Surat untuk Lelaki Lain

Date: October 26, 2010

TO: Lelaki yang sangat dicintai temanku

SUBJECT: Tentang mataharimu

Mungkin kamu pikir perempuan itu sudah bosan menanti pesan darimu atau sekadar cari tahu kabarmu melalui selularnya. Kamu salah. Dia, perempuan itu, akan terus berada di sana. Menunggu. Tak jemu menanti. Sampai ia mendapatimu sadar sepenuh jiwa dan ragamu: hanya dia yang diciptakan untukmu. Dia. Bukan wanita lain di masa depan. Maupun mantan-mantan kekasihmu.

Masihkah kamu sisakan ruang di harimu untuk membalas pesannya? Atau sedikit saja dari waktumu yang kian berkejar-kejaran itu, untuk memikirkannya? Aku rasa tidak. Aku tahu pasti kamu sebenarnya tak layak untuk wanita itu. Bukan karena kami sama-sama perempuan lantas aku mendukungnya. Sebelum kamu tuduh aku yang tidak-tidak, mari kita lihat lagi apa yang selama ini kamu perbuat padanya. Atau perihal apa yang kamu lalai persembahkan untuknya. Wanitamu itu.

Jauh sebelum kamu tahu, wanita itu menetak sebagian cintanya dan disimpan untukmu, kamu bermain-main dengan cinta yang dikaruniakan padamu. Tiap wanita yang tinggi semampai, berkulit putih-halus, wajah tirus, dan bertingkah langkah manja, kiranya selalu menarik perhatianmu. Dan kamu berusaha mati-matian menarik perhatian mereka. Hanya untuk buktikan kamu sanggup membuat mereka menyukaimu.

Tapi sekarang kamu juga tahu, rasa suka mereka sementara. Segera setelah mereka sadar kamu begitu egoisnya, mereka meninggalkanmu. Tak sungkan-sungkan membuatmu kacau karena merasa teralienasi. Dan yang bisa kamu lakukan adalah kembali pada perempuan itu. Temanku yang rela hentikan latihan vokalnya atau gelak candanya bersamaku untuk datang ke tempatmu. Kamu pasti sedang duduk dengan segelas kopi hitam di hadapanmu. Menatap ke jalan raya: orang lalu lalang, melenggang, tertawa riang, tiada yang sepertimu, tiada yang linglung.

Kamu sudah seperti tuhan saja. Sesuka hati memberi instruksi pada perempuan yang bak matahari di hidupmu itu. Kamu perintahkan ia untuk bersinar atau bersembunyi di balik awan kapanpun kamu mau. Apa bedanya kamu dengan wanita-wanita yang menganggapmu sebagai hiburan, ketika kamu sendiri perlakukan temanku seperti liburan –dibutuhkan hanya sesekali. Tapi itulah dia. Untukmu, ia selalu berada di sana.

Tepat saat perempuan itu kembali binarkan senyum di parasmu, kamu malah berpaling pada wanita lain. Wanita pertama dalam pandanganmu, yang tinggi semampai, berkulit putih-halus, wajah tirus, dan bertingkah langkah manja. Begitu saja terus seperti siang dan malam hadir silih-berganti. Perempuan itu jadi siang yang membawa terang dalam duniamu yang gelap karena wanita-wanita selingan.

Aku tidak bilang kamu brengsek. Tapi ternyata kuliah di institut yang konon –katanya, menurut kisah tetua kita—melahirkan pemimpin bangsa, tak kunjung membuatmu cerdas. Atau bijaksana. Cerdas untuk mempertahankan perempuan yang bak matahari itu untuk kelangsungan hidupmu. Atau bijaksana, untuk tidak lagi dan lagi bikin perempuan itu menangis karena ulahmu.

Pun ketika kamu harus keluar dari institut itu karena hampir dua tahun alpa di kelas-kelas yang mengajarkan penggunaan alat-alat pembangkit, pengubah dan pengalir listrik, ia masih berada di sana. Mengelus punggungmu selagi kamu tertunduk dengan air yang membutir dari matamu.

Ah, sudahlah. Aku ini siapa sampai mau mencercamu sedemikian rupa. Pada perempuan yang mencintamu begitu tulus saja kamu tak menaruh peduli. Aku tak berharap banyak padamu. Meski tak marah, aku tidak bisa sangat acuh padamu sehingga punya asa kamu bisa berubah. Aku tidak seperti perempuanmu. Cuma bisa peringatkanmu dari sini. Perempuan itulah yang tetap berada di sana. Menunggu. Tak jemu menanti. Hingga suatu kala ia mendapatimu sadar sepenuh jiwa dan raga: saat kamu berbalik dari jalanmu yang salah, ia berada di sana, merentangkan hatinya untuk memaafkan, meraih hatimu untuk tak lagi mencari-cari kasih semu, dan menghadiakan cinta yang selama ini tersimpan untukmu.

Dan kepadamu, lelaki yang sangat dicintai temanku, berhentilah sejenak dari jalan gelap yang saat ini kamu jalani. Perlahan-lahan, tataplah matahari yang setia menunggumu. Mungkin kamu merasa silau sejenak. Tapi tak mengapa. Di akhir, kamu akan mendapatkan hidupmu cerah dan ceria karena dia. Meski tak mengenalmu, aku yakin, perempuan itulah yang kamu butuhkan. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa matahari, bukan?

3 thoughts on “Surat untuk Lelaki Lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s