The Space Between Us: PRT Istimewa dari Bombay

Dari seorang pembantu pun, kita bisa belajar.

Selama ini saya mengenal India sebatas apa yang ditampilkan di layar kaca. Selain selebritasnya, saya hanya tahu nama orang India yang jadi ratu kecantikan sejagat raya. Waktu masih SD, ketika menyaksikan film India, bapak saya pernah berujar, “Di filmnya saja orang India banyak yang kaya, kalau aslinya, kebanyakan mereka lebih miskin dari orang-orang miskin Indonesia.”

Dulu saya pikir itu tidak mungkin, karena mata saya dijejali oleh pemandangan rumah-rumah besar dan pakaian khas India yang didominasi kemegahan dan kemewahan. Kisah klise antara pria miskin yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan gadis kaya raya, atau sebaliknya, pria tajir yang berjuang menentang budaya juga orang tua untuk mempertahankan cintanya pada gadis miskin jadi tema yang populer di film-film India.

Pandangan itu kemudian bergeser beberapa derajat setelah saya membaca novel The Space Between Us karya Thrity Umrigar. Di novelnya, jurnalis Washington Post itu memberi sudut pandang berbeda dari apa yang selama ini coba dibangun oleh produser dan sutradara film-film India. Kesenjangan sosial jadi tema utama yang diangkat Umrigar dalam The Space BetweenUs. Bagi penggemar drama picisan India, maaf saja, kalian takkan menemukan tarian dramatis di tengah rinai hujan di novel itu. Bahkan tak ada Inspektur Vijay yang akan menyelamatkan kaum marginal di novel yang hanya 430 halaman itu.

Kisah di novel berpusat pada Bhima, perempuan tua yang berprofesi menjadi pembantu rumah tangga di rumah wanita kaya Sera Dubash. Pengalaman hidup yang pahit dan periode kebersamaan yang sangat lama membuat keduanya bagai bersahabat tapi dipisahkan oleh status finansial, kelas, dan darah.

Keseharian Bhima dijalani di dua dunia. Yang satu bagai neraka karena ia bersama Maya, cucunya, tinggal di gubuk sempit di suatu pemukiman kumuh yang bahkan lebih gelap dari warna kulit Bhima, dan sangat akrab dengan bau dan kriminalitas, serta tetangga yang senang bergunjing. Dan “api” di neraka dunia Bhima semacam kurang panas sehingga ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Maya, harapan utamanya untuk keluar dari neraka itu, ternyata hamil di luar nikah ketika masih duduk di bangku kuliah.

Akan tetapi surga bagi Bhima ialah ketika ia bekerja di rumah Serabai, majikan yang memercayainya hampir 100 persen. Tidak seperti kebanyakan majikan, Serabai memperlakukan Bhima seperti saudara, meskipun tak mengizinkan Bhima duduk di kursi mewah rumahnya, atau makan di meja yang sama dengan keluarganya. Serabai memperbolehkan Bhima pergi ke pasar dengan taksi sementara pembantu-pembantu lainnya di Bombay harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk membeli kebutuhan majikannya. Bahkan Serabai menguliahkan Maya, semata-mata karena ia mengasihi Bhima dan menginginkan masa depan yang lebih cerah di dunia gelap milik perempuan tua itu.

Membaca The Space Between Us seperti menonton film karena deskripsi yang diberikan Umrigar sangat detil dan hidup. Alur maju-mundurnya sama sekali tidak menyulitkan saya sebagai pembaca. Malah saya seperti menyaksikan kisah Bhima yang diselingi pembacaan buku harian, saking seringnya Bhima mengungkit masa lalu. Sebab bagi Bhima, “Masa lalu selalu hadir. Ia seperti kulit di tangan –kemarin dia ada di situ dan hari ini ada di sini; tak pernah ke mana-mana.”

Dan sulit sekali untuk tidak membanding-bandingkan Bombay yang digambarkan Umrigar dalam novel ini dengan Jakarta yang saya kenal selama ini. Yang terlintas dalam benak ialah: kalau orang-orang Jakarta bertahan dengan individualitas dan kesemena-menaannya memperlakukan lingkungan, bukan hal yang mustahil Jakarta akan menjadi sama kotor, kejam, dan jeleknya seperti Bombay di mata Umrigar.

  • -Tamauli Tina-

  • 2 thoughts on “The Space Between Us: PRT Istimewa dari Bombay

    1. Hahaha… “Masa lalu selalu hadir. Ia seperti kulit di tangan –kemarin dia ada di situ dan hari ini ada di sini; tak pernah ke mana-mana.”
      ini kutipan ya.. atau buah pikiranmu sendiri?

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s