Diajarin Menulis (7) – Bahasa

Bahasa Indonesia: Pelajari dan Cintai

Sejauh ini, tiada yang menggugah saya sedemikian rupa selain bahasa. Sungguh saya sangat mencintai bahasa. Sejauh ini yang bisa membuat saya sangat amat bergairah ialah ketika membaca tulisan dengan bahasa yang indah atau ucapan seseorang yang benar-benar “sadar bahasa”. Dan saya tidak bisa tidak bersyukur di abad-abad lalu Tuhan menghukum bangsa Babel sehingga terciptalah keragaman bahasa seperti yang saat ini kita rasakan. Memang, setiap perbuatan Tuhan mendatangkan kebaikan pada manusia (walaupun tidak selalu enak di awalnya).🙂

Setelah sekian lamanya Bang Sam menegaskan pentingnya ide dalam tulisan, kini beliau mengingatkan peserta kelas (dan rasa-rasanya kita semua) betapa pentingnya bahasa dalam rangka menggagas ide. Penguasaan bahasa, menurut Bang Sam, merupakan syarat mutlak ketika menyampaikan ide. Dan ini bukan hanya untuk menulis tapi berlaku untuk berbicara juga.

Pertemuan ketujuh benar-benar membukakan mata hati saya, terutama dalam hal mencintai bahasa Indonesia. Saya (dan berjuta-juta warga labil lainnya) sangat gemar mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Kalau mengutip istilah Seniman Mbeling (baca: Remy Sylado alias Yopi Tambayong), saya ini mengidap penyakit kebarat-baratan atau ‘nginggris’. Saya senang sekali sama hal-hal beraroma Barat, berlaku juga sama bahasanya. Penyakit itu, digabungkan dengan kemampuan bahasa Inggris yang seujung jari kelingking (baca: tak ada apa-apanya dibandingkan penguasaan bahasa Indonesia) membuat saya cenderung memakai kedua bahasa itu secara bersamaan bukan saja ketika berbicara tapi juga ketika menulis. Beberapa tulisan di blog ini pun saya perlakukan begitu.

Bagi warga labil, pencampuran bahasa sudah menjadi kebiasaan, dan merasuk ke sukma hingga hal ini menjadikan kami tampak keren dan modern (entah apa dasarnya). Tapi bagi orang-orang yang jiwanya sudah stabil dan tidak lagi kacau, perilaku seperti itu menunjukkan satu hal utama: rasa rendah diri terhadap bahasa bangsa sendiri. Padahal, jelas sekali bahwa saya lebih menguasai bahasa Indonesia dibandingkan bahasa lain (termasuk bahasa Inggris). Tapi karena jiwa saya masih morat-marit dan tidak kokoh dalam kecintaan terhadap bangsa, jadilah saya melakukan hal tidak senonoh itu.

Yang dibutuhkan hanya satu, yakni bertobat dari dosa saya yang telah merendahkan bahasa sendiri. Bang Sam memberikan banyak alasan mengapa saya (dan kamu, kalau termasuk warga yang labil dalam berbahasa) harus bertobat. Rasa rendah diri itu tidak beralasan jika kita tahu bahwa bahasa Indonesia (bahasa Melayu orang Indonesia) merupakan “bahasa yang sangat berpengaruh di Asia Tenggara dan satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar” (kata ahli bahasa James T. Collins). Lagipula, benar bahwa “bahasa menunjukkan bangsa”. Janganlah kita mau terus-terusan merendahkan martabat bangsa sendiri karena masih memuja-muja bahasa asing secara nanggung (baca: mencampur-campurkan bahasa). Jadi, tolong ingatkan saya untuk tidak terlena dengan penyakit ‘kebarat-baratan’ itu. Jangan ragu-ragu menegur saya jika di blog ini masih saja ada bahasa campur aduk yang bikin gatal telinga nasionalisme kita. Saya akan sangat berterima kasih jika kamu mau melakukannya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s