Si Abah

Abah kosanku senang berbicara. Dan aku senang mendengarkan. Masalahnya, aku tak paham bahasa Sunda, dan dia tak fasih berbahasa Indonesia. Jadi, kalau aku menghampiri dia atau sebaliknya, maka dia akan berbicara panjang lebar (sebagian besar dalam bahasa Sunda), dan aku akan mendengarkan dengan memasang senyum pada wajahku. Ketika ia tertawa, aku ikut tertawa, dengan tulus, bukan dibuat-buat. Untuk menghargai dia, bukan untuk menertawakannya.

Abah kosanku sangat perhatian. Beberapa kali menanyakan kelulusanku. Dan selalu memberi semangat. Bahkan beberapa kali dia seperti memarahiku kalau ketika dia tanya mau ke mana, jawabanku adalah, “Ke Bandung, Bah, mau maen.” Maka dia akan mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan berkata, “Skripsi dulu atuh, Neng. Jangan maen aja!” Tapi selanjutnya dia akan tertawa. Dan aku ikut tertawa. Bukan untuk menertawainya, tapi untuk menghargainya.

Abah kosanku sangat baik pada anak kosan. Berbeda dengan istrinya, si Ibu. Kalau si Ibu datang, anak-anak kosan akan enggan membuka pintu kamar. Tak jarang kulihat anak kosan sengaja membiarkan si Ibu mengetok-ngetok pintu sampai beberapa lama sehingga si Ibu pikir si empunya kamar sedang keluar. Padahal, anak kosan hanya ingin menghindari si Ibu. Kalau Abah datang, anak kosan pasti menyapa dan menanyakan kabar. Begitu juga dengan Abah, kalau melihat anak kosan mau meninggalkan kosan selalu tanya mau ke mana, berpesan agar hati-hati, meminta agar tidak pulang kemalaman, dan mengingatkan supaya kamar tidak lupa dikunci. Berbeda dengan si Ibu. Kalau si Ibu datang, urusannya pasti cuma karena satu hal: duit. Kalau dulu waktu masih dibebani dengan uang listrik di luar uang kosan, si Ibu akan datang tiap bulan menagih biaya listrik. Bersyukur sekarang uang listrik sudah termasuk uang kosan, jadi si Ibu hanya datang di awal dan di akhir masa kontrakan kost.

Abah kosanku senang berbicara tentang banyak hal. Utarakanlah satu kalimat padanya, maka ia akan membalas dengan satu kisah. Seperti hari ini, ketika ia melihatku di ruang tamu kosan, dia tanya sedang apa, dan aku bilang sedang sms-an. Ia lalu bercerita tentang si pemilik kosan yang pelit sampai tidak mau memasang telepon di kosan. Dany, sang pemilik kosan, berkata pada Abah, “Kalau ada apa-apa, tinggal telepon atau sms pakai hp ke nomor saya.” Dan Abah sepertinya tidak senang dengan kalimat itu. Lalu ia lanjutkan ke beberapa hal lain, yang sedikit saja aku mengerti artinya, karena ia berbicara dalam bahasa Sunda.

Waktu aku bilang aku hampir menyelesaikan masa studiku, Abah bilang, “Tinggal di sini aja, Neng, enam bulan lagi,” sambil tertawa lebar dengan giginya yang tersisa hanya beberapa. Dan aku selalu saja bisa tertawa kalau Abah tertawa. Lalu aku bilang aku mau pulang, dan Abah langsung bilang, “Abah juga ikut, ya, Neng.” Seperti tak percaya, aku bilang aku pulang ke Medan. Si Abah justru bilang, “Iya, kalau ke Medan mah Abah pernah, Neng. Ke Aceh juga dulu kan Abah pernah ngajar di sana, Neng. Itu kan deket Neng, Aceh sama Medan.” Kemudian ia lanjut bercerita tentang kenalannya yang selalu pulang-pergi ke Medan untuk mengajar.

Abah kosanku sangat senang berbicara. Tapi aku tahu itu kadang-kadang mengganggu beberapa anak kosan. “Si Abah mah kalau diajak ngobrol pasti lama, Tin. Suka ke mana-mana ceritanya,” kata seorang teman kosanku. Tapi aku tak keberatan kalau harus “terjebak” ngobrol sama Abah dalam waktu yang lama. Entah mengapa, aku menangkap sesuatu dalam dirinya yang walaupun tak terkatakan tapi sangat jelas kedengaran di telingaku, “Abah butuh teman ngobrol, Neng.” Jadi, selama aku ada di kosan ini, ceritanya akan selalu begini: Abah kosanku senang berbicara, dan aku senang mendengarkannya.

One thought on “Si Abah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s