Seteru

Satu pelukan mungkin bisa mengubah seteru kalian, Jo..

“Aku berantem lagi sama papa,” kalimat pertama itu mengucur begitu aku membukakan pintu untukmu.

Seperti selalu, setelah beradu kata dan juga murka dengan ayah kandungmu, kau pasti memberitahuku. Lalu segera menemuiku untuk menceritakan detil dan emosi yang kau rasakan.

Aku tidak berkata apa-apa. Menunggu kau menceritakan kejadian yang hampir kuingat bagaimana alurnya.

“Tapi kali ini berbeda. Ini pertengkaran kami yang paling besar,” ujarmu seperti membaca pikiranku yang bosan dengan perseteruan ayah-anak ini.

“Aku gak akan lagi kembali ke rumahnya itu. Biarlah dia berbahagia dengan istrinya itu,” kau melanjutkan. Emosimu tidak meledak-ledak lagi.

“Ngng, tapi mamamu kan juga istrinya,” aku berujar pelan. Sangat pelan sampai aku berharap kau tak usah mendengarnya.

“Iya, aku tahu. Dan itu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Makanya Kakak juga kalau nikah nanti harus hati-hati. Jangan sampai menyesal sampai mati. Jangan seperti mamaku, yang ditipu mentah-mentah. Aku aja sebagai cowok malu mengakui ada dari kaumku yang bisa kurang ajar seperti papa,” aku menyesal telah menyulut emosimu lagi.

Aku menyuruhmu minum dahulu sebelum bercerita lebih jauh. Minuman dingin untuk hati yang panas.
Aku tahu bukan maumu jadi keturunan dari orang seperti papamu. Kurasa drama di sinetron pun tidak akan bisa seseru kisah keluargamu.

“Kalau aku gak kenal Tuhan ya Kak, udah kumusuhi seumur hidup papaku itu. Kemarin-kemarin aku sudah maafin dia. Tapi sekarang dia berulah lagi. Bisa-bisanya dia bilang tak mau lagi membiayai aku, kakakku, dan adikku lagi. Macam tak laki-laki dia kutengok,” ternyata minuman itu gagal mendinginkan cuaca hatimu.

Aku hanya bisa memandangimu. Tidak dengan perasaan iba, karena aku tahu kau lelaki yang cukup tegar menghadapi masalah pelik ini. Aku mengerti, susah sekali memaafkan orang seperti papamu. Sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan mamamu dan kau dan saudari-saudarimu, sempat juga menganggap kalian tidak ada selama beberapa tahun. Kini, setelah pengakuan dosa dan permohonan maaf yang diiringi isak tangis dan tekuk lutut pada mamamu dan kau dan saudari-saudarimu, dia tidak mau memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang bapak.

“Siapa suruh dia kawin lagi. Satu istri aja pun udah susah dinafkahi, ini ada dua istrinya. Belum lagi anaknya ada lima sekarang. Salah dia lah itu gak bisa nahan nafsu,” akhirnya kata-kata itu keluar. Perkataan yang selalu ada di setiap momen pasca-perang antara ayah dengan satu-satunya anak lelaki di keluargamu.

Dan meski aku tak mengucapkan apa-apa lagi, kau pun tahu aku tak pernah setuju dengan pernyataanmu. Aku tak sepaham dengan pemberian maaf yang ditarik lagi. Pengampunan bukan barang rusak yang bisa dikembalikan jika si pembeli kecewa mendapatkannya.

Setelah tegukan terakhir, kau pamit. “Mama pasti nyariin aku ini, Kak. Makasi ya buat waktumu, Kak. Gak tau lagi aku harus ke cerita ke siapa. Gak banyak yang ngerti tentang masalahku ini,” aku hanya bisa membalas ucapan terima kasihmu dengan senyum paling tulus yang bisa kutunjukkan. Semoga itu bisa menambah semangatmu, karena tahu, ketika bertemu dengan mamamu, kau harus terlihat tegar untuk bisa menepis air matanya keluar.

Aku mengantarmu sampai gerbang kosan. Dan baru masuk lagi setelah melihat punggungmu hilang di ujung gang. Satu hal yang bisa kulakukan ketika kembali ke kamar hanya mengirimkan pesan singkat ini.

Message: Mau sampai kapan papa mau dimusuhi anak-anak papa? Bukan cuma aku dan Lina loh anak papa. Johan, Kak Jessie, dan Jeni juga anak-anak papa, papa sadar itu kan?
To : Papa (+62813979654XX)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s