Tentang 2011 – Refleksi Pribadi

Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi 2011 rasanya terlalu cepat berlalu. Ya, kalimat itu terdengar klise ketika diucapkan di akhir tahun seperti ini. Tapi bagi saya, ada beberapa alasan yang membuat saya mengucapkan kalimat di atas.

Teman sekaligus saudara saya di TPPM, Melly, menyatakan 2011 dengan satu kata dalam bahasa Inggris: outstanding. Saya tidak mau ikut-ikutan, tapi saya juga tidak mau memendam rasa syukur buat 2011 yang sesaat lagi berlalu ini. Kalau memang harus, maka kata yang saya pilih untuk menggambarkan 2011 adalah mengagumkan. Banyak hal yang mengagumkan saya di tahun ini. Meskipun kekaguman itu timbul setelah hati yang sakit, air mata yang berember-ember, mata yang bengkak di pagi hari (karena tangis di tengah malam), dan kesesakan lainnya.

Saya ingat, saya pernah bilang hidup saya kok rasanya enak-enak saja. Keluarga yang sepenuhnya mendukung, pacar yang selalu bersedia mengeluarkan usaha lebih untuk menghadapi saya yang sering labil, teman-teman yang selalu ada buat saya, dan semua keenakan lainnya. Jadi saya minta Tuhan memberi kejutan. Dan hebatnya Tuhan jawab di tahun ini juga. Atau mata saya saja yang baru terbuka. Entahlah, tapi saya kemudian sadar, bahwa hidup saya jauh dari “enak-enak saja”. Bayangkan, 2011 saya mulai dengan konflik dengan sahabat baik saya sejak SMA. Meski tak penting, tapi itu benar-benar membuka mata saya untuk belajar merespon tiap orang. Dan saya seperti ditampar juga, karena ternyata pengendalian diri saya masih jauh dari kategori baik. Yang saya syukuri, saya jadi tahu siapa sahabat saya sebenarnya.

Mengapa saya merasa ditampar dengan adanya masalah ini? Begini, saya selalu merasa saya tahu benar bagaimana memilih teman dan tahu bagaimana menjadi teman yang baik. Dan selama kuliah, saya tidak punya masalah yang cukup besar dalam hal relasi ini. Tapi Tuhan goyangkan zona nyaman saya, dan inilah saya sekarang, mungkin jadi satu-satunya orang yang pernah diteriaki, “Kau bukan temanku lagi!” dari seseorang yang selama ini saya anggap teman baik.

Awalnya saya menyangkal dan (setelah terisak-isak) malah mengeluarkan pernyataan, “Oke, itu kerugian dia kalau tak mau lagi berteman denganku.” Ketika saya pikir masalah itu sangat sepele, tapi mungkin karena respon saya yang salah dari awal, setahun pun tak cukup untuk memulihkan pertemanan. Semoga Tuhan berkenan di 2012 untuk menjawab pergumulan saya tentang relasi yang satu ini dan terus menajamkan saya.

Pelajaran moral: saya semakin bersyukur untuk sahabat-sahabat sejati, yang saya tahu apakah mereka akan mengecewakan saya suatu waktu atau tidak, tapi yang pasti mereka telah turut menorehkan sejarah dalam hidup saya, berperan besar membuat saya menjadi seseorang seperti saya sekarang. Dan bagaimana saya tidak beryukur untuk itu? Saya juga jadi realistis bahwa teman juga bukan sesuatu yang abadi. Dan, meski tidak ada istilah mantan teman, tapi bukan hal yang mustahil untuk bilang, “Oh iya, dia temanku dulu.”

Satu hal yang bisa jadi “pengalihan isu” dari kekecewaan terhadap teman ini hanyalah skripsi. Dan sama seperti skripsi setiap orang, skripsi saya juga jadi ajang pembentukan karakter dan pengungkapan karakter sebenarnya dari diri saya. Oh betapa saya bersyukur karena skripsi inilah yang membuat 2011 terasa cepat berlalu. Empat-lima bulan yang amat singkat itu melahirkan judul “Profesionalisme Wartawan Televisi dalam Pemberitaan Munas Golkar” dan mengantarkan saya ke gerbang sarjana pada 5 Juli 2011 dan diwisuda sebulan kemudian, 10 Agustus. Saya bersyukur sama Tuhan karena melalui skripsi, saya bisa melatih pikiran saya untuk tetap positif dan satu kalimat yang saya amini sesaat sebelum sidang skripsi adalah: “If God lead you to it, He will lead you through it.” Maka, terpujilah Tuhan. Itu semua karena Engkau.

Kemudian, dalam hal mencari-mendapat pekerjaan juga jadi masa pembelajaran yang berharga. Saya yang dari awal ingin coba bidang lain di luar jurnalistik, menetap sementara di bisnis asuransi. Dan saya tidak peduli orang-orang (DJP) di luar sana bilang apa, tapi sesungguhnya bukan pekerjaan yang mendefinisikan saya seperti apa.

Dan sekarang saya sudah kembali, Tuhan kembali tuntun saya ke dunia jurnalistik ketika pada 15 Desember saya dipanggil wawancara di sebuah media cetak yang fokus di bidang ekonomi dan bisnis. Dan keesokan harinya, saya ditetapkan jadi salah satu wartawannya dan mulai bekerja pada 2 Januari 2012.

Dari semua itu yang paling saya syukuri adalah ketika Tuhan guncang kenyamanan di keluarga ketika Bapak saya dinyatakan dokter (berdasarkan pengalaman medis, katanya) akan hanya bertahan hidup hingga setahun mendatang. Saya berterima kasih karena orang-orang di sekitar saya turut mendoakan dan mungkin berharap Bapak saya bisa bertahan lebih lama dari itu. Saya lebih-lebih bersyukur karena Mama saya diberi ketegaran untuk mengabarkan kondisi Bapak itu kepada anak-anaknya dan berkata, “Kita harus siap mental untuk apapun yang terjadi. Dan terus berdoa.” Ya, sesuatu yang seringnya saya tinggalkan: bersiap dan berdoa. Berita itu tidak mengharuskan saya berdoa tapi membawa saya kembali pada ketenangan jiwa yang dulu selalu saya alami ketika berdoa dan membuat saya siap untuk menghadapi apapun. Toh, Tuhan mendengar doa saya dan sudah merancang yang baik bagi hidup saya.

Saya tidak tahu apakah di akhir tahun 2012 Tuhan masih mengijinkan Bapak saya mendampingi Mama dan terus menasehati anak-anaknya dengan bijak atau tidak. Yang saya tahu, rancangan Tuhan itu pasti dan pengalaman medis menjadi tidak begitu berarti lagi. Dan di tahun-tahun mendatang, saya selalu punya Bapa yang sempurna, yang tak pernah meninggalkan saya, yang memelihara saya, dan yang abadi, ketika Bapak saya hidupnya hanya sementara. Meskipun saya berharap Bapak saya bisa melihat saya menikah dan mengajari anak-anak saya dengan kalimat-kalimat bijak yang tak pernah habis dari simpanan pengalamannya, membacakan cerita Alkitab kepada anak-anak saya sama seperti yang Bapak saya lakukan ketika saya kecil, tapi hey, bukankah setiap Minggu saya berdoa, “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”? Biarlah Bapak (dan seluruh keluarga) saya tunduk pada kehendak Bapa kami yang sempurna itu. Karena kami memang diciptakan oleh Dia dan untuk kemuliaan-Nya. Terpujilah Allah Bapa, kini dan selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s