Mari Salahkan Sang Lelaki

Mari kita salahkan sang lelaki. Dari pertama, dia begitu mudahnya terjerat oleh rayuan perempuannya. Tiada berpikir panjang, ia mengabulkan semua permintaan si perempuan. Dari pertama niatnya, tanpa pamrih.

Perempuan itu cantik, pun sangat menarik. Kalau persepsi orang-orang zaman sekarang tentang cantik adalah: rambut hitam panjang, tinggi semampai disertai badan yang kurus (proporsional), hidung yang mancung, kulit putih bersinar, dan tentu saja senyum yang sangat menawan. Istimewanya, dia juga pintar. Sangat pintar malahan. Kepintarannya membuat sang lelaki bertekuk lutut karena kagum. Hey, kapan lagi bisa dapat perempuan dengan paket komplit seperti dia: cantik dan pintar?

Pada pandangan pertama sang lelaki cuma tahu satu hal: dia harus mendapatkan perempuan itu, dengan cara apapun. Tidak perlu bersusah-payah, dalam hitungan minggu dia mendapatkan perempuan itu. Bahkan bisa dibilang perempuan itu yang datang padanya.

“Inikah happy ending itu?” tanya sang lelaki dalam hati ketika akhirnya si perempuan menjawab, “Ya.” Seperti pasangan lainnya, segala macam bentuk keromantisan mereka lalui. Dalam hitungan menit orang bisa diliputi iri hati ketika melihat pasangan itu bertatapan mesra sembari bergandengan tangan.

Sekilas tak ada yang salah di sini. Kecuali satu hal. Si perempuan juga menawarkan keromantisan yang sama dengan lelaki lain. Bahkan tatapan mesra yang diarahkannya pada sang lelaki merupakan hasil dari latihan dengan beberapa pria. Parahnya lagi, kalau saya bisa bilang, perempuan itu menjawab ”Ya.” bukan hanya pada sang lelaki, di masa yang sama.

Sebagai makhluk yang sedang dikuasai api asmara, sang lelaki tidak bisa melihat kenyataan ini. Segala hal indah baginya sekarang, karena dia memiliki perempuan itu. Suatu lalu malah dia merasa bersyukur karena perempuan itu membuatnya jadi lelaki yang lebih baik. Dia jadi lebih sabar, lebih rajin menjaga kesehatan, lebih perhatian, lebih dewasa. Jangan lupa, dia juga jadi lebih rajin beribadah setelah mengenal perempuan itu. Apa lagi yang kurang?

Semuanya tampak sempurna bagi sang lelaki. Setidaknya sebelum kemarin. Hari itu seperti biasa dia janji bertemu si perempuan untuk makan malam bersama. Tiba-tiba ia ingin memberikan kejutan pada si perempuan. Ia pun pulang lebih awal dari biasanya. Dari kantornya ia singgah ke toko bunga sesaat. Perjalanan dilanjutkan ke kantor si perempuan.

Kemarin mereka merayakan tiga bulan hubungan mereka. Tiap bulan mereka merayakan perjalanan cinta mereka di tanggal yang sama, tanggal 20. Dengan bunga di kursi penumpang di mobilnya dan kotak kecil berisikan kalung berlian yang diletakkan di samping bunga, sang lelaki siap sepenuh hati menjemput pujaan hati.

Karena belum pernah menjumpai si perempuan di bilik kerjanya, sang lelaki hanya bisa menunggu di parkiran. Untungnya waktu itu, parkiran di sebelah mobil si perempuan kosong. Sambil senyum-senyum sendiri ia membayangkan wajah si perempuan yang kaget dan haru mendapat kejutan darinya. Tidak berlama-lama ia menunggu. Tiga puluh menit setelah ia sampai di parkiran, ia melihat sosok perempuan itu. Namun perempuan itu tak sendiri.

Ada seorang pria di samping si perempuan. Awalnya mereka berjalan berdampingan seperti dua orang yang tidak begitu dekat. Tapi alangkah kagetnya sang lelaki ketika si perempuan menggapai tangan pria itu dan meletakkannya di pinggul si perempuan. Sang lelaki kaget bukan kepalang. Sebagian besar dari dirinya tidak mau percaya akan apa yang dilihatnya.

Saat sang lelaki masih berusaha menyadarkan dirinya terhadap pemandangan di depannya, si perempuan tampak terkejut melihat mobil sang lelaki ada di samping mobilnya. Dengan cepat dan pasti ia melepaskan rangkulan pria yang dari tadi menempel di pinggulnya. Mata sang lelaki dan si perempuan bertemu. Kontan, si perempuan menangis dan roman wajahnya berubah pilu.

Sang lelaki keluar dari mobil dan serta-merta melayangkan tinju ke arah pria yang saat itu berada satu langkah di belakang si perempuan. Jab yang tajam dan menukik terus ditujukannya ke badan pria itu sampai pria itu terjatuh dan dengan sia-sia membalas pukulan sang lelaki. Di belakang mereka, tangis si perempuan pecah.

Berbagai umpatan keluar dari mulut sang lelaki. Setelah dirinya setengah tenang, ia menggertak pria itu dan menyuruhnya meninggalkan parkiran. Tanpa basa-basi pria itu melangkah menjauh. Langkahnya sedikit tertatih.

Ketika sang lelaki berbalik, si perempuan langsung meraih sang lelaki dalam pelukannya. Dalam isak tangisnya si perempuan berulang kali mengucapkan permintaan maaf. Sambil sesenggukan si perempuan menyatakan janji untuk tidak mengulangi hal serupa. Lalu ditatapnya mata sang lelaki dalam-dalam. Dengan matanya yang penuh air, ia menatap pilu pada sang lelaki. Si perempuan bilang, dia khilaf.

Mari kita salahkan sang lelaki. Sebab ia terlalu lemah untuk bisa melepas si perempuan. Sebab ia terlalu dibuai kasmaran sehingga tidak mungkin baginya untuk tidak bersama si perempuan. Sebab ia menghukum pria yang bersama si perempuan sedangkan tanpa syarat ia menerima si perempuan. Sebab tanpa banyak tanya ia memeluk si perempuan, menatap matanya, dan mengatakan, ia mengerti. Dibukanya pintu mobil dan si perempuan itu masuk. Mereka melaju ke tempat yang sudah dipesan. Ia tetap memberikan bunga dan kalung kepada si perempuan. Makan malam mereka mungkin tidak seromantis biasanya. Kebanyakan mereka hanya diam dan mengalihkan pandangan mereka. Tidak kuat menatap sosok di hadapan masing-masing.

Satu hal yang dimengerti sang lelaki: dia sanggup memaafkan si perempuan dan memberi pengertian padanya. Pikirnya, jika satu gangguan ini bisa dilewati maka hubungan mereka pasti bisa bertahan. Sedangkan satu hal yang dipahami si perempuan: sang lelaki sangat polos cenderung bodoh karena dengan lekas memaafkan kesalahannya dan tidak tega menyakiti dirinya sedikit pun. Di benaknya ia berjanji akan datang pada pria tadi, meminta maaf, dan kembali menjalani apa yang selama ini mereka jalani.

Thursday, January 28, 2010, 3:35:23 PM

**memang lebih mudah untuk menyalahkan sang lelaki. Haha.

One thought on “Mari Salahkan Sang Lelaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s