Bu Yesi Yulianti, “The One Who Got Away”

Kancing kemeja terakhir telah terpasang. Saya menghadap pada cermin dan tersenyum. “Semangat, Tina! Semangat disidang, ya, cyin” ujar saya pada diri sendiri. Kebiasaan saya memang menyemangati diri.

Hari ini saya menjalani sidang kedua dari rangkaian sidang yang harus dijalani selama kuliah di Jurnalistik. Sidang job-training elektronik. Seharusnya, dua hari sebelumnya saya disidang. Tapi oh tapi, terima kasih untuk dosen berkaca mata yang melupakan jadwal sidang saya dan teman-teman saya. Bisa-bisanya doi masih berada di Purwakarta di saat harus menjalankan proses penyidangan. Jadilah, jadwal sidang diundur hingga hari ini (05/11).

Saya sedang memulaskan bedak pada wajah ketika pesan singkat itu masuk. Informasinya singkat: dosen saya, Bu Yesi Yulianti, meninggal dunia. Ia telah dipanggil Khalik setelah menderita sakit-penyakit selama beberapa tahun. Menurut teman yang menjenguk beliau sehari sebelumnya, Bu Yesi menderita tumor di jantung dan penyempitan pembuluh darah.

Ah, rasa-rasanya canggung jika saya panggil dengan sebutan beliau. Warga Jurnalistik Fikom Unpad pasti kenal sosok Bu Yesi yang selalu ceria dan ceriwis. Selalu –tak pernah tidak ceria. Mungkin karena tergolong muda (Jurnalistik angkatan ’94), Bu Yesi menjadi sosok dosen yang amat menyenangkan. Sebenarnya, bisa dihitung pakai jari sebelah tangan sih, dosen yang pasang tampang serius dan menetapkan jarak dosen-mahasiswa dengan ketatnya di Jurnal. Rata-rata dosen di Jurnal memang berjiwa muda dan seringnya bertampang riang (kecuali pas nyidang kayanya :D). Nah, Bu Yesi ini termasuk yang paling periang di antara semuanya. Dengan suara khasnya yang nyaring (melengking), dia suka memanggil mahasiswanya. Dan tidak jarang menggodai mahasiswa. Apalagi ketika skandal (baca: gosip) melanda mahasiswa itu. Sebagai tanda perhatian, dia suka menghampiri mahasiswa dan menanyakan kabar kami. Lagi sibuk apa, atau malah lagi dekat sama siapa. Maklum, orang Komunikasi, haus informasi.

Bu Yesi juga sangat cerdas. Peribahasa “Tong kosong nyaring bunyinya” tidak berlaku sama sekali padanya. Dia, seperti kebanyakan orang Komunikasi lainnya, sangat suka berbicara. Pula, dia kritis mengamati segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Dan seringnya memerhatikan hal-hal kecil yang banyak orang tahu tapi tak mau ambil peduli. Itu semua diimbangi dengan perangainya yang talkative.

Usai membaca pesan singkat yang mengabarkan kepergian Bu Yesi, saya terhenyak, menutup mata dan sejenak mengucapkan doa pada Sang Khalik. Dia yang memiliki kehidupan, dan sudah menjadi hak-Nya memanggil ciptaan untuk kembali pada-Nya. Tapi ketika mata saya terbuka, saya masih tak percaya. “Masa sih Bu Yesi telah tiada,” tukas saya pada entah siapa.

Bersama teman-teman Jurnalistik ’06, saya mengunjungi kediaman orang tua Bu Yesi di daerah Padjadjaran, Bandung. Our big condolences to her family. Hampir semua dosen sudah berkumpul di sana. Saya merasakan kekelaman menyelimuti tempat itu. Jujur, saya tidak nyaman dengan semua itu. Melihat tangis keluar dari mata yang bertanya-tanya mengapa dia dipanggil di usia semuda itu. Memandangi orang-orang yang mengasihi Bu Yesi berkumpul dan mengingat-ingat kenangan mereka bersama dosen yang senantiasa berpakaian dengan warna-warni cerah itu. Namun memang, ada saat bersuka, ada pula waktu untuk berduka.

I try to say goodbye and I choke

I try to walk away and I stumble

Though I try to hide it, it’s clear

My world crumbles when you are not near

Goodbye and I choke

I try to walk away and I stumble

Though I try to hide it, it’s clear

My world crumbles when you are not near

Kalau ditanya, saya lupa kapan kali terakhir saya bertemu dan menyapa Bu Yesi. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya jarang ke kampus. Kenangan terakhir saya tentang dia mungkin ketika saya begitu senang ketika dia follow saya di Twitter.

Saya tahu Bu Yesi dirawat di rumah sakit. Tapi, saya kira, seperti sekitar setahun lalu dia dirawat di rumah sakit, kali ini Tuhan akan mengizinkannya keluar dari tempat pesakitan dan menjalani hidup normal –mengajar mahasiswanya. Saya salah. Tuhan punya rencana lain. Dia panggil Bu Yesi ke kediaman-Nya.

Saya tidak lihai mengucapkan kata-kata perpisahan. Karena sesungguhnya, saya tidak tahan dengan perpisahan. Saya frustasi jika harus putus hubungan dengan seseorang, apalagi yang punya pengaruh dalam hidup saya. Meski saya masih belum bisa menghayatinya, Bu Yesi sudah tiada. Saya tidak akan lagi disapa ramah oleh Bu Yesi. Tapi yang pasti, saya tahu banyak orang yang mengasihinya. Kebaikannya, keceriannya, serta kepeduliannya membekas bagi orang yang ditinggalkan. Dan semoga kami terus mengingat sosok Bu Yesi yang hangat. Karena kami Jurnalistik bangga dan bahagia pernah punya Bu Yesi sebagai pengajar dan juga kawan. Selamat jalan, Bu Yesi yang kami sayangi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s