Demi Lajang dan Menikah sama-sama Bahagia

Sebetulnya, kurang komprehensif kalau saya menulis artikel ini, karena saya cuma merasakan bagaimana jadi lajang. Saya tidak tahu rasanya menikah sampai sekarang. Tapi, ada satu artikel yang menarik hati dan logika saya. Kalau mau baca lengkapnya di sini. Dan saya berharap, saya masih berpikiran yang sama dengan penulis artikel itu ketika saya menikah nanti. (JANGAN TANYA KAPAN! Hahahaa)

Jadi, dari artikel itu saya menemukan istilah baru. Smug married people. Ouch. Seem like some people I know. Iya, menurut saya, ada beberapa orang yang begitu bangganya menikah sehingga mereka merasa mereka lebih hebat dan lebih bahagia daripada para lajang. To be happy is something and to brag about it is another thing. Padahal, argumen mereka cuma satu: sudah menikah. *terdengar teriakan SOWHATGITULOH dari kejauhan*

Married vs Single

Begini, dulu sebelum bekerja alias masih mahasiswa tingkat akhir, saya merasa orang-orang bekerja itu pasti lebih bahagia dari saya yang masih berkutat dengan skripsi dan perkuliahan. Kenapa? Ya, karena mereka punya penghasilan dan tidak ada aturan-aturan kampus yang harus dipatuhi untuk lulus. Tidak hanya itu. Mereka juga tidak perlu lagi bergantung pad orang tua, lebih bebas. Terus terus, rasa-rasanya dulu saya melihat orang bekerja itu auranya beda, terkesan lebih dewasa dan lebih kenal dunia. *halah*

 

 

Sekarang, saya sudah bekerja dan pandangan saya tentu berubah. Saya tidak pernah merasa atau bahkan bilang saya lebih baik dari teman-teman saya yang masih kuliah. Kenapa? Karena memang kenyataannya tidak demikian. Saya punya penghasilan dan tidak lagi bergantung pada orang tua, benar. Tapi itu tidak lantas membuat saya lebih bahagia atau bahkan lebih hebat dari mahasiswa di luar sana.

 

 

Yang menyebalkan dari smug married people ini adalah saya tahu bahwa kehidupan pernikahan itu tidak sebegitu hebatnya. Iya sih, cuma dengar kisah dari beberapa orang. Tapi itu orang-orang terdekat, jadi cukup bisa diandalkan lah ya. Mungkin memang kasusnya beda. Mungkin memang ada orang-orang yang setelah menikah ternyata, tidak sebahagia yang diharapkan atau dipikirkan. Dan mungkin memang ada orang yang setelah menikah merasa sangat amat bahagia sekali banget. Tapi tetap saja, tidak perlu digembor-gemborkan kan? Tidak perlu bilangin ke para lajang, “I feel so happy after get I married. Really really happy. You should get married soon, darling. Married life is the best.” Is it? Really?

 

 

Yaudah sih, Tina, gak usah rempong masalah lajang atau nikah ini. Wish I could. Beberapa teman saya pernah curhat betapa mereka mengasihani diri karena masih lajang. Setelah ditelusuri, sikap mengasihani itu datang dari komentar teman-temannya yang sudah menikah. “Lo gak bosen apa melajang? Mending nikah tahu, makanya lo cepet cari pacar terus nikah.” D’oh. Bahkan, ada juga orang tua yang merasa anaknya tidak sempurna karena satu alasan: belum menikah. (Dan setelah si anak menikah, ada tuntutan lain untuk punya anak. Pfft.)

 

Dan ketika saya mengutarakan hal di atas melalaui serangkaian tweets, ada beberapa komentar yang gatal sekali ingin saya tanggapi.

  • IMO smug married people ada karena smug single people juga ada.”

I notice that, darling, but it isnt really my point. Maksud saya adalah, lajang atau menikah itu hanyalah status. Sama seperti lulus kuliah atau bekerja, menikah itu cuma satu fase dalam hidup. Orang-orang (tidak semua orang -red) akan menjalaninya. Jadi, tidak usah ada tekanan satu sama lain. Jangan lantas bilang, yang satu lebih bahagia daripada yang lainnya.

  • Pastilah lebih bahagia orang yang menikah dari pada yang belum menikah. Logisnya karna jumlah yang menikah lebih banyak”

Oke, mungkin kita bisa melewatkan komentar satu ini karena tidak ada data yang mendukung bahwa jumlah orang-orang yang menikah lebih banyak daripada lajang. But again, isn’t my point.

  • Tapi kalau menikah gak lebih bahagia, pastinya orang lebih memilih lajang daripada menikah”

Ya nggak juga, sih. Sekali lagi, lajang atau menikah itu pilihan. Status itu tidak menjelaskan level kebahagiaan seseorang. Buktinya, ada orang-orang yang memilih menikah karena pandangan yang sama dan menemukan dia salah 100%. Dan lagi, ada kok orang-orang yang memilih melajang karena memang menikah ternyata tidak sebahagia yang digembor-gemborkan sebagian orang.

Yaampun. Kepanjangan nih tulisan. Hahaha. Silakan menyimpulkan sendiri, deh. Semoga yang masih lajang merasa bahagia sebahagia mereka yang sudah menikah😉

Single vs Married

One thought on “Demi Lajang dan Menikah sama-sama Bahagia

  1. salam kenal, Baru baca tulisan ini, dan setuju banget, there’s a lot of smug married people, bukan cuma yang muda, yang tua pun banyak yang smug, just because they’re married they want to drag other people too get married as soon as possible. Yang lucu sih, banyak orang married mengasihani para single people, sejujurnya saat melihat facebook dan melihat teman yang sudah menikah dan belum menikah, saya jadi bingung kenapa yang single harus dikasihani, yang sudah menikah malah lebih banyak menulis status yang isinya galau, entah galau dengan pasangan atau mertua, atau kalau lagi happy pun yg dipasang foto masakan yang agak-agak acakadut dan judulnya : Masakan pertama untuk Hubby. Sementara yang single? well, foto mereka jalan-jalan ke Eropa, australia, amerika,thailand, jepang, korea, dll,segalau-galaunya, tulisan status mereka bisanya begini : Just Come back from US, and i’m having a jet lag, sungguh dalam hati saya berpikir, “jadi ini yang dikasihani sama masyarakat ya? ” . yah moga-moga suatu hari pandangan masyarakat terhadap single people and married people bisa berubah, menikah bukan berarti bahagia selama-lamanya, single juga bukan berarti merana selama-lamanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s