gitu jawabnya ‘Di SCBD’,” kata temen saya yang bikin saya sedikit kaget.
Kami berdua ketawa-ketawa di bawah matahari di ufuk entah mana itu.

Saya lalu berpikir, “Kok kata ‘gengsi’ itu tidak pernah berkelebat meski sejenak, dalam hati dan logika ya?” Dulu waktu melamar magang di Koran Tempo (Hahh, saya masih belum terima kamu yang tolak saya waktu dulu itu. Huhh. Sekarang nyesel kan? Nyesel kan? Ayo ngaku, nyesel kan?😛), saya tidak pernah kepikiran gengsi. Memang KT tergolong terpandang, tapi bukan karena itu saya pilih KT. Ketika akhirnya ditolak (via telepon. Hahhh. Ga jantan kamu, KT), saya langsung putar haluan ke SH dan baik-baik saja meski saya tahu SH, katanya, kurang bergengsi. I mean, HARI GINI MASIH MIKIRIN GENGSI? MAU DIBAWA KE MANA ARMADA?? Hehe.

Perhentian terakhir kami ada di kantor MNC. Teman saya melamar Sun TV, sedang saya lebih memilih Global TV. Dari halte Gedung BI, kantor MNC itu terlihat cukup dekat, kawan. Tapi ketika dijalani, betis saya pun semakin mengaduhai. Jauh pisan, kaki saya pegel-pegel tiada terkira karena jalan dari halte Gedung BI ke kantor MNC di Kebon Sirih itu. Dan setelah menyerahkan surat lamaran ke mas-mas resepsionis, teman saya kasih kabar gembira.

“Tina, gw ditelepon SCTV. Tadi SCTV telepon ke rumah, bokap yang angkat. Gw ada interview ama SCTV hari Senin. Wahh, puji Tuhan,” teman saya bilang itu dengan wajah memerah tanda bahagia.
“Wahh, keren. Baru selasa masukin surat udah dipanggil,” kata saya. “Gw juga pengen.”
“Amin amin. Semoga abis ini lo yang ditelepon,” teman saya baik sekali ya mengatakan itu.

Godaan untuk khawatir itu pun muncul. Namun, pagi ini saya diingatkan untuk bersabar dalam menghadapi kesukaran. Sebab, justru dalam kesukaran Tuhan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya pada diri manusia. Intimidasi dari si jahat itu dengan lambat tapi pasti mencuat, “Aku kapan dipanggil sama media yang aku lamar, ya Tuhan?” Bersyukur, Tuhan pernah ajarkan ini, dan saya senang bisa mematuhi Tuhan dalam satu hal ini: Segala sesuatu indah pada waktu-Nya dan bersabarlah menunggu waktu yang tepat. Tuhan tidak akan lewatkan saya. Saya percaya😀

Sekianlah laporan saya selama Hari Melamar ini. Dan waktu saya kicaukan ini di Twitter [Hari Melamar. Keliling Jakarta untuk melamar media2. Terima kasih untuk semangat dari-Mu. Dan darimu juga😉], seseorang malah kicau balik, “Kapan dilamar?” D’OHHHHHH…..

One thought on “Hari Melamar

  1. Ping-balik: Tweets that mention Hari Melamar « Logikaku, Hatiku -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s