Diajarin Menulis (2) – Teladan

Apakah kita benar-benar butuh role model untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara? Apa kerinduan kita melihat Indonesia yang lebih baik tidak cukup untuk berikan yang terbaik bagi bangsa ini?

Ketiadaan teladan cenderung jadi alasan generasi muda sekarang untuk bertindak. Tapi naïf sekali jika kita terus terkungkung dalam pikiran itu. Apa dulu Dr. Johannes Leimena mencari-cari teladan untuk menjabat menteri selama 21 tahun tanpa terputus?

Role Models - Choose Wisely

Teladan. Itulah yang ditunjukkan Bang Sam dalam pertemuan kedua kelas menulis. Presentasi doski, yang saya sudah lupa judulnya, menunjukkan betapa orang muda Kristen punya tanggung jawab untuk menjadi kebutuhan bangsa ini. Adalah bagian kita untuk bersinar terang agar kemuliaan-Nya nyata di bumi Indonesia. Dan menjadi garam bagi Indonesia, agar negara ini tidak membusuk dengan konflik dan krisis yang dihadapi.

Selain J. Leimena, ada beberapa tokoh dalam presentasi Bang Sam yang benar-benar menggugah perasaan saya. Bahwa, tidaklah mustahil bagi orang Kristen untuk diakui negara ini. Jika saja, orang muda itu hidup benar dan berkontribusi berciri kebangsaan. Sebut saja Sam Ratulangi, Yohanes Surya, dan lain-lain, yang jadi berkat lewat bidangnya masing-masing.

Di pertemuan kedua, Bang Sam berikan tugas. Tidak begitu spesifik, peserta kelas hanya diminta menulis apa saja yang berhubungan dengan menulis. Tulisan harus berkaitan dengan presentasi Bang Sam. Pun tulisan kami harus dibuat supaya layak muat di media Kristen. Sayangnya, tulisan yang kami buat tidak boleh lebih dari satu halaman A4. Menyedihkan bagi saya, karena APA SIH YANG BISA DITULIS DI SELEMBAR KERTAS ITU KALAU MAU TULISAN KOMPREHENSIF? Yak, itu teriakan yang ada dalam hati begitu tahu peraturan di kelas menulis: tugas harus ditulis dalam satu halaman A4. Tapi akal sehat saya ingatkan, justru ini saatnya saya menulis dengan cerdas. Bahwa, ide yang ada di kepala bisa puluhan dan ribuan kata menempel, tapi apakah dikau cukup cerdas untuk merangkumnya dalam selembar kertas saja?

Jadi, saya berjuang untuk mengerjakan tugas pertama dengan dikejar-kejar tenggat waktu. Dan waktu saya tunjukkan pada kekasih saya, dia beri masukan yang berarti. Bikin saya mau berhenti nulis saja. Hahahaaa. *muahmuah*

Bagaimanakah tanggapan Bang Sam atas tulisan saya? Nantikan kisah saya mengikuti kelas menulis selanjutnya.🙂

Sumber fotonya: ini toh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s