Hati dan Logika Bisa Menunggu

Kalau cinta dijadikan mata kuliah, aku yakin tak mungkin lulus di kali pertama aku letakkan dia di KRS-ku. Pun tidak yakin aku bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Menyingkirkanmu dari mimpiku? Itu tugas yang sangat berat. Menghindari tidur bukanlah perihal yang mungkin bagiku. Impossible.

Karena tidak begitu cerdas di mata kuliah cinta, mungkin aku harus ikut les juga. Mungkin guru les bisa menjelaskan padaku, mengapa debar ini begitu nyata, meski kamu tak lagi di sini. Aku yakin dia bisa, karena tidak seperti dosen, guru les mengajar dengan hati. Passion.

Tapi bercermin dari pengalaman dengan subjek Matematika, sepertinya bukan dosen dan guru les yang benar-benar mengajariku hal-hal penting tentang cinta. Pengalaman. Ketika aku benar-benar menghitung. Atau memakai rumus-rumus integral. Ketika aku mencinta. Atau bahkan dicinta. Dari situ aku belajar banyak. Dari situ aku merasa. Learning by doing.

Namun, apalah pengalaman tanpa hadirmu? Ya, kamu. Kamu yang bikin aku mengerti, adalah hak-ku untuk mencinta. Walau aku sempat merasa sangat bodoh untuk menginginkanmu. Salahkan saja hatiku. Dari pertama dia yang memilihmu. Tapi sejak itu, di senja itu (jangan bilang kamu tak ingat), aku tak pernah mengutuki rasa ini lagi. Only you can make me realize.

Aku pernah menulis begini padamu:
Bodoh sekali aku menganggap kamu ”not exist” di pertemuan pertama. Bodoh sekali aku “melirik” kamu di pertemuan kedua. Bodoh sekali aku berniat kenalan di pertemuan ketiga. Bodoh sekali aku menyambut jabatan tanganmu di pertemuan keempat. Bodoh sekali aku balas sapa ramahmu di pertemuan kelima. Bodoh sekali aku menerima permintaan maafmu di pertemuan keenam. Bodoh sekali karena di pertemuan-pertemuan berikutnya, aku malah membangkit-bangkitkan rasa. Kini yang tinggal, aku dan kebodohanku. Dan tentu saja, bodoh sekali aku melepaskan kamu pergi, dengan sukarela sungguhan, di pertemuan terakhir denganmu.

Sekali lagi kuingatkan diriku (seperti yang pernah kamu lakukan padaku), siapa sih yang dapat terlihat pintar di hadapan cinta? Aku tidak yakin, kebodohan mana lebih besar: aku tidak menyesali semua kebodohan di atas atau aku masih menaruh harap padamu. Love is for dummies, huh?

Dulu, aku senang menanyakan itu pada orang-orang terdekat (hanya yang sangat sangat dekat). Aku tidak tahu konspirasi apa yang mereka SEMUA buat. Tapi akhirnya aku diyakinkan untuk menghentikan rasa, berhenti mencinta. Kamu. I have to.

Untungnya itu pil pahit terakhir yang aku telan dengan senang hati dari mereka. Dari pihak lain. Boleh saja mereka memaksaku untuk kembali belajar cinta. Kata mereka, menerima cinta orang lain mungkin akan membantuku. An escape, maybe?

Tidak. Hatiku teguh. Dia sudah cukup mengecap segala rasa. Walau kembali menyatakan kebodohan. Aku takut dicap tidak setia. Padahal, ikatan itu tidak pernah terjalin. Atau belum saja? There again, a hope.

In the wee small hours of the morning
While the whole wide world is fast asleep
You lie awake and think about the boy
And never ever think of counting sheep
When your lonely heart has learned its lesson
You’d be his if only he’d call
In the wee small hours of the morning
That’s the time you miss him most of all


12.00 AM
02.01.10
*ini semua tentang rindu. Kamu bisa membacanya, kan?
**RE-POST dari Notes Facebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s