Diajarin Menulis (6)

“Akhirnya datang juga.” Mungkin itu yang akan dikatakan Bang Sam (dan jutaan pembaca lainnya. Halahalah) waktu membaca tulisan saya yang ke enam tentang Kelas Menulis.😀 Hidup terasa begitu cepat waktu saya mempersiapkan topik untuk penelitian/skripsi saya. Akibatnya, saya seperti keasyikan sendiri berkutat dengan perihal idealisme dan konglomerasi media itu. Parahnya, saya kadang sampai lupa punya tugas menulis sehingga harus tidur kurang dari dua jam untuk menyelesaikan tugas ke lima untuk dikumpulkan ke Bang Sam. *buka kartu sendiri*

Ide tulen bagai lampu yang menerangi🙂

Pada pertemuan keenam, Bang Sam kembali menegaskan perihal kerangka tulisan. Namun kali ini difokuskan pada perumusan ide. “Tulisan mengabadikan ide,” begitulah Bang Sam berujar pada kami. Dan, saudara-saudara, ada berbagai jenis ide. Yang pertama ialah ide tulen. Ide semacam inilah yang kita dapat di tulisan-tulisan yang setelah membacanya kita akan manggut-manggut dan berpikir, “Bener juga ya kata penulisnya!” Ide tulen ini sangat khas, ia menerap ide luar diri dan diubahkan menjadi ide yang khas sendiri. Jadi satu topik yang sangat umum bisa ditulis oleh beberapa penulis dengan kekhasan masing-masing.

Selain ide tulen, kita mengenal ide jiplakan dan ide cuplikan. Kedua ini kurang menggugah penduduk bumi ini. Sebab, pengungkap ide semacam ini biasanya kurang cerdas dan cenderung malas tapi ingin terlihat pintar. (Siapa sih yang mengagumi orang semacam itu di bumi ini? :D) Jadilah mereka bisanya cuma menyalin/meniru ide-ide orang lain hampir persis (ide jiplakan-red) atau mengutip ide sana-sini, ditambahkan sedikit dengan kata-kata sendiri dan diramu sedemikian rupa sehingga “tampak” seperti tulisan yang bagus (bagi orang awam saja tentunya) –ide cupilkan.

Tentunya, penulis Nasrani menginginkan dirinya bisa menghasilkan ide tulen, yang bisa memberkati bangsa dengan ide-idenya. Seperti yang dikatakan di atas, ide jika tidak disimpan dan didokumentasikan melalui tulisan, bisa lenyap tak berjejak. Untuk itu, penulis harus bisa merumuskan ide terlebih dahulu sehingga pesan dalam tulisannya benar-benar ditangkap pembaca. Menurut Bang Sam, ada tiga syarat dalam perumusan ide, yakni: ide harus padu (antara ide cabangan dan ide utama harus padu, tak boleh pecah), mengalir (dari awal hingga penutup, tulisan harus runut dan lancar), dan ide harus kentara (ide utama pada tulisan harus benar-benar kelihatan; tidak ditutupi oleh ide cabangan).

Tidak mudah memang untuk bisa memiliki ide tulen yang bisa menggetarkan sistem berpikir orang (dan ujung-ujungnya mengubahkan cara pandang orang terhadap sesuatu). Bagi saya, yang pertama tentunya hikmat dari Tuhan yang membuat penulis bisa menghasilkan ide tulen. Tambahannya, peka terhadap kondisi sekitar, banyak-banyak membaca, dan bertukar pikiran sama orang lain. Mungkin pada awalnya kita hanya bisa “menjiplak” ide orang lain. Tapi biarlah itu berlangsung di pikiran saja, jangan masuk dalam tulisan. Kuncinya sih melatih diri hingga akhirnya kita benar-benar bisa berpikir mandiri dan malahan ide kita yang dijiplak orang.🙂

 

N.b: Oh iya tuips, eh, pembaca, mulai saat ini saya menampilkan tugas-tugas saya selama Kelas Menulis di blog ini. (Tentunya dengan penyuntingan ketat :D) Dan selamat tahun baru bagi kita semua. Tambah semangat menulis, yaaaaa 🙂

N.b.b: Gambar di atas berasal dari sini ini loh tuips, eh, pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s