Tragedi Robin Hood

“Raise and raise again. Until the lambs become the lions”

Itulah kalimat yang jadi inti dari film Robin Hood yang dibintangi Russel Crowe. Artinya: Jangan pernah menyerah! Russel Crowe memang tidak sembarangan ambil peran. Tokoh Robin the Hood yang dilakoninya sudah melegenda. Namun apa yang ditampilkan dalam film ini berbeda dengan apa yang selama ini kita dengar. Robin sang maling baik hati yang melakukan tindak kriminal untuk membantu yang miskin dan lemah itu sudah bukan jadi kisah usang. Film garapan sutradara Ridley Scott ini menyajikan “the untold legend from Robin Hood”. Saya baru tahu Robin Hood itu hidup di zaman Perang Salib yang “diciptakan” Raja Inggris waktu itu. FYI, Cate Blanchett did the play very well as usual. She is awesomely pretty. Makin tua makin jadi lah, istilahnya.

Sekian tentang film Robin Hood. Postingan kali ini bukanlah resensi film itu, melainkan kejadian kala saya tonton film ini di studio Kelapa Gading. Dan sesudahnya. Karena sama-sama masih single, saya dan abang saya menghabiskan malam minggu berdua. Sejauh ini, saya merasa cukup dengan kenyataan itu. Di Gading sedang ada perayaan Jakarta Fashion and Food Festival (JF3). Kalau biasanya Gading sangat ramai di malam minggu, lebih-lebih waktu saya dan abang saya pergi ke sana, Sabtu (15/05) malam itu. Apalagi di area makan. Terlalu banyak tukang jualan berarti terlalu banyak orang berlalu-lalang menyusuri satu persatu jualan yang disajikan untuk akhirnya memutuskan membeli atau lihat-lihat saja. Pemandangan itu bikin saya pusing. Jujur saja. Apa sih yang membuat orang-orang itu betah berada di tengah keramaian orang yang bak koloni semut di sarang sendiri itu? Too much people makes me uncomfortable. Makanya, saya mohonkan pada abang saya untuk makan di dalam ruangan. Sayangnya, waktu itu Solaria sedang penuh-penuhnya (what a surprise!) sehingga kami terpaksa duduk di area perokok.

Sepuluh menit sebelum jadwal tayang Robin Hood, kami putuskan untuk langsung ke studio 1. FYI (again), abang saya niat sekali nonton film itu, meski kami, dengan amat beruntungnya, dapat kursi di barisan ke-3 paling dekat dengan layar. Another record for me. Beli popcorn, iklan ditayangkan, nonton orang-orang berseliweran masuk studio, dan akhirnya Robin Hood ditampilkan. Ternyata tidak buruk-buruk amat lihat layar raksasa itu untuk menonton kisah kepahlawanan yang banyak aksinya dalam jarak yang dekat sekali. Film usai, turun ke basement untuk ambil motor, dan kami pun melaju ke kosan abang saya.

Nothing really special till I realized something. I LOST THE KEY OF MY BROTHER’S ROOM. Can you imagine it? It was middle of the night and I lost the key to his room. I was a bit panic. I thought my brother was going to kill me. Seriously. I asked him whether he has the duplicate but he said no. I am very sure that I kept the key in my pocket. But I think I dropped it when I took something from the pocket.

Sampailah kami di kosan abang saya dan dia berulang kali suruh saya mencari kunci itu lebih teliti lagi. Saya lakukan itu, tapi tak menemukan kunci yang dibutuhkan. Dia diam saja, tidak marah atau apa. Tapi saya tahu, dari matanya, dia sedikit kesal sama saya. Itu wajar. Saya, untuk ke seribu kali mungkin, menghilangkan sesuatu yang ia percayakan sama saya. Sebut saja barang seperti ponselnya yang saya hilangkan dua atau tiga kali😀 Mungkin itu juga yang bikin abang saya, bukannya marah, tapi memaklumi. Mungkin dia pikir, saya memang ahli dalam menghilangkan barang. Saya ini memang magnet bagi peristiwa-peristiwa yang membuat suatu barang berpindah dari tangan saya.

Bukannya marah-marah atau membentak atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas pada saya, abang saya itu malah ke dapur dan mencari-cari sesuatu. Ia ambil beberapa perkakas, yang saya tidak tahu persis apa namanya, semacam linggis begitu. Ia coba berulang kali untuk menghancurkan pintu agar kami bisa masuk. FYI (again and again), abang saya itu tidak punya mental maling. Usahanya merusak pintu kamarnya sendiri tampak sia-sia sampai teman satu kosannya menyarankan dia untuk pakai obeng min (kalau ga salah dengar, itu namanya). Sekali dua kali tiga kali sampai berkali-kali dia arahkan obeng itu ke pintu dan tarrraaaaaa… pintunya bisa dirusak. Dan sedikit pun dia tidak mengatakan hal kasar pada saya.

The moral of this post is: I’m grateful for having my brother as my brother more and more.😉 I know he’s not like the best brother in the world, but he is the best brother in my world. Because really, I would never take any inappropriate words from any brother. Real men know exactly what he said. And if they say something bad to me (or any other girl), it’s must be true from the heart and yet thoughtful. Am I right, brothers?🙂


P.S: Susah ya bikin postingan tanpa mencampuradukkan bahasa-bahasa😀

One thought on “Tragedi Robin Hood

  1. Ping-balik: Tweets that mention Tragedi Robin Hood « Logikaku, Hatiku -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s