Semangat Move On

Kebanyakan orang ketika mendengar kata “move on” mengartikannya sebagai fase hidup ketika seseorang yang baru putus cinta, bisa melanjutkan hidupnya tanpa mengungkit-ungkit masa lalu bersama pacar. Ada benarnya. Tapi tidak selalu seperti itu.

 

Saya tahu benar dengan istilah ini karena pengalaman sahabat saya yang mengaku move on itu sangat susah. Kekasihnya yang dulu sepertinya membawa kesan yang mendalam sehingga sahabat saya itu sulit melanjutkan hidup tanpa menempel pada masa lalu.

 

Bagi saya, move on itu beranjak dari masa lalu dan tidak bersungut-sungut atau mengasihani diri ketika mengingatnya di masa sekarang. Hal-hal indah yang kita alami dulu hanya indah pada dulu kala. Kalau kita terpaku pada ingatan itu dan menginginkan keindahan yang sama terjadi sekarang, itulah yang saya sebut, gagal move on.

 

Kalau kaitannya dengan pengalaman sahabat saya, tentulah dia tidak perlu menghabiskan waktu mengenang yang manis-manis di masa lalu dan melebih-lebihkannya sekarang hingga terasa pahit. Gampang sih bilangnya, tapi melaksanakannya susah sekali. Nangis seribu malam dan curhat di media sosial mana pun takkan sanggup bikin seseorang move on.

Meski saya tidak punya mantan pacar (kayanya sih :D) tapi saya pun perlu move on. Semua orang perlu move on. Masa lalu, seindah apapun itu, kalau terlalu sering diingat akan menjadi pahit. Masa-masa SMA yang dulu sangat membahagiakan bisa terasa menyedihkan kalau kita sadar kita tidak bisa bertemu lagi dengan teman-teman SMA kita. Atau kalau bertemu pun kita tidak seakrab yang dulu. Tidak bisa ketawa cekikikan untuk hal kecil yang dulu kita anggap konyol.

 

Momen yang sangat indah seperti wisudaan pun terasa kelam karena kita baru sadar itu jadi gerbang yang membawa kita pada tempat baru yang jauh dari kata nyaman. Momen indah bersama pacar memang bikin kita senang waktu dulu, tapi kalau sudah putus, momen itu lebih menyakitkan dari ditusuk jarum suntik seratus kali. #yahlebay

 

Sebagai seorang Kristen, saya tak pernah menyangka ada firman Tuhan yang tegas-tegas menyuruh kita untuk move on. Lah, memangnya umat Kristiani jaman dulu mengalami putus dari pacar dan susah move on? Mungkin iya, tapi kondisinya tidak seperti jaman sekarang pastinya.

 

Tadi pagi di saat teduh saya dikasih ayat dari Yesaya. Isinya semacam #jleb gitu deh buat saya.

 

“Janganlah ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala. Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?” ~Yesaya 43: 18-19

 

Wow, apa-apaan itu? Saya kan tidak baru putus dari pacar. Awalnya saya nggak ngerti kenapa Tuhan bilang begitu sama saya. Tapi begini, sejak LDR saya akui saya sangat labil dan marah sama keadaan. Saya mendambakan saat-saat seperti dulu ketika saya bisa bertemu patjar hampir setiap hari. (Sekarang dengan jarak Jakarta – Makassar, hal itu tidak berlaku lagi.) Dengan kata lain, saya belum move on. Belum bisa berdamai dengan keadaan jauh-jauhan begini. Kasihan memang saya ini. Makanya saya sangat bersyukur pagi ini bisa mendengar kebenaran indah yang Tuhan nyatakan.

 

Dengan ini juga saya menyerukan semangat move on bagi pemirsah di luar sana yang masih memenggam erat-erat masa lalu dan membawanya ke tiap tempat ia pergi. Dan sekali saya tegaskan, masa lalu ada untuk dingat, bukan untuk diingat-ingat. :’)

Iklan

Dipakai untuk Kemuliaan-Nya

Apa persamaan dan perbedaan antara vas bunga yang terbuat dari Kristal dengan periuk yang terbuat dari kayu?

Kita bisa temukan jawabannya di Alkitab, tepatnya pada 2 Timotius 2: 20. Kedua barang itu sama-sama perabot yang bisa kita temukan di rumah-rumah. Namun, keduanya dipakai untuk tujuan yang berbeda. Keberadaan keduanya punya peran masing-masing, yang satu (vas bunga) dipakai untuk keperluan istimewa, bisa dipajang, diperlihatkan kepada orang-orang sebagai bentuk kebanggaan kita memilikinya. Sedangkan yang satunya lagi (periuk) dipakai untuk keperluan biasa, tidak pernah dipajang atau dipertontonkan ke orang-orang karena periuk yang terbuat dari kayu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan vas bunga dari kristal.

“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia” 2 Tim 2: 20

Rasul Paulus pakai analogi itu untuk kita, manusia, ciptaan Allah, umat-Nya yang terpilih, warga Kerajaan Sorga, anak-anak-Nya. Ada yang menginterpretasikan istilah “rumah besar” yang disebutkan di situ sebagai sorga. Namun, ketika mendalaminya lebih lagi, kita bisa mengerti bahwa “rumah besar” di ayat itu menunjuk pada dunia yang kita tempati sekarang. Dan perabot yang dimaksud adalah kita-kita ini.

“Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” 2 Tim 2: 21

Sesungguhnya, kita tidak punya pilihan untuk dipakai atau tidak oleh Allah. Itu adalah hak prerogatif-Nya. Namun, kita bisa memohon agar Ia berkenan memilih kita untuk dipakai bagi tujuan mulia yang dipersiapkan-Nya bagi kita. Syaratnya, kita menyucikan dari hal-hal yang najis.

Baca lebih lanjut

Everything wil be Alright

“Everything will be alright”

Mungkin kalimat itu yang Ia coba ingatkan, tiap waktu, tiap kesempatan pada saya. Sayangnya, saya terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Malah ketika Dia katakan, semua akan baik-baik saja, karena Dia ada di sisi saya, yang terjadi kegelisahan makin nyata dalam hidup saya.

Pikir saya, mana mungkin semua akan baik-baik saja. Saya harus menyelesaikan banyak tugas, bukan hanya di perkuliahan, tapi juga di pelayanan. Tidak hanya itu, saya punya keluarga dan teman-teman yang harus saya perhatikan (karena saya memang mau memerhatikan mereka) serta kami punya urusan yang butuh waktu, butuh energi, untuk menyelesaikannya. Bagaimana bisa Dia bilang semua akan baik-baik saja?

Anugerah. Sepanjang perjalanan iman yang masih kerdil ini, saya selalu mendapati semua memang berjalan baik-baik saja. Bukan dalam artian tidak ada halangan atau momen-momen keputusasaan. Semua baik-baik saja karena Dia senantiasa mencurahkan anugerah-Nya dan apapun yang terjadi, Dia selalu menghibur dan menguatkan melalui firman-Nya dan orang-orang yang ditempatkan-Nya di sisi saya. Dan lagi, siapa yang bisa membantah bahwa janji-Nya teguh, takkan beranjak pun tak akan bergoyang.

Tekad saya, beralih dari Thomas yang tidak percaya kalau tidak melihat menjadi Paulus yang setia meski penderitaannya seperti tak berkesudahan. Mungkin selama ini dengan segala pembenaran yang saya buat sendiri, segala kebenaran-Nya tertutupi. Namun biarlah Roh Kudus yang bukakan tabir kepalsuan iman dan membiarkan saya menikmati anugerah yang disediakan-Nya.

*salam damai*

How come bad things happen to good people?

Tuhan, aku kan rajin ke gereja dan persekutuan, ga pernah lupa kasih persepuluhan, tidak pernah punya niat buruk terhadap sesamaku, bahkan aku mendoakan mereka selalu. Terus kenapa aku yang Tuhan pilih untuk menjalani ujian ini? Kenapa orang tuaku harus Engkau panggil secepat ini?
***
Kenapa yah, keluarga X yang bahkan tidak peduli dengan relasi dengan-Mu punya hidup yang mewah, bisa jalan2 ke luar negeri kapan aja mereka mau, sedangkan aku, yang tiap hari baca Alkitab dan sepenuh hati meminta berkat dan kebaikan Tuhan justru ga sanggup menyekolahkan adikku ke sekolah yang bagus?
***
Firman-Mu katakan aku warga Kerajaan Sorga, tapi sampai sekarang aku ga pernah tuh merasakan kemewahan yang jadi gaya hidup orang-orang yang tidak kenal sama Tuhan. Kenapa bisa begitu, Tuhan?

***

Pernah mempertanyakan hal serupa seperti pertanyaan di atas, meski tak persis sama, dan diungkapkan hanya dalam hati atau pikiran? Sekarang tidak perlu lagi. Percayalah, orang Kristen tidak perlu lagi menggumulkan hal-hal yang cetek seperti itu.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya bisa dirangkum hanya dalam satu tanya: Mengapa orang baik menderita? Kamu orang baik, tapi pernah (malah sering banget banget banget) mengalami penderitaan? You are not alone, dear.

Semua pengikut Kristus pastinya mengalami penderitaan. Sebab, mengikut Yesus itu pada hakekatnya bukan perihal gampangan. Bukan suatu keputusan yang mudah untuk bisa menandatangani akte kematian terhadap dosa dan berbalik kepada jalan Allah yang benar dan kudus. Dan Allah kita juga bukan Allah yang memanjakan kita dengan hal-hal menyenangkan, yang bisa bikin kita jadi murid yang lemah dan dangkal dalam iman kepada-Nya. Mungkin kadang kita merasa menaati perkataan-Nya jadi suatu beban dalam hidup kita. Namun, apa itu berarti kita menderita?

Secara duniawi, kita mungkin berharap hal-hal baik terjadi pada orang yang baik. Mosok sih Tuhan tega memberikan sesuatu yang buruk pada orang yang sudah berbuat baik pada sesama? Kita sih pengennya orang baik mengalami hal-hal yang baik pula.

Sorry to say, that’s not what really happen, fellas. Hal-hal buruk juga terjadi pada orang-orang baik. Malangnya, orang-orang baik itu harus melihat fakta bahwa hal-hal baik justru dialami orang-orang yang jahat. Misalnya nih, kita tahu seseorang yang sering nyontek pas ujian, terus suka ngomongin temen di belakang, dan suka jelek-jelekin dosen kalo lagi nongkrong sama temen-temen, malah dapet IPK cum laude, punya temen yang gaul dan punya banyak link, bahkan dipuji sama dosen (yang dijelekin sama dia). It doesn’t make sense. Dengan cepat kita akan tanya sama Tuhan, “Emang Tuhan ga liat apa yang dia perbuat?”

Bersyukurlah kita, yang kenal sama Juru Selamat yang super duper bijaksana itu, karena firman-Nya menyediakan sudut pandang lain dalam melihat penderitaan. Ada tiga tokoh dalam Alkitab yang perlu dikasih jempol untuk kesetiaan mereka dalam menghadapi penderitaan sebagai anak Allah.

Kita pasti tahu kisah Ayub yang dicobai iblis di bawah “pengawasan” Tuhan. Nabi yang satu ini bener-bener contoh yang mantap ketika kita membicarakan ketabahan, kesetiaan, dan pengenalan yang mendalam akan Allah pencipta alam semesta.

kata Ayub: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Dalam ke semuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1: 21-22).

Ayub juga pernah berkata seperti ini, ketika istrinya menyuruh dia meninggalkan Allah. “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Ayub malah menyebutkan istrinya sebagai perempuan gila, karena mencoba membuat Ayub mengutuki Allah.

Di sini kita bisa melihat bahwa Ayub punya sikap iman yang benar dalam penderitaan. Hidup baginya, seperti uang logam punya dua wajah: kesenangan dan kesusahan. Ketika yang satunya hilang, maka koin itu tak lagi punya arti, tidak berguna lagi. Seperti hidup kita yang hanya akan bernilai ketika kita mau menjalani dua sisi kehidupan (senang dan susah) untuk kemuliaan Tuhan. Kalau Ayub bisa memuji Tuhan ketika hidupnya senang, tidak ada alasan baginya untuk mengutuki atau meninggalkan Tuhan ketika kesusahan menimpanya.

Tokoh kedua yaitu Yusuf. Orang Kristen juga tahu kisah Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya sendiri yang iri karena Yusuf dimanjakan ayah mereka, Yakub. Setelah dijual oleh saudagar, ia mengalami banyak penderitaan: ia dijadikan pembantu, difitnah oleh istri majikannya sendiri, bahkan sampai masuk penjara. Namun ia tidak mendendam. Ia tahu pasti bahwa ada rencana Tuhan yang indah di balik semua cobaan yang dihadapinya (baca Kejadian 45:7-9).

Tidak lengkaplah kita membicarakan kesetiaan tanpa menyebutkan nama Rasul Paulus. Tokoh yang disinyalir berkepribadian koleris ini tidak diragukan lagi kesetiaannya dalam menjalani penderitaan hidup. Mata jasmaninya melihat penderitaan, tapi mata rohaninya memandang tangan Tuhan yang menopang.

Bahkan Paulus berkata, ia senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika ia lemah, maka ia kuat. Dalam 2 Korintus 9 Tuhan menjawab Paulus:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Yang utama memang menjalin relasi yang intim sama Tuhan. Lho, kok gitu sih? Iya, karena ketika kita benar-benar mengenal siapa Allah pencipta dan pemelihara kita, ada sudut pandang yang benar dalam menghadapi penderitaan. Toh firman-Nya sudah sangat jelas bagi kita.

Hendaknya, PENDERITAAN tidak hanya MENIMPA kita, tetapi juga MENEMPA kita, menjadi pribadi yang kuat dan murni di hadapan tahta-Nya. Terakhir, Petrus juga ingatkan bahwa “Jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.” (baca 1 Petrus 2: 19-21). *plok plok plok*

Masih merasa berhak mempertanyakan mengapa orang baik menderita? 🙂

P.S: Disarikan dari khotbah Pdt. Em. Jimmy Mc Setiawan (dari GKI Guntur, Bandung) pada Minggu, 21 Maret 2010, di GKI Samanhudi, Jakarta. Judul terinspirasi buku dari Harold Kushner “When Bad Things Happen to Good People”. Semoga ehmm, jadi berkat bagi kita semua  Hai orang-orang baik, menderita buat Tuhan yukkkk 😛