Forgive me, Father, for I have sinned

Greed: Medium
 
Gluttony: Medium
 
Wrath: High
 
Sloth: High
 
Envy: Medium
 
Lust: Medium
 
Pride: High
 

Take the Seven Deadly Sins Quiz

Sloth. Wrath. Pride. Forgive me, Father, for I have sinned.

Iklan

Surat Kagum untuk Selebtwit yang Nggak Nyeleb :)

Dear @beradadisini,
Pos Cinta bilang aku bisa menulis surat cinta untuk selebtwit favoritku. Aku tak tahu apakah kamu dikategorikan selebtwit atau tidak. Yang jelas kamu favoritku. Coba katakan bagaimana aku tidak menyukai setiap twit bernada positif yang kamu bagikan setiap harinya? Atau mensyen-ku yang kamu balas seolah-olah kita kenal satu sama lain. Tidak ada kejanggalan sama sekali.

Kalau-kalau kamu lupa, aku jatuh kagum pertama kali kubaca postinganmu di beradadisini.wordpress.com. Waktu itu kita sedang sama-sama jatuh cinta. Kamu dengan blogger favoritku lainnya. Dan aku dengan pria yang mengambil kuliah di benua lain. Entahlah, sepertinya jiwa kita bersatu dalam rangkaian kata yang kamu letakkan di blog pribadimu itu. Atau, aku saja yang terlalu melankolis saat itu. Lucunya, kita sama-sama tidak berhasil dengan pria-pria itu. Sudahlah, masa lalu tidak boleh dikasih porsi yang terlalu banyak.

Aku bohong kalau tak ada bagian dari diriku yang pengen jadi sepertimu. Pastinya, ada. Pengen rasanya menulis seperti kamu menulis. Aku sangat suka detail yang kamu tampilkan. Beberapa tulisan bahkan (menurutku) sangat personal, tapi kamu tetap membagikannya sehingga orang-orang sepertiku turut belajar. Dan aku suka bagaimana blog-mu tidak hanya berisi kisah roman, tapi juga pengalaman berharga yang lucu dan membuatku kagum.

Tidak itu saja. Jadi, waktu baru-baru meninggalkan bangku kuliah, aku bahkan melamar untuk bisa bekerja bersamamu. Konyol memang. Motivasi utama ya cuma bisa bertemu langsung dengan kamu. Selanjutnya, karena pekerjaanmu dipelajari oleh salah satu jurusan di fakultasku. Agak nyambung dengan apa yang kupelajari di kampus.

Dari blog, kuputuskan untuk mengikuti kicauan-kicauanmu. Sama saja. Twit-mu bikin aku semakin takjub. Dan merupakan suatu kehormatan kalau kamu follback aku tanpa diminta. ๐Ÿ˜€ Ah, kamu terlalu baik.

Aku mau bilang terima kasih karena konsisten menjadi selebtwit yang tidak pernah twitwar atau memancing kemarahan di Twitter. Terima kasih karena membalas (hampir) setiap mensyen-ku. Terima kasih karena sampai saat ini kamu tidak berhenti nge-blog dan mempublikasikannya di Twitter sehingga aku bisa bilang, โ€œYes, ada postingan baru! Ayo melipir ke blog-nya!โ€ pada diriku sendiri. Dan tentu saja, terima kasih karena kamu selalu berada di sini. ๐Ÿ™‚

Sincerely,

Hati dan Logika

*Ditulis dengan latar belakang pembacaan Elephant Vanishes โ€“ Haruki Murakami di VLC Media Player. Surat ini khusus buat blogger dan selebtwit kesukaanku Mbak Hanny ๐Ÿ˜€

#30HariMenulisSuratCinta untuk selebtwit ๐Ÿ™‚

Surat Bernada Negatif Menuju Positif

Kepada seseorang yang tidak begitu saya sukai!

Iya, ini buat kamu yang berbicara dengan nada remeh dan selalu saja berkata, โ€œMasa ini aja kamu gak tahu sih?โ€ Kan saya baru, wajar dong tanya-tanya. Tapi kamu selalu berujar seperti itu setiap saya bertanya soal aplikasi yang baru saya pelajari di kantor. Tidak menyenangkan sekali.

Iya, ini buat kamu, yang tidak pernah membalas senyuman saya. Padahal, senyuman saja juga mahal, loh. Tapi kan saya anak baru, masa langsung sengak. Entar aja deh kalau udah setahun di kantor ini baru saya kembali jual mahal soal senyum. #lahdikeplakbos

Iya, ini buat kamu yang ingin sekali tidak saya sapa ketika berpas-pasan di lobi kantor. Bukan, bukan saya sombong. Tapi saya tahu ujung-ujungnya gimana, kamu cuma menoleh sesaat dan melanjutkan obrolan dengan teman kantor yang lain.

Iya, ini buat kamu yang saya selalu berdoa untuk tidak dipasangkan saat meliput. Karena sepertinya kamu pelit informasi. โ€œTina, kita ke sini jam sekian, ya.โ€ Pesanmu selalu berhenti di kalimat pendek seperti itu. Pernah tahu yang namanya kata pengantar? Bukan skripsi dan buku saja, saya juga butuh itu kalau (terpaksa) liputan bareng kamu.

Tentu saja ini buat kamu. Yang saya lihat bercanda ria dengan teman kantor yang lain, tapi selalu 1 derajat celcius dinginnya ketika bersama saya. Ah, untung saja saya hangat. Jadi, tidak begitu peduli sama kebekuan yang kamu jalarkan.

Ada apa sih denganmu? Orang-orang lain bersikap manis dan baik padaku. Teman kantor yang lain selalu membubuhi โ€œkata pengantarโ€ tiap minta saya meliput ini-itu. Kenapa kamu tidak?

Tuh kan, saya kembali diperhadapkan pada kerumitan manusia. Eh, rumit? Gak rumit, sih. Kamu hanya butuh lebih banyak perhatian. Oke. Mulai sekarang, senyum saya jatuh harga deh kalau melihat kamu ada di sekitar. Dan saya akan terus bertanya meski kamu tak begitu suka menjawab (atau menjawab dingin).

Kepada seseorang yang saya kurang suka, hati-hati ya, sebentar lagi kamu pasti suka saya. Karena saya mau berusaha untuk suka kamu!

Sekian dan mari sama-sama suka!

Surat kedua saya dalam rangka #30HariMenulisSuratCinta. Tidak usah ditanya, buat siapa! #melenggangcantik

Jauh Banget tapi Deket Banget

Hai sayang, bagaimana ya aku harus memulai surat ini? Aku gak mau basa-basi. Aku kangen kamu, kamu pasti tahu. Dan aku juga tahu banget kamu kangen aku. Tapi ini bukan surat kangen. Ini surat cinta. ๐Ÿ˜€

Baru seminggu kita dipisahkan oleh satu Surat Keputusan (SK) dari pemerintah. Mereka ambil kamu dari sisiku, dan tempatkan kamu di Makassar nun jauh di sana. Aku gak pernah ke Makassar. Meski beberapa temanku berasal dari situ, tapi aku gak kebayang bagaimana sesungguhnya kota itu. Katanya, mahasiswa di situ doyan tawuran. Semoga kamu gak ikut-ikutan ya, sayang. Kamu kan bukan mahasiswa lagi. #dijitakmanja

Aku tahu SK itu memberatkan hidup kita yang sebelumnya pun tidak mudah. Baru saja aku diterima kerja di media idaman tapi kamu malah dimutasi ke pulau lain. Sulit untuk tidak mempertanyakan mengapa harus begini. Tapi kita sepakat, karena kita ini ciptaan Allah yang diciptakan untuk kemuliaan-Nya, tidak seharusnya mempertanyakan rancangan Allah. Kita juga tahu semuanya terjadi untuk masa depan yang baik, bukan untuk mencelakakan kita.

Long distance relationship bukan sesuatu yang baru bagi kita. Tapi setelah setahun bersama, ketemu hampir tiap hari, menjalani LDR yang kedua kalinya lebih berat dari yang pertama. Berat karena perubahan drastis terjadi di hubungan kita. Sekarang, kalau mau saling menguatkan (dan sayang-sayangan) cuma via telepon genggam dan internet. Sedih? Seringnya begitu. Tiap malam rasanya mau nangis membayangkan hari ini gak ketemu kamu, pun besok begitu. Tiap hari bilang kangen, tapi hati ini tak terpuaskan. Tiap hari menyatakan โ€œCoba aja kamu ada di sini!โ€ tapi tak mau membohongi diri lebih lanjut. Eh, kok kayanya kita gak bahagia gitu ya? ๐Ÿ˜›

hai, kamu lagi apa, sayang? :)))

Aku selalu ingat kata-katamu, kita lah yang memilih bagaimana berespon terhadap keadaan. Mau sedih atau bahagia, mau mengutuki atau bersyukur, itu semua pilihan kita. Kata-kata itu seringnya menyelamatkanku. Ketika mata mulai basah karena rindu kehadiranmu, aku pilih untuk bersyukur. Toh kamu hanya pindah kantor, bukan pindah ke lain hati. Ketika dada mulai sesak karena ingin sekali ada kamu di sampingku, aku pilih untuk tersenyum. Toh, kamu di sana juga sangat merindukanku dan aku gak pernah sendiri. Jarak kita mungkin 1413 km jauhnya, tapi tidak ada spasi antara hati kita. ๐Ÿ™‚

โ€œDistance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those who are willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing a good thing when they see it even if they dont see it nearly enough.โ€

Jadi, mari terus bersyukur untuk kesempatan berjauh-jauhan seperti ini. Aku di sini dan kamu di sana, tapi kita bisa sama-sama bertumbuh. Kita ini istimewa, makanya dipercayakan untuk hubungan jarak jauh. ๐Ÿ˜€ #selfpukpuk

Seminggu telah berlalu dan aku terus merindukanmu. Aku sayang kamu, meski tak selalu bertemu. Menginginkanmu selalu di sisi, aku tak jemu-jemu. Tapi hingga saat itu tiba…

#30HariMenulisSuratCinta Surat Cinta ini Teruntuk Kekasih Jarak Jauhku, @roniokto. Kekasih yang jauh sekaligus amat dekat. ๐Ÿ™‚

Bersukacitalah. Bersyukurlah. Bersabarlah.

Kamu masih merasa semua ini adalah mimpi. Mungkin karena kamu memang demen tidur. Jadi, kamu pikir ini hanya salah satu dari sekian bunga tidur yang kamu lihat. Toh, dalam kenyataan, mimpi ini pun pernah mampir dalam tidurmu. Meski kemudian kamu menafikannya dan bilang pada dirimu bahwa mimpi itu takkan bisa jadi kenyataan.

Kamu masih merasa semua ini adalah mimpi. Padahal, jelas-jelas kamu memegang tiket yang membuatnya bisa terbang dengan burung logam itu. Padahal kamu sendiri yang bilang padanya, โ€œJangan lupa masukin dokumen penting, hanger, kalender, dan sepatu ke dalam koper ya, sayang!โ€ Tapi kamu masih saja marahin dirimu sendiri lalu tegaskan bahwa ini adalah mimpi. Padahal, kamu sendiri yang menemaninya saat mengantarkan sepeda motor untuk dipaketkan ke pulau nan jauh di sana. Tidak hanya itu. Kamu juga yang bersamanya di bandara sebelum dia dibawa terbang meninggalkan ibukota.

Ah, kapan sih kamu bangun dan sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Ini senyata-nyatanya kenyataan. Kamu harus berani katakan itu pada dirimu sendiri. Kamu tidak lagi bisa meraih tangannya untuk mengisi sela-sela jarimu. Tidak sekarang. Kamu tidak bisa begitu saja kirim pesan padanya untuk muncul di depan kantor dan mengantarkanmu ke peraduan. Sampai waktu yang belum tahu kapan, kamu tidak bisa menggandengnya ketika jalan di mall. Jalan ke mall bareng dia pun belum bisa.

Aku tahu ada sesak yang membuatmu sulit bernafas. Sesak yang memicu matamu berair dan pipimu basah. Sesak yang bikin kamu sampai pusing dan mual. Sesak yang tak pernah kamu rasakan, bahkan saat harus meninggalkan kampung halaman demi kehidupan yang kamu impikan. Sesak yang menyesakkan.

Aku tahu kamu ingin sekali mengurungnya di suatu tempat sehingga dia tidak harus berangkat ke kota Angin Mamiri itu. Mungkin kamu bisa menahannya sehari atau dua hari. Tapi, pemerintah pasti minta kamu melepaskannya. Pemerintah butuh dia. Ada satu kursi di KPDDP yang hanya dia yang bisa mengisinya.

Aku mengerti betul bagaimana ketakutanmu. Bukan takut dia tidak bisa setia. Bukan takut ada seseorang lain yang membuatnya berpaling. Bukan takut kamu meragu dan memikirkan seseorang yang lain. Bukan takut yang seperti itu. Takut karena dunia tampak kelam setelah kamu menyaksikan dia melambaikan tangan dan kamu hanya bisa melihat punggungnya menjauh. Langit yang kelabu saat itu pun terlihat cerah dibandingkan suasana hatimu. Apakah di balik kekelaman itu?

Segala sesuatu yang terjadi di dunia berada di bawah otoritas Allah. Kalau dia terpilih untuk merintis KPDDP, Allah tahu itu. Kalau dia harus ke Makassar dan meninggalkanmu di Jakarta, Allah sendiri yang merencanakan itu. Mungkin Allah memang sedang mematahkan semua peganganmu di dunia. Hingga kamu bisa benar-benar belajar untuk menggantungkan diri hanya pada-Nya. Lantas, bagaimana kamu tidak bersukacita karena itu semua? Ya, bersukacitalah. Bersyukurlah. Bersabarlah.

Jadilah kehendak-Mu. Seluruh bumi penuh kemuliaan-Mu.๐Ÿ™‚

#selfnote

If you cant be grateful for what you have now, you won’t be grateful when you have what you’ve always wanted. Therefore, you need to live every moment. Be thankful for everything you have now. Not later. And don’t ever say something like, “I will be thankful if (bla bla bla)!” No, you wont be thankful later if you cant be thankful now. For example, if you always complain about your job now and think that you can only be please when you have your dream job, then forget it. It’s only illusion. What you can do is stop whining, learn to love your job now and continue to pursue your dreams. Plus, be thankful all the time.
I know sometimes life’s suck. But hey, its only a matter of how you see things. If you have patience, then by the love of God, I guarantee, your life is just fine. Real fine, not I-dont-want-people-to-interupt-my-life fine.

As Henri Nouwen said in “Daily Meditation” (you can get it in your email by click here),

Patience is a hard discipline. It is not just waiting until something happens over which we have no control: the arrival of the bus, the end of the rain, the return of a friend, the resolution of a conflict. Patience is not a waiting passivity until someone else does something. Patience asks us to live the moment to the fullest, to be completely present to the moment, to taste the here and now, to be where we are. When we are impatient we try to get away from where we are. We behave as if the real thing will happen tomorrow, later and somewhere else. Let’s be patient and trust that the treasure we look for is hidden in the ground on which we stand.