Bersukacitalah. Bersyukurlah. Bersabarlah.

Kamu masih merasa semua ini adalah mimpi. Mungkin karena kamu memang demen tidur. Jadi, kamu pikir ini hanya salah satu dari sekian bunga tidur yang kamu lihat. Toh, dalam kenyataan, mimpi ini pun pernah mampir dalam tidurmu. Meski kemudian kamu menafikannya dan bilang pada dirimu bahwa mimpi itu takkan bisa jadi kenyataan.

Kamu masih merasa semua ini adalah mimpi. Padahal, jelas-jelas kamu memegang tiket yang membuatnya bisa terbang dengan burung logam itu. Padahal kamu sendiri yang bilang padanya, โ€œJangan lupa masukin dokumen penting, hanger, kalender, dan sepatu ke dalam koper ya, sayang!โ€ Tapi kamu masih saja marahin dirimu sendiri lalu tegaskan bahwa ini adalah mimpi. Padahal, kamu sendiri yang menemaninya saat mengantarkan sepeda motor untuk dipaketkan ke pulau nan jauh di sana. Tidak hanya itu. Kamu juga yang bersamanya di bandara sebelum dia dibawa terbang meninggalkan ibukota.

Ah, kapan sih kamu bangun dan sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Ini senyata-nyatanya kenyataan. Kamu harus berani katakan itu pada dirimu sendiri. Kamu tidak lagi bisa meraih tangannya untuk mengisi sela-sela jarimu. Tidak sekarang. Kamu tidak bisa begitu saja kirim pesan padanya untuk muncul di depan kantor dan mengantarkanmu ke peraduan. Sampai waktu yang belum tahu kapan, kamu tidak bisa menggandengnya ketika jalan di mall. Jalan ke mall bareng dia pun belum bisa.

Aku tahu ada sesak yang membuatmu sulit bernafas. Sesak yang memicu matamu berair dan pipimu basah. Sesak yang bikin kamu sampai pusing dan mual. Sesak yang tak pernah kamu rasakan, bahkan saat harus meninggalkan kampung halaman demi kehidupan yang kamu impikan. Sesak yang menyesakkan.

Aku tahu kamu ingin sekali mengurungnya di suatu tempat sehingga dia tidak harus berangkat ke kota Angin Mamiri itu. Mungkin kamu bisa menahannya sehari atau dua hari. Tapi, pemerintah pasti minta kamu melepaskannya. Pemerintah butuh dia. Ada satu kursi di KPDDP yang hanya dia yang bisa mengisinya.

Aku mengerti betul bagaimana ketakutanmu. Bukan takut dia tidak bisa setia. Bukan takut ada seseorang lain yang membuatnya berpaling. Bukan takut kamu meragu dan memikirkan seseorang yang lain. Bukan takut yang seperti itu. Takut karena dunia tampak kelam setelah kamu menyaksikan dia melambaikan tangan dan kamu hanya bisa melihat punggungnya menjauh. Langit yang kelabu saat itu pun terlihat cerah dibandingkan suasana hatimu. Apakah di balik kekelaman itu?

Segala sesuatu yang terjadi di dunia berada di bawah otoritas Allah. Kalau dia terpilih untuk merintis KPDDP, Allah tahu itu. Kalau dia harus ke Makassar dan meninggalkanmu di Jakarta, Allah sendiri yang merencanakan itu. Mungkin Allah memang sedang mematahkan semua peganganmu di dunia. Hingga kamu bisa benar-benar belajar untuk menggantungkan diri hanya pada-Nya. Lantas, bagaimana kamu tidak bersukacita karena itu semua? Ya, bersukacitalah. Bersyukurlah. Bersabarlah.

Jadilah kehendak-Mu. Seluruh bumi penuh kemuliaan-Mu.๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s