Kisah Daku di Kota Baru

Alkisah di suatu hari yang cerah, daku mengikuti audisi untuk boleh berpindah ke tempat yang daku idam-idamkan. Mungkin karena tempat itu sangat berharga dan tidak semua orang diperkenankan memasukinya, ada syarat yang harus daku penuhi.

Audisi itu bernama sidang usmas (usulan masalah). Syarat yang harus daku penuhi ialah menyusun laporan Usmas yang isinya tidak lebih dari Bab I Skripsi. Dan tempat yang daku idam-idamkan itu tak lain adalah “Berjuang Menyelesaikan Kuliah”.

Setelah tiga kali mencoba ikut audisi, dengan kekurangan di sana-sini dan semangat yang membuncah karena baru bertambah usia, daku berhasil lolos audisi itu pada Rabu (16/02). Akhirnya, juri audisi, yakni Pak Dandi dan Bu Maimon meloloskan judul skripsi daku dan bersedia membukakan gerbang menuju kota “Berjuang Menyelesaikan Kuliah”. Tapi tunggu dulu, ternyata masih ada “sandi” agar gerbang masuk ke tempat itu benar-benar terbuka. Ini “sandi” yang tidak biasa, karena berwujud lebih dari kata-kata. “Sandi” ini harus dikerjakan dengan referensi dan tambahan materi. “Sandi” ini dikenal juga dengan nama revisi.

Tak mau berlama-lama, daku mengumpulkan revisi dua hari setelah itu (Jumat, 18 Februari). Dan pada Senin (21/02) siang yang indah, Wakil Walikota “Berjuang Menyelesaikan Kuliah” mengumumkan pada daku juru kunci yang akan membantu daku menjelajahi kota yang amat baru bagiku ini.

Sebelumnya, tentu saja daku sudah lapor pada Pemilik Semesta perihal daku yang lulus audisi ini. Dia turut senang dan mengingatkan agar daku tidak usah berbetah-betah di kota ini. “Boleh saja kamu akrab dengan kota ini, anak-Ku, tapi janganlah lekatkan hati dan logikamu padanya. Ingat, ini hanya satu dari puluhan kota yang harus kamu tinggali. Jangan berlama-lama tinggal di situ,” begitu kata-Nya, bijak seperti selalu.

Pemilik Semesta berkata Ia telah menyiapkan dua orang sebagai juru kunci agar aku tidak linglung-linglung amat ketika berjalan-jalan dan mempelajari kota ini. Ketika kutanya siapa, Ia hanya tersenyum dan bilang seseorang akan menyampaikannya padaku.



Ternyata Ia mengutus Wakil Walikota untuk memberi tahu daku dua orang yang beruntung menjadi juru kunciku ini. Wakil Walikota, yang ingin daku panggil sebagai Bu Pandan pun menuliskan dua nama di halaman awal revisi usmas daku. Dua nama itu ialah *sila tanya sendiri padaku*. Hehe.

“Daku kenal dua nama itu,” pikir daku. Kami pernah bertemu sebelumnya dalam kota “Masa-masa Kuliah”. Nama Pertama sangat mengejutkanku. Pikiran pertama yang tercetus adalah, “Daku tak yakin dia bisa membimbingku. Kenapa Pemilik Semesta memberikannya padaku?” Sempat sedih sesaat karena menurut daku ini tak adil.

“Karena skripsi kamu tentang politik, jadi Nama Pertama ini saja yang jadi pembimbing utama kamu, ya,” begitu Wakil Walikota berujar. Seketika daku rasakan dunia runtuh hingga Wakil Walikota menyebutkan Nama Kedua yang memberi kekuatan padaku untuk membangun lagi dunia yang runtuh tadi.

Ingatan daku seperti terhampar pada tahun pertama kuliah, tepatnya di semester kedua. Waktu itu, saking terkesimanya dengan cara mengajar dan isi “otak” dari Nama Kedua, daku sempat memohon pada Pemilik Semesta untuk mengizinkan dia untuk menjadi pembimbing daku dalam mengerjakan skripsi. Betapa daku bersyukur karena telah berhati-hati mengucapkan permohonan saat itu.

Dan di sinilah daku, masih merasa asing di kota ini. Lagipula, belum bertemu secara resmi dengan dua juru kunci itu. Surat Keputusan (SK) untuk dua dosen itu belum keluar. Sementara daku mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Gelas semangat masih penuh. Semoga itu bisa daku jaga hingga selesai belajar di kota yang satu ini.

N.B: Jangan cuma membaca, ayo semangati daku!😀😀 Entah mengapa, daku merasa kota “Wisuda” tengah giat memanggil-manggil daku. Menurutmu kenapa ya? #ihik :p
N.B (lagi): Sebenarnya daku ingin sekali membeberkan judul skripsi daku. Tapi daku kan rada cerdas. Daku menyadari kemungkinan skripsi daku ini dicontek orang. Hehe. Intinya sih, skripsi daku tentang profesi wartawan, ada suatu kasus yang amat menarik untuk diteliti (halahhh…) dan melibatkan dua stasiun televisi terkemuka di bumi Indonesia ini.😀
N.B (lagi dan lagi): Sebenarnya juga, daku masih bertanya-tanya, mengapa bisa skripsi daku ada hubungannya dengan politik. Hahahaa. Politik loh. Hahahaaa. Tahu kan, politik? Hahahaa. *depresi, terjun bebas dari lantai 20 rumah semut* >.<

3 thoughts on “Kisah Daku di Kota Baru

  1. hahahahahahaha

    pasti analisis tv one sama metro tv….
    yaiyalah ttg politik ran….kduanya dr otak politisi tak sealiran….

    anyway, bon courage pour prendre ta ville ya…..
    semangat semangat!!!

  2. Terjebak harus menyemangati nih, karena pesan si penulis kalo udah membaca tulisannya kudu menyemangati dirinya juga…😀

    Hmmm, baiklah! Menurutku semangat dapat memberi kekuatan. Tanpa semangat bagaimana bisa kuat? Semangat! Kuat! Semangat! Kuat! Semangat! Kuat!

    *Jangan patah semangatmu, jangan hilang kekuatanmu. Selamat semangat setiap saat!

    Pulang dulu ah, salam semangat😀😀😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s