Kenangan hanya Abadi di Masa Lalu

Masa lalu ada untuk diingat saja, bukan diingat-ingat

Hujan

Rinai hujan sangat akrab dengan kenangan tentang kita yang dulu. Ketika kata-kata kita terhenti. Dan kita hanya sanggup berdiam memandangi hujan turun ke bumi. Ketika langkah kita tak berlanjut. Dan kita berteduh dengan pikiran kita masing-masing tentang hujan. Ketika di depan kita hanya ada hazelnut latte. Cafein yang kita sesap yang menghangatkan kita dari dinginnya percakapan. Aroma hujan sempat kurasakan begitu akrab seperti aroma wewangian dari tubuhmu. Entah mengapa saat ini, ketika aku memandangi hujan membasahi tanah di balik jendela bis, aku lupa aroma itu.

13 Mei 2010 – Hujan di sini tak sama dengan yang di kotamu.

Masa lalu bagai batu padas. Tidak bisa diapa-apakan. Masa depan bak tanah liat. Kita bisa membentuknya kalau kita mau.

–Sidney Sheldon-

Pelangi

We kiss the sky and dance across rainbows
Now it’s all in technicolor with you

Aku menutupi wajah dari sengatan matahari. Padahal tidak kurang dari dua jam lalu hujan menyerang tanah yang kupijak bagai pertarungan anjing dan kucing. Pelangi sudah tak terlihat lagi. Pelangi? Di salah satu email kamu bilang, kita bagai matahari dan hujan. Bisa melahirkan pelangi dengan warna-warni menakjubkan. Tapi tak cocok menghuni langit yang sama. Tak selayaknya bersatu. Namun jika Tuhan mengizinkannya terjadi, pastilah karena Ia pandang itu yang terbaik. Apa kita bisa membantah?

Kenangan bak lampu hias. Kita hanya memandanginya sesekali, sekadar mengagumi (atau malah menyayangkan) yang ada. Ia bukan untuk dilihat terus-menerus. Bukan untuk spesifik, atau tiap detail.

Bintang-bintang.

Hari itu kamu menjadi sangat romantis. Tidak ada perayaan apa-apa di hari itu. Tapi kamu ajak aku menghitung jumlah bintang di atas suatu bukit di Kota Sumedang. Kita berbaring di atas rumput. Wajah menengadah ke langit. Bintang-bintang itu dekat sedemikian rupa sehingga kita pikir kita sanggup menghitung satu per satu titik cahaya di hadapan kita. Pendar bintang menyempurnakan malam kita. Sayangnya kini (atau malah untungnya), bintang yang kita tatap tidak sama lagi. Kita berada di bawah langit yang sama. Namun kamu punya bintangmu sendiri. Dan aku tidak bisa tidak bersyukur untuk bintang yang kupandangi saat ini. Dari jendela kamarku. Kamu tak di sini lagi.

Masa lalu seperti album foto. Dibuka sekali-sekali, hanya mengingatkan apa yang pernah terjadi. Kita tidak bisa membiarkan lembaran demi lembaran terbuka secara berkelanjutan, kalau tidak mau terhenti dalam mencipta lembaran baru.

Perjalanan

Hanya ada satu perjalanan yang tak pernah melelahkanku, meski aku tidak pernah berhasil mencapai ujungnya: perjalanan menuju hatimu. What’s wrong being us, being together? Pertanyaan itu tak pernah kita cari lagi jawabnya ketika kamu dan aku putuskan, kita berhenti di tengah jalan. Separuh jalan kita hanya dihiasi kesalahpahaman, perbedaan yang tidak bisa ditolerir, dan hati yang tak pernah bersatu. Mungkin perjalanan masing-masing menjadi yang terbaik, bagi kamu dan aku. Perjalanan itu terhenti. Kita tidak lagi mengada. Hanya, kamu di sana dan aku di sini.

Share on Facebook
Share on Twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s