Kemarin Aku Bertemu Gadis di Rumah Makan

Kemarin aku bertemu Gadis di rumah makan. Dia sangat ceria seperti ada lotere yang baru saja dia menangkan. Awalnya aku tak merasa ada yang perlu dipertanyakan. Sampai kusadari ada semacam kepingan kepura-puraan yang amat mencurigakan. Aku mengerti ini bukan sesuatu yang dia ciptakan. Entah mengapa aku berpikir Gadis hanya sedang dikelabui sekumpulan awan. Saat ini dia mungkin tak bisa melihat apa yang ada di balik gumpalan yang sepintas tampaknya menawarkan kebahagiaan. Atau bisa saja dia melihatnya tapi setuju-setuju saja lebur dalam semunya kesenangan. Dan kecurigaanku berakhir pada satu kesimpulan. Tak bisa kujelaskan, tapi aku yakin Gadis sedang hidup dalam angan.

Angan itu menjelma menjadi serupa cinta yang menyenangkan. Tahu kan, perasaan menggebu-gebu yang membuat logika begitu saja kita abaikan. Atas nama cinta yang didengung-dengungkan roman picisan, aku melihat Gadis menjadi seseorang yang tidak dia inginkan. Aku tahu betul apa yang Gadis rasakan. Gadis ingin menjadi diri sendiri tapi ilusi tentang indahnya cinta sejati selalu saja sanggup membuatnya tertahan. Pun tekadnya tak cukup kuat menembus awan yang komposisi utamanya hanyalah kesongaran. Bagaimana pula Gadis bisa menemui macam begini urusan?

Gadis tertutup mata batinnya sehingga tak melihat di sisi lain masih ada pilihan. Bahwa masa depan bukanlah jalan satu arah yang kaku ditetapkan. Bahwa tak seharusnya dia menetap pada cinta yang tidak mencerahkan. Dan untuk itu semua, pada Gadis aku merasa kasihan. Tapi sebagai orang luar, mungkin untuk sementara aku hanya akan menonton. Apa yang sekarang dialami rasa-rasanya membuat ia begitu rentan. Rentan menolak bujukan untuk kembali berpulang pada sosok yang konon jadi teladan. Rentan membuatnya berpikir orang-orang sekitarnya hanya bisa mengecewakan dan tak bisa membiarkan barang sebentar lagi bahagia semu ini ia rasakan.

Dan kemarin aku bertemu Gadis di rumah makan. Dia sangat ceria seperti ada lotere yang baru saja dia menangkan. Awalnya aku tak mau mengeluarkan sangkaan, tapi senyum cerianya ternyata hanya sejahtera gadungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s