Pesan Kangen

Jangan kirimi rindu padaku lagi. Kotak suratku sudah penuh dengan pesan-pesan kangen yang tiap hari kau kirimkan. Cobalah berhenti sejenak. Semua ini juga tidak mudah bagiku

Kalimat-kalimat itu mengucur pelan ketika ia meneleponmu. Sepelan mungkin supaya ia tak menambah gaduh di hatimu yang belum juga tenang sejak perpisahan kalian. Selembut mungkin supaya tidak menambah luka di hatimu yang tengah terkoyak.

Kau tertegun. Akhirnya dia mengucapkan keberatan itu. Berat karena ia harus membayangkan tangisan yang selalu jadi pengantar tidurmu. Berat karena merasa bersalah telah berhenti berusaha di tengah jalan. Berat karena merasa gagal menyatukan isi hati dan logikanya ketika ditanya tentang kelanjutan hubungan kalian.

Kau tak bisa berkata apa-apa lagi, selain kata maaf. Maaf karena kau belum juga mendapatkan obat untuk sakit hati yang begitu mendalam. Maaf karena membiarkan luka itu terbuka menganga dan melebar kian hari. Maaf karena masih saja berpikir hanya dialah yang bisa jadi pahlawan dalam tragedi cinta kalian, dan menyelamatkanmu dari sengsara karena asmara.

Tapi lagi-lagi, setelah percakapan di telepon itu berhenti, kau masih saja melanjutkan ratapan akan cinta yang padam karena siraman ambisi pribadi. Bukannya menghapus air mata, kau malah memilih untuk memeluk bantal dan membasahinya dengan derai yang baru akan berhenti sejam lagi. Lalu ketika kantuk menghampiri dengan mata yang bengkak, kau raih telepon pintarmu, dan kau ketikkan kata “Kangen!” lalu kau kirimkan ke kotak suratnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s