Labil

“Es krim memang selalu bisa menyelamatkan hari,” kau berkata dengan sisa-sisa tawa di tempat dudukmu sambil menikmati Banana Split yang tinggal satu scoop.

Aku memandang ke langit yang terlalu cerah untuk bulan Februari seperti ini.

“Ini kan karena lagi matahari sedang ganas-ganasnya saja,” kataku tidak setuju. Entah kenapa mukaku berubah kuyu.

“Kau kenapa?” tetiba kau meletakkan sendok mungil yang dari tadi kau gunakan untuk memasukkan gabungan buah pisang dan es krim yang mulai meleleh itu ke mulutmu.

“Gak apa-apa. Kurasa memang tidak ada yang abadi. Maksudku, dalam pengertian, tak ada yang cocok di segala suasana, atau segala masa. “

Kau memandangku dengan tatapan tak percaya. Baru beberapa menit berlalu dari kita yang terbahak-bahak hanya karena melihat status teman yang kita hakimi alay.

“Benar, kan? Apa kau bisa pastikan, es krim ini rasanya sama ketika bumi didera hujan sederas-derasnya?” ujarku, tampak jelas usahaku menghentikanmu dari ekspresi penasaran.

Mungkin saja aku sedang labil. Lagipula, kondisi stabil apa sih yang diinginkan orang-orang? Apa itu maksudnya supaya aku behave dalam berbagai situasi? Atau aku memang tak boleh menunjukkan melankolis di beberapa kesempatan? Tak sekalipun boleh mengeluarkan sisi kekanakanku pada orang-orang sekitar? Aku hanyalah perempuan labil di dunia yang, dalam arti sesungguhnya, labil.

“Masalah di kerjaan?” ternyata kau tak membiarkanku begitu saja.

Dan atas nama hidup yang normal sekaligus stabil, aku tersenyum kecil dan mengangguk.
Kau ikut mengangguk dan mengunci mulut; membukanya sesekali untuk menghabiskan es krim yang kini benar-benar mencair. Dan di dalam benak, dengan sikap dingin, kita sama-sama menyalahkan, mengapa situasi yang membeku tidak bisa mencair secepat es krim yang terhidang di meja ini.

I’m so unpredictable
you don’t know what to think, so unemotional
wonder if I’m even still in love, you see
I don’t know what to tell you now
it’s always harder the second time around

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s