Hello, Mister Bule!

Nak, kita ini orang Indonesia. Ingat itu! Kita musti hormat sama bule yang dateng ke kampung kita. Apa yang mereka lakukan di sini, itu urusan belakang. Kalau mereka mau ke sini, itu udah syukur sekali, Nak!

 

Pernahkah orang tua kita mengajarkan kalimat sesat di atas pada kita? Orang tua mana di Indonesia ini yang memberi nasehat pada anaknya dengan kalimat seperti itu? Tidak ada. Itu pasti jadi jawaban kita.

 

Lalu kenapa, pengelola dan pekerja di tempat wisata tersenyum sangat sumringah kalau yang dateng bukan WNI, meski mereka buang sampah sembarangan dan menyebutkan permintaan aneh-aneh, permintaan yang tak mungkin dikabulkan untuk rekan sebangsanya? Kenapa kita memaklumi turis-turis dari negeri yang tak pernah kita kunjungi untuk hal-hal yang pasti kita cela jika yang lakukan adalah saudara setanah air?

 

Saking ramahnya orang Indonesia mungkin bikin tingkah laku kita seperti mengagungkan orang dari negeri lain. Atau karena jauh di dalam hati dan logika, kita masih terjajah?

 

Nb: Bule belum tentu lebih hebat, haloooooo! Terinspirasi kisah kekasih waktu berwisata ke Tuk-tuk, Samosir dan berlaku sangat baik pada bule.πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s