Diajarin Menulis (4) – Kekhawatiran

Sebenarnya ketakutan itu cuma ada di pikiran. Kita saja membiarkannya menguasai kita. Jadi jangan salahkan jika kita dicap “kaum tak percaya” sama Yesus sendiri ketika yang ada di hati dan logika hanyalah kekhawatiran. Kita khawatir sama nilai-nilai kita. Khawatir kalau akhir bulan datang dan persediaan di rekening sangat tipis. Khawatir itu memang tanda tak percaya. Padahal, siapa sih yang lebih tahu, kita atau Tuhan?

"Ketakutan itu cuma ada di benak," Bang Suandi ingatkan

"Ketakutan itu cuma ada di benak," Bang Suandi ingatkan

Kekhawatiran memang bagaikan momok yang sering kali menjalar di kehidupan orang Kristen (dan umat apapun di dunia sepertinya). “Kekhawatiran itu tanda ketidapercayaan kita akan anugerah dan pemeliharaan Tuhan di masa depan,” kalau kata John Piper di buku Battling Unbelief. Kita tak percaya Tuhan berikan nilai yang bagus sehingga kita khawatir sama nilai-nilai semester. Kita ragu Tuhan menyediakan segala sesuatu (yang bahkan tak terpikirkan), sehingga kita khawatir kalau akhir bulan cuma punya uang sedikit. Sepertinya kekhawatiran itu kecil dan mudah sirna ketika Tuhan tunjukkan rahmat-Nya tak pernah berhenti di hidup kita. Tapi kekhawatiran-kekhawatiran kecil itu, kalau terus-menerus menempel di hati dan logika, bukan tidak mungkin membuat kita menyerah untuk menghadapi masa depan. Dan orang yang menyerah, sama saja dengan orang mati. Tidak ada harapan untuk kehidupan lebih baik itu, sejatinya tidak bisa disebut hidup.

Oke deh. Kenapa ngomongin kekhawatiran sih? Ini kan tentang kelas menulis bersama Bang Sam.😀 Saya cuma teringat sama percakapan dengan abang yang bijak ini beberapa saat lalu. Kekhawatiran itu saya dapati sewaktu mengumpulkan tugas pertama. Tulisan saya berjudul, “Cinta Tuhan, Cinta Bangsa, dan Cinta Bahasa”. Karena dikerjakan dengan kejar-kejaran sama waktu, saya merasa tulisan itu jelek. Waktu kekasih saya komentari pun, saya tetap merasa tulisan itu jelek. Terutama di bagian ide dan alur. Jadi saya khawatir Bang Sam berpikiran sama.

Lagi-lagi Tuhan mengejutkan saya. Tulisan saya memang tak sempurna. Tapi ketika mengoreksi tulisan saya, ini yang Bang Sam tuliskan: “Ide bagus, tapi keruntutan alur belum maksimal; urutan “cinta” dalam judul beda dengan “cinta” yang dibahas dalam isi. Pengalimatan baik, kecuali beberapa yang dikomentari. Usaha membagi artikel patut dihargai.” Lalu, Bang Sam ukir gambar senyum di situ. Yihhaaaaaaa. “Tidak jelek,” pikir saya. Bisa saja lebih buruk dari itu, kan?

Kalau ditanya puas, tidak juga. Saya cuma tahu, lain kali, kerjakan saja yang terbaik. Kalau standar juru ajar saya itu tidak sama, saya coba kejar standarnya. Dan kalau sudah dibilang bagus, sadar kalau masih ada tulisan yang lebih bagus di kelas..

Tentang pertemuan kelas menulis, kami diajarkan bahwasanya ide itu ada dalam segala sesuatu. Kita hanya harus lebih peka dan taruh perhatian pada hal-hal di sekitar kita. Rumusnya sederhana: Objek –> Amati–> Ide –> Tuliskan. Sederhana rumusnya tapi tak semudah itu mempraktekkannya kalau kita sibuk sama diri sendiri dan tidak peduli sama sekitar. Berkaitan dengan itu, peserta kelas diberi tugas mengutarakan setidaknya satu pribahasa setiap pertemuan kelas menulis. Rumus di atas tentunya harus dipakai. Dan masih ada tugas menulis dari bacaan, yaitu dari pasal terakhir di buku Memandu Bangsa: Ide-ide Nasrani untuk Kemajuan Negeri. Kalian masih belum punya bukunya? D’ohhh!😛

 

Gambarnya dipinjem dari sini, pembaca.

One thought on “Diajarin Menulis (4) – Kekhawatiran

  1. Ping-balik: Tweets that mention Diajarin Menulis (4) – Kekhawatiran « Logikaku, Hatiku -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s