Suatu Episode Tentang Kamu… dan Dia

I used to think that I wasn’t fine enough
And I used to think I wasn’t wild enough
But I wont waste my time try’na figure out
Why you playin’ games, whats this all about?
I cant believe your hurtin’ me
I met your girl, what a difference
What you see in her, you ain’t seen in me
But I guess it was all just make believe

”Mempertahankan hubungan bagiku saat ini, seperti mencoba perbaiki gelas yang pecah,” kamu menukas. Lalu kamu lanjutkan, “Terlalu beresiko untuk membuat jemariku terluka. Perihnya nyata karena, kans untuk menyatukan retakan-retakan itu terlalu kecil. Kadang lebih baik gelas itu dikirim ke tempat pembuangan. Tak usah dieratkan kalau hanya bikin nyeri.”

Malam itu dimulai dengan kelabu. Langit di luar abu-abu. Jalanan tidak lagi berdebu. Tidak ada suara kendaraan bermotor yang berderu-deru. Suara Keyshia Cole yang melantunkan “Love” di radio samarkan degup jantung yang menggebu. Saat itu aku begitu marah. Marah pada keadaan. Terlebih pada kekasihmu. Atau pada kamu, aku tak begitu tahu.

Seperti yang lalu-lalu, kamu datang karena relasimu dengan perempuan itu sedang tidak baik. Aku tidak pernah paham kenapa kamu harus datang padaku untuk menceritakan itu. Berkisah dengan sepenuhnya emosi kemarahan sampai wajahmu merah padam. Bak kaset usang, kamu terus putar ulang pertengkaranmu dengan dia.

Aku turut marah karena aku tak pernah mendebatmu untuk apapun. Kita dulu begitu sehati hingga tak pernah soalkan hal kecil. Dan berbesar hati saling memaafkan untuk konflik yang membesar. Tidak seperti kekasihmu yang ributkan remeh-temeh ketelatanmu menjemputnya. Atau ketika kamu membalas pesannya lima atau enam menit lebih lama dari yang ia perkirakan.

Selama ini aku bersusah-payah menginjak-injak kenangan tentangmu yang menjejak begitu dalam di dasar hatiku. Sebelumnya kusangka, akulah yang bertahta di langit hatimu. Tapi ternyata bukan aku. Bukan aku yang kamu berikan tiket all-acces-area di kehidupanmu. Bukan aku yang kamu hadiahkan kunci untuk mendiami ruang hatimu.

“Hidup adalah pilihan. Dan apa yang kamu pilih menunjukkan siapa dirimu sesungguhnya,” dan kutegaskan, “Ketika kamu memilih dia, kamu sadar segala drama ini pasti jadi bagian kisah kalian.” Dengan lembut sekali kukatakan, “Tidak perlu ada drama kacangan seperti ini jika bersamaku.” Suaraku melayang ditangkap angin malam. Kedua tanganmu menangkup wajahmu. Kamu berusaha menutup mata dari dunia.

Ragu-ragu kubelai rambutmu. Tapi langsung kutarik tanganku. Takut aku terlalu nyaman karena menyentuhmu. Kamu menengadah. Menatapku tajam dengan bola mata yang membinar. “Mungkin kalau sama kamu aku gak bakalan kayak gini.”

Seketika mimpi-mimpiku tentang bersamamu mendesak, ingin menyeruak keluar dari kotak berlabel harapan yang selama ini kusimpan untukmu. Tapi kamu lanjutkan, “Maaf. Aku tak bermaksud ucapkan itu. Aku pasti hanya akan menyakitimu jika kita bersama. Aku terlalu egois buatmu. Kamu terlalu sabar buatku.” Kusimpan lagi kotak itu. Kubuang gemboknya ke mana entah.
Kamu bergegas berdiri. Dan kalimat-kalimatmu selanjutnya hampir meluruhkan butiran air mata yang terpelihara terlalu lama di malam-malam aku memikirkanmu. Semuanya melesak ketika kudengar rentetan kata meluncur dari bibirmu.

Always been you.. and her. Not me!

Always been you.. and her. Not me!

“Aku ambil resiko melukakan jariku untuk menyatukan pecahan kaca itu. Sekalipun mengucurkan darah, aku mau lakukan apapun untuk memperjuangkan keutuhan hubunganku dengannya,” kamu berkata-kata pada dirimu sendiri. Berbicara pada malam yang hening. Tapi tentu saja itu merupa peringatan bagiku. Bahwa kamu, seperti selalu, bukanlah pilihan buatku. Dan itu membuatmu terlihat sangat brengsek saat ini. Memaksaku untuk marah pada keadaan. Terlebih pada kekasihmu. Atau pada kamu, aku tak begitu tahu.

Tak yakin ku kan mampu hapus rasa sakitku
Dulu selalu perjuangkan cinta kita, namun apa salahku
Hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu

Aku mencoba membenahi hatiku saat Agnes Monica menyanyikan “Karna Ku Sanggup” yang tidak seperti biasanya, membuatku merasa terlalu lemah untuk berdampingan dengan kenyataan. Kalau aku terus berjalan, pasti bukan karna ku sanggup. Tapi karena aku harus.
Aku memintamu untuk pulang. “Jangan lupa tutup gerbang jika kamu meninggalkan rumahku,” ujarku dan langsung masuk ke kamar. Kuambil ponselku dan kuketikkan, “Kali ini kau menang lagi, perempuan sialan. Hell!! Kenapa sih, dari semua perempuan, dia harus memilih adikku sendiri?” Kukirimkan pesan itu pada kekasihmu.

Gambar diambil di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s