Midnight in Paris (Movie Review)

“All men fear death. It’s a natural fear that consumes us all. We fear death because we feel that we haven’t loved well enough or loved at all, which ultimately are one and the same. However, when you make love with a truly great woman, one that deserves the utmost respect in this world and one that makes you feel truly powerful, that fear of death completely disappears. Because when you are sharing your body and heart with a great woman the world fades away. You two are the only ones in the entire universe. You conquer what most lesser men have never conquered before, you have conquered a great woman’s heart, the most vulnerable thing she can offer to another. Death no longer lingers in the mind. Fear no longer clouds your heart. Only passion for living, and for loving, become your sole reality. This is no easy task for it takes insurmountable courage. But remember this, for that moment when you are making love with a woman of true greatness you will feel immortal.”

~ Ernest Hemingway

Saya tidak bisa membayangkan betapa beruntungnya Gil (Owen Wilson) dalam film “Midnight in Paris” bisa bertemu langsung dengan pengarang Ernest Hemingway. Mendengar bagaimana gaya bicara Hemingway yang tidak jauh berbeda dengan gaya bahasa di novel-novelnya, bahkan disemangati untuk meneruskan novel yang sedang dikerjakan Gil, sungguh di luar imajinasi saya.

Banyak penulis atau artis (seperti saya) merindukan untuk perjalanan kembali dalam waktu untuk mendesis Paris dari tahun 1920-an, mencicipi kebersamaan dengan Hemingway di Les Deux Magots atau makan di Choucroute Garnie dengan Picasso di La Rotonde. Namun, hanya Woody Allen yang bisa mewujudkan imajinasi itu. Setidaknya melalui “Midnight in Paris”, Allen menunjukkan kepada kita bagaimana rasanya bertemu dengan seniman-seniman besar seperti Hemingway,  F. Scott Fitzgerald, Zelda Fitzgerald, Salvador Dali, T.S. Eliot, Djuna Barnes, Josephine Baker, Man Ray, Henri Matisse, dan masih banyak lagi.

Tokoh utama dalam film ini, Gil, merupakan penulis skenario yang bosan dengan apa yang dikerjakannya. Padahal, film-film yang ia tulis skenarionya dianggap bagus bagi banyak orang. Bagus, tapi tidak memorable. Itulah yang membuat Gil beralih menjadi penulis novel, meski kecintaannya pada seni menulis tidak didukung oleh tunangannya, Inez (Rachel McAdams).

Ketidakcocokan pasangan ini terlihat jelas dari awal film ketika Gil mendeskripsikan Paris sebagai kota terindah di dunia, yang sama sekali tidak dimengerti oleh Inez.

Gil: This is unbelievable! Look at this! There’s no city like this in the world. There never was.
Inez: You act like you’ve never been here before.
Gil: I don’t get here often enough, that’s the problem. Can you picture how drop dead gorgeous this city is in the rain? Imagine this town in the ’20s. Paris in the ’20s, in the rain. The artists and writers!
Inez: Why does every city have to be in the rain? What’s wonderful about getting wet?

Untungnya, pendapat-pendapat Inez dan gaya hidupnya yang serba metropolitan tidak melunturkan kecintaan Gil pada Paris dan tulis-menulis. Hingga pada suatu tengah malam, keajaiban menghampiri Gil. Entah bagaimana, selepas tengah malam di suatu sudut kota Paris, ia dijemput dengan mobil klasik dan bisa bertemu dengan seniman-seniman besar yang saya sebutkan di atas, berbicara langsung dengan mereka, berpesta bersama mereka, bahkan jatuh cinta dengan salah satu dari mereka.

Adalah Adriana yang membuat Gil tidak lagi takut pada kematian. Dia merasa imortal. Dia merasakan persis seperti apa yang diungkapkan Hemingway pada kutipan di atas. Dan dari Adriana juga, Gil belajar bahwa tiap generasi punya kekecewaan tersendiri terhadap generasinya. Gil mengelu-elukan tahun 1920-an yang dianggappnya sebagai golden age. Namun, Adriana yang besar pada tahun itu justru lebih mencintai zaman impresionis dan memilih hidup bersama orang-orang seperti Henri de Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin, dan Edgar Degas. Gil dan Adriana pun berpisah setelah percakapan di bawah ini:

Gil: These people don’t have any antibiotics!
Adriana: What are you talking about?
Gil: Adriana, if you stay here though, and this becomes your present then pretty soon you’ll start imagining another time was really your… You know, was really the golden time. Yeah, that’s what the present is. It’s a little unsatisfying because life’s a little unsatisfying.
Adriana: That’s the problem with writers. You are so full of words.

Sebenarnya saya mau cerita lebih banyak. Tapi itu akan menjadi tidak adil bagi yang belum nonton.😀 Yang pasti, penggemar film-film ala sutradara nyentrik Woody Allen tidak akan mau melewatkan film yang satu ini. Meski, menurut saya, Allen terlalu berani mengeksplor keindahan Paris di awal film dengan durasi yang terlalu lama. Untung saja saya tidak langsung bosan dan meninggalkan bioskop. #ehh

Film romantis ini memang sudah lama tayang dan sekarang yang beredar hanya DVD-nya. Tapi baru Sabtu (21/01) kemarin saya dan @rentalisa punya kesempatan untuk menontonnya di Blitmegaplez, Grand Indonesia. Loh, kok bisa? Ya, bisa dong, kan ada #DuetMovieDate. Terima kasih Frank Duet untuk 2 tiket, popcorn dengan kotak yang unyu sekali, dan minuman yang serba gratis untuk bisa menyaksikan film ini di Blitz.😀

P.S: Gambar dipinjam selamanya dari situs ini dan ini, loh.🙂

2 thoughts on “Midnight in Paris (Movie Review)

  1. Midnight in paris salah satu film gue, kapan lagi kita bisa ngeliat Hemingway ketemu dengan F scott fitzgerald, dan pablo picasso dalam satu scene.

    Coba juga deh film Woody allen : you will meet a tall dark stranger, match point, Vicky-christina-barcelona. gak kalah bagusnya juga.

    Gue sendiri nyoba nyari Annie hall film lawasnya woody Allen. tapi gak dapet..hu..hu..hu..

    Salam kenal btw🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s