Momen Termehek-Mehek

uhuk-uhuk, saya gak yakin isinya beneran reality :-?

uhuk-uhuk, saya gak yakin isinya beneran reality😕

Bukan. Saya bukan penggemar acara yang mengaku reality itu. Pun tak pernah terlibat sama satu pun episode cengengnya. Saya cuma pernah saksikan drama berlebihan yang disajikannya. Dan saya malah bertanya-tanya kenapa tayangan itu masih saja ada di TV dan ditonton.

Ini masih soal kamera dan ponsel yang ketinggalan di taksi dan statusnya masih hilang. Setelah mendatangi pool taksi Kperasi yang bikin capek itu, saya, Abang, dan sepupu, mendatangi Jl. Wijaya I, Untuk apa? Menurut orang pool, supir yang namanya saya sebutkan di postingan sebelumnya, tinggal di daerah itu. Awalnya saya ragu, karena rumah-rumah di Jl Wijaya itu mewah-mewah. Banyak restoran Eropa dan Korea di situ. Menurut saya, itu berlebihan untuk seorang supir taksi. Rupanya, daerah itu hampir sama dengan Jl. Braga. Orang Bandung pasti tahu, di balik keanggunan Braga, ada perumahan kumuh yang membuat mata tercengang. Siapa yang menyangka, konsep Retro/Vintage/Jadul yang ditampilkan Braga harus bersanding dengan konsep rumah kumuh di belakangnya. Begitu juga dengan Jalan Wijaya yang saya sebutkan tadi.

Rumah sang supir ini ada di sebuah gang yang membuat kami harus berjalan cukup jauh. Begitu tanya-tanya sama warga, kami menemukan rumahnya. Si bapak sedang ada di “bedeng” kata keponakan yang saat itu kebetulan lewat. Kami minta si anak panggil Pak-De-nya. Dan bertemulah kami dengan orang yang kami cari.

Rumah si bapak bisa dibilang memprihatinkan. Dinding rumahnya terbuat dari kayu dan tidak ada kursi tamu di dalamnya. Hanya ada beberapa kursi kayu yang bentuknya berbeda-beda untuk kami duduk. Selain kursi-kursi kayu itu, hanya ada lemari kayu yang sudah usang di ruang tamunya. Kami pun duduk dan Abang menjelaskan alasan kedatangan kami.

Momen termehek-mehek itu pun dimulai. Begitu Abang bilang, kami datang karena kamera dan ponsel yang ketinggalan di taksi, si bapak langsung menjawab: “Tunggu dulu, saya sudah setahun lebih gak narik lagi.” Dan ditambah dengan bilang bahwa pada saat kejadian, Sabtu malam, dia berada di kampung untuk menemui anaknya. Dia bahkan memberikan ponselnya dan bilang, “Ini telepon saja anak saya, kalau ndak percaya.” Dan dia mengulang-ngulangi pernyataan sebelumnya, bahwa sudah setahun lebih dia gak narik taksi.

Percayalah, saya seperti benar-benar mendengar backsound reality show “Termehek-mehek”. Itu loh suara-suara mendramatisir keadaan ketika salah satu narasumber memberitahukan fakta yang mencengangkan (tapi ketahuan betul dibuat-buat). Misalnya, klien sedang mencari adiknya atau pacarnya atau bapaknya atau siapalah itu kerabatnya di suatu tempat, dan di tempat itu pemiliknya bilang, “Oh iya, dia memang sering ke sini, tapi dulu, sekarang tidak pernah lagi.” Setelah itu, si pemilik malah marah-marah dan bilang hal-hal konyol seperti “Bilang sama dia, dia sudah bikin banyak kekacauan di sini. Awas kalau dia balik lagi.” Mehhh! Mukanya dibuat garang pula. Gak banget!

Saya benci momen termehek-mehek itu. Dan tidak menyangka bisa mengalaminya. Cihh! Saya merasa seperti Panda dan Abang saya seperti siapa itu presenter cowonya yang gak cowok banget?? Kami seperti sedang mencari supir taksi yang punya andil besar dalam hidup seseorang. Well, dalam kasus ini, hidup kami sendiri.

Pernyataan pak supir selanjutnya bener-bener bikin putus asa. Begini saya kutip pernyataannya:

“Kalau supir Kperasi mah liar semua. Manajemennya gak kaya Blue Bird. Kalau Blue Bird kan semua taksi pasti balik ke pool, kalau ini mah nggak. Malah, kalau gak ada setoran, taksi ditinggalin aja. Radio calling aja kami gak punya. Jauh banget lah sama Blue Bird. Kalau di Blue Bird, ada barang penumpang yang hilang pasti dikembalikan. Karena manajemennya juga bagus. Tapi kalau Kperasi mah jangan harap lah. Itu aja yang bisa saya bilang. Kalau Ekspress juga udah lumayan bagus. Gak kayak Kperasi, Mas, Mbak. Kalau sama saya juga, udah sering barang-barang elektronik ketinggalan tapi selalu saya kembalikan. Saya mah buat apa. Gak perlu sama saya yang begitu. Apalagi ini tustel sama hape. Ibaratnya hape sekarang udah kaya rempeyek.”

Yak. Pak supirnya lebe ternyata. Lebaya beth. Kamera D-SLR dengan tustel jauh berbeda ya, Pak. Kalau cuma kamera digital saku biasa mah, saya sudah rela dari kapan tau. Tapi ini, ini SLR-ku sayang. Hukz.

P.S: Status kamera dan ponsel masih dalam pencarian. Semoga Tuhan berkenan mengembalikan keduanya ke pelukanku.😀

P.P.S: Gambar dipinjem dari sini loh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s