Tahun Baru Tidak Seharusnya Dibuka dengan Duka

Itu menurut saya. Sebelum kuliah (waktu masih jadi anak rumahan), saya selalu melewatkan tahun baru dengan keluarga. Kami berkumpul dan melaksanakan ibadah untuk membuka tahun. Meskipun kadang, saya bosan dan pernah kesal juga karena tidak diizinikan melewatkan malam tahun baru bersama teman, tapi saya tidak pernah merasa sedih. Karena toh, saya masih punya keluarga, masih ada mama dan bapak saya setidaknya yang menemani ketika tahun demi tahun berganti.

Setelah tidak tinggal di rumah lagi (kuliah dan mulai nge-kos), saya melewatkan malam tahun baru bersama teman atau saudara saya. Ini membuat saya lebih menghargai waktu-waktu bersama keluarga yang dulu itu dan berusaha untuk menikmati momen demi momen bersama teman atau saudara yang saat ini bisa saya dapatkan. Dan itu semua membuat saya sampai pada simpulan: tahun baru tidak seharusnya dibuka dengan duka.

Sampai saya mendapat kabar bahwa teman saya meninggal. Sabtu (01/01/2011) itu, dalam perjalanan ke kos dari tempat makan, teman saya mengabarkan Sri Lidia Silalahi telah berpulang ke rumah Bapa. Waktu disebutkan namanya, saya berharap penuh, teman yang mengirimkan pesan lupa mengetikkan kata “mama” atau “papa” atau “kakak” atau “adik” dari Lidia ini yang meninggal. Teman saya itu tidak salah. Lidia memang sudah dipanggil Tuhan. Di hari pertama tahun 2011. Ketika masih dalam euforia bahagia menyambut tahun yang baru dan dalam suasana liburan di Lembang, Tuhan memanggil dia ke sisi-Nya.

Lidia ini teman seangkatan saya. Dulu kenalan waktu masih baru-baru jadi mahasiswa. Seiring berjalannya waktu, dengan kesibukan di perkuliahan masing-masing (kami beda fakultas), kami menjadi tidak akrab, bahkan seperti lupa pernah kenalan. Tau kan, saking seringnya kenalan sama orang waktu jadi mahasiswa baru, kita jadi lupa pernah kenalan sama siapa aja. Ketika dipertemukan kembali dalam KTB (Kelompok Tumbuh Bersama – kelompok PA untuk angkatan akhir) “Nehemia” barulah kami sedikit akrab. Saya jadi tahu beberapa hal tentang dia karena saling bercerita di pertemuan KTB. Tapi tetap saja kami tidak begitu akrab. Mungkin memang “bukan bagian saya” untuk menjadi teman dekatnya.

Tapi ketika mendapat kabar tentang kepergiannya ke alam baka, saya seperti ditegur. Yang pertama, merasa bersalah juga kenapa tidak mengakrabkan diri dengannya dulu sehingga kami bisa berbagi lebih banyak dan punya manfaat bagi satu sama lain. Yang kedua, yang lebih utama, saya ditegur karena jujur, dulu saya sempat iri sama dia.

Begini, Lidia ini saya anggap pintar karena dia lulus kurang dari empat tahun (masa normal menjadi mahasiswa). Dan dia juga sempat cerita ingin melanjutkan sekolah ke S2 meski salah satu dari orang tuanya tidak setuju dan entah mengapa dia tidak jadi melanjutkan keinginan itu (atau sempat, saya tidak begitu tahu). Lidia malah sudah diperkerjakan suatu perusahaan swasta di Jakarta. Waktu itu saya berpikir betapa beruntungnya dia, lulus cepat dan tidak repot-repot menggumulkan untuk melanjutkan sekolah. Kuliah S2 kan tidak murah. Akan tetapi sepertinya bukan itu yang jadi masalah di keluarganya. Ditambah lagi dia langsung bekerja. Wah, kok kayanya jalan hidup dia begitu mulus ya? Pikir saya waktu itu begitu sempitnya. Saya tidak lama-lama menyimpan perasaan iri itu. Karena tidak ada untungnya bagi saya dan itu malah bisa-bisa membuat saya stres bahkan depresi. Dan kematian Lidia membuat saya menyesal karena pernah iri. Memang tidak ada satu pun orang di dunia ini yang jalan hidupnya mulus. Saya yakin Lidia bisa cepat lulus dan cepat bekerja karena dia berjuang untuk itu. Dan kalau uang tidak menjadi masalah besar di keluarga mereka, maka itu adalah berkat mereka yang tak perlu saya gugat.

Saya sempat lihat halaman Facebook-nya dan melihat berbagai ucapan bela sungkawa, ungkapan rindu, dan kata-kata yang merelakan kepergian Lidia dari teman-temannya. Begitu banyak dan mengharukannya sampai-sampai saya berharap dia bisa melihat itu semua dan menyadari betapa banyak yang mengasihinya. Saya tidak mengisi dinding Facebook­-nya karena saya tahu sudah terlambat bagi saya untuk menyatakan betapa saya bersyukur mengenal dia, meski tidak terlalu dekat. Mungkin ketika masih ada di dunia yang fana ini kami tidak bisa berbagi banyak. Tapi kepergiannya jelas mengajarkan saya hal-hal berharga tentang hidup. Dan semoga doa saya bisa menguatkan keluarganya dan orang-orang yang begitu berduka dengan kepergian Lidia.  Saya percaya Tuhan bisa memberikan kekuatan pada mereka, dan pada saya yang masih punya tugas dan kewajiban dunia, sehingga tidak dipanggil secepat Lidia…

 

My deep condolence

N.b: Di awal tahun saya juga diingatkan, lebih tepatnya ditantang, apakah saya siap jika tahun ini mengalami duka karena kehilangan orang-orang yang saya kasihi? Saya jawab tidak. Saya tidak akan siap. Tidak akan pernah siap. Tapi, saya akan tetap merelakan karena itu yang terbaik buat mereka.

One thought on “Tahun Baru Tidak Seharusnya Dibuka dengan Duka

  1. saya memang tidak mengenalnya. Abang saya adalah adik angkatan dari kak lidia. Saya sangat sedih mendengar kabar ini di awal tahun meski tidak mengenalnya, tidak tahu rupanya, tapi saya yakin dia orang yang sangat baik dan sangat beruntung.
    saat ini saya cuma bisa mengucapkna selamat jalan buat kak lidia. Tuhan sayang sekali sama kakak..
    Kakak pasti sangat bahagia di pangkuan Yesus.
    tuhan yesus juga pasti sangt menyayangi keluarga kakak..
    saya juga ingin menjadi orang seperti kakak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s