Anything Else?

Girl: “I’ll do anything to make you stay!”
Boy: “Marry me..”
Girl: “Anything else?
Boy: “Come with me!”
Girl: “Anything else?”
Boy: “…”

*Photo taken from here.

Iklan

Pesan Kangen

Jangan kirimi rindu padaku lagi. Kotak suratku sudah penuh dengan pesan-pesan kangen yang tiap hari kau kirimkan. Cobalah berhenti sejenak. Semua ini juga tidak mudah bagiku

Kalimat-kalimat itu mengucur pelan ketika ia meneleponmu. Sepelan mungkin supaya ia tak menambah gaduh di hatimu yang belum juga tenang sejak perpisahan kalian. Selembut mungkin supaya tidak menambah luka di hatimu yang tengah terkoyak.

Kau tertegun. Akhirnya dia mengucapkan keberatan itu. Berat karena ia harus membayangkan tangisan yang selalu jadi pengantar tidurmu. Berat karena merasa bersalah telah berhenti berusaha di tengah jalan. Berat karena merasa gagal menyatukan isi hati dan logikanya ketika ditanya tentang kelanjutan hubungan kalian.

Kau tak bisa berkata apa-apa lagi, selain kata maaf. Maaf karena kau belum juga mendapatkan obat untuk sakit hati yang begitu mendalam. Maaf karena membiarkan luka itu terbuka menganga dan melebar kian hari. Maaf karena masih saja berpikir hanya dialah yang bisa jadi pahlawan dalam tragedi cinta kalian, dan menyelamatkanmu dari sengsara karena asmara.

Tapi lagi-lagi, setelah percakapan di telepon itu berhenti, kau masih saja melanjutkan ratapan akan cinta yang padam karena siraman ambisi pribadi. Bukannya menghapus air mata, kau malah memilih untuk memeluk bantal dan membasahinya dengan derai yang baru akan berhenti sejam lagi. Lalu ketika kantuk menghampiri dengan mata yang bengkak, kau raih telepon pintarmu, dan kau ketikkan kata “Kangen!” lalu kau kirimkan ke kotak suratnya.

 

 

This Sad Little Corner

Sad little corner,
You make me feel abhor
Yet, I still be your admirer

Sad little corner,
When people look at you from afar
They know exactly what to thank for

Sad little corner,
Why you put me as an actor
Though you know I’m a bachelor
Who don’t know what I’m going after

Sad little corner,
You’re no better than cancer
Everyone knows you’re just a barrier

Sad little corner,
You may taught me about adhere
Make me still hour by hour
But everyone never consider having me as affair

Sad little corner,
Have you met a barber or a bartender?
Their lives maybe like an adventure
But here in this your sad little corner,
I am stuck forever.

 

Seteru

Satu pelukan mungkin bisa mengubah seteru kalian, Jo..

“Aku berantem lagi sama papa,” kalimat pertama itu mengucur begitu aku membukakan pintu untukmu.

Seperti selalu, setelah beradu kata dan juga murka dengan ayah kandungmu, kau pasti memberitahuku. Lalu segera menemuiku untuk menceritakan detil dan emosi yang kau rasakan.

Aku tidak berkata apa-apa. Menunggu kau menceritakan kejadian yang hampir kuingat bagaimana alurnya.

“Tapi kali ini berbeda. Ini pertengkaran kami yang paling besar,” ujarmu seperti membaca pikiranku yang bosan dengan perseteruan ayah-anak ini.

“Aku gak akan lagi kembali ke rumahnya itu. Biarlah dia berbahagia dengan istrinya itu,” kau melanjutkan. Emosimu tidak meledak-ledak lagi.

“Ngng, tapi mamamu kan juga istrinya,” aku berujar pelan. Sangat pelan sampai aku berharap kau tak usah mendengarnya.

“Iya, aku tahu. Dan itu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Makanya Kakak juga kalau nikah nanti harus hati-hati. Jangan sampai menyesal sampai mati. Jangan seperti mamaku, yang ditipu mentah-mentah. Aku aja sebagai cowok malu mengakui ada dari kaumku yang bisa kurang ajar seperti papa,” aku menyesal telah menyulut emosimu lagi.

Aku menyuruhmu minum dahulu sebelum bercerita lebih jauh. Minuman dingin untuk hati yang panas.
Aku tahu bukan maumu jadi keturunan dari orang seperti papamu. Kurasa drama di sinetron pun tidak akan bisa seseru kisah keluargamu.

“Kalau aku gak kenal Tuhan ya Kak, udah kumusuhi seumur hidup papaku itu. Kemarin-kemarin aku sudah maafin dia. Tapi sekarang dia berulah lagi. Bisa-bisanya dia bilang tak mau lagi membiayai aku, kakakku, dan adikku lagi. Macam tak laki-laki dia kutengok,” ternyata minuman itu gagal mendinginkan cuaca hatimu.

Aku hanya bisa memandangimu. Tidak dengan perasaan iba, karena aku tahu kau lelaki yang cukup tegar menghadapi masalah pelik ini. Aku mengerti, susah sekali memaafkan orang seperti papamu. Sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan mamamu dan kau dan saudari-saudarimu, sempat juga menganggap kalian tidak ada selama beberapa tahun. Kini, setelah pengakuan dosa dan permohonan maaf yang diiringi isak tangis dan tekuk lutut pada mamamu dan kau dan saudari-saudarimu, dia tidak mau memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang bapak.

“Siapa suruh dia kawin lagi. Satu istri aja pun udah susah dinafkahi, ini ada dua istrinya. Belum lagi anaknya ada lima sekarang. Salah dia lah itu gak bisa nahan nafsu,” akhirnya kata-kata itu keluar. Perkataan yang selalu ada di setiap momen pasca-perang antara ayah dengan satu-satunya anak lelaki di keluargamu.

Dan meski aku tak mengucapkan apa-apa lagi, kau pun tahu aku tak pernah setuju dengan pernyataanmu. Aku tak sepaham dengan pemberian maaf yang ditarik lagi. Pengampunan bukan barang rusak yang bisa dikembalikan jika si pembeli kecewa mendapatkannya.

Setelah tegukan terakhir, kau pamit. “Mama pasti nyariin aku ini, Kak. Makasi ya buat waktumu, Kak. Gak tau lagi aku harus ke cerita ke siapa. Gak banyak yang ngerti tentang masalahku ini,” aku hanya bisa membalas ucapan terima kasihmu dengan senyum paling tulus yang bisa kutunjukkan. Semoga itu bisa menambah semangatmu, karena tahu, ketika bertemu dengan mamamu, kau harus terlihat tegar untuk bisa menepis air matanya keluar.

Aku mengantarmu sampai gerbang kosan. Dan baru masuk lagi setelah melihat punggungmu hilang di ujung gang. Satu hal yang bisa kulakukan ketika kembali ke kamar hanya mengirimkan pesan singkat ini.

Message: Mau sampai kapan papa mau dimusuhi anak-anak papa? Bukan cuma aku dan Lina loh anak papa. Johan, Kak Jessie, dan Jeni juga anak-anak papa, papa sadar itu kan?
To : Papa (+62813979654XX)

Labil

“Es krim memang selalu bisa menyelamatkan hari,” kau berkata dengan sisa-sisa tawa di tempat dudukmu sambil menikmati Banana Split yang tinggal satu scoop.

Aku memandang ke langit yang terlalu cerah untuk bulan Februari seperti ini.

“Ini kan karena lagi matahari sedang ganas-ganasnya saja,” kataku tidak setuju. Entah kenapa mukaku berubah kuyu.

“Kau kenapa?” tetiba kau meletakkan sendok mungil yang dari tadi kau gunakan untuk memasukkan gabungan buah pisang dan es krim yang mulai meleleh itu ke mulutmu.

“Gak apa-apa. Kurasa memang tidak ada yang abadi. Maksudku, dalam pengertian, tak ada yang cocok di segala suasana, atau segala masa. “

Kau memandangku dengan tatapan tak percaya. Baru beberapa menit berlalu dari kita yang terbahak-bahak hanya karena melihat status teman yang kita hakimi alay.

“Benar, kan? Apa kau bisa pastikan, es krim ini rasanya sama ketika bumi didera hujan sederas-derasnya?” ujarku, tampak jelas usahaku menghentikanmu dari ekspresi penasaran.

Mungkin saja aku sedang labil. Lagipula, kondisi stabil apa sih yang diinginkan orang-orang? Apa itu maksudnya supaya aku behave dalam berbagai situasi? Atau aku memang tak boleh menunjukkan melankolis di beberapa kesempatan? Tak sekalipun boleh mengeluarkan sisi kekanakanku pada orang-orang sekitar? Aku hanyalah perempuan labil di dunia yang, dalam arti sesungguhnya, labil.

“Masalah di kerjaan?” ternyata kau tak membiarkanku begitu saja.

Dan atas nama hidup yang normal sekaligus stabil, aku tersenyum kecil dan mengangguk.
Kau ikut mengangguk dan mengunci mulut; membukanya sesekali untuk menghabiskan es krim yang kini benar-benar mencair. Dan di dalam benak, dengan sikap dingin, kita sama-sama menyalahkan, mengapa situasi yang membeku tidak bisa mencair secepat es krim yang terhidang di meja ini.

I’m so unpredictable
you don’t know what to think, so unemotional
wonder if I’m even still in love, you see
I don’t know what to tell you now
it’s always harder the second time around

Suatu Episode Tentang Kamu… dan Dia

I used to think that I wasn’t fine enough
And I used to think I wasn’t wild enough
But I wont waste my time try’na figure out
Why you playin’ games, whats this all about?
I cant believe your hurtin’ me
I met your girl, what a difference
What you see in her, you ain’t seen in me
But I guess it was all just make believe

”Mempertahankan hubungan bagiku saat ini, seperti mencoba perbaiki gelas yang pecah,” kamu menukas. Lalu kamu lanjutkan, “Terlalu beresiko untuk membuat jemariku terluka. Perihnya nyata karena, kans untuk menyatukan retakan-retakan itu terlalu kecil. Kadang lebih baik gelas itu dikirim ke tempat pembuangan. Tak usah dieratkan kalau hanya bikin nyeri.”

Malam itu dimulai dengan kelabu. Langit di luar abu-abu. Jalanan tidak lagi berdebu. Tidak ada suara kendaraan bermotor yang berderu-deru. Suara Keyshia Cole yang melantunkan “Love” di radio samarkan degup jantung yang menggebu. Saat itu aku begitu marah. Marah pada keadaan. Terlebih pada kekasihmu. Atau pada kamu, aku tak begitu tahu.

Seperti yang lalu-lalu, kamu datang karena relasimu dengan perempuan itu sedang tidak baik. Aku tidak pernah paham kenapa kamu harus datang padaku untuk menceritakan itu. Berkisah dengan sepenuhnya emosi kemarahan sampai wajahmu merah padam. Bak kaset usang, kamu terus putar ulang pertengkaranmu dengan dia.

Aku turut marah karena aku tak pernah mendebatmu untuk apapun. Kita dulu begitu sehati hingga tak pernah soalkan hal kecil. Dan berbesar hati saling memaafkan untuk konflik yang membesar. Tidak seperti kekasihmu yang ributkan remeh-temeh ketelatanmu menjemputnya. Atau ketika kamu membalas pesannya lima atau enam menit lebih lama dari yang ia perkirakan.

Selama ini aku bersusah-payah menginjak-injak kenangan tentangmu yang menjejak begitu dalam di dasar hatiku. Sebelumnya kusangka, akulah yang bertahta di langit hatimu. Tapi ternyata bukan aku. Bukan aku yang kamu berikan tiket all-acces-area di kehidupanmu. Bukan aku yang kamu hadiahkan kunci untuk mendiami ruang hatimu.

Baca lebih lanjut

Istri untuk Dibeli

Di New York ada sebuah toko yang sangat terkenal bagi para pria. Ribuan dari kaum mereka mengunjungi toko ini. Pria muda, pria yang tak muda lagi; miskin dan kaya; lajang ataupun yang sudah (sering) menikah, mendatangi toko ini. Bagaimana tidak? Toko ini menyediakan layanan yang sangat menarik. Toko ini menawarkan seorang istri pada siapapun pria yang datang.

Hanya ada satu aturan main bagi pengunjung toko ini: “There’s no turning back!” Gampang kan?

Toko unik ini terdiri dari 6 lantai. Di tiap lantai akan ditunjukkan kriteria dari istri yang disediakan. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai wanita tersebut. Kamu dapat memilih wanita di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai di atasnya. Tetapi seperti yang sudah diperingatkan, tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.

Tergiur dengan iklan di TV tentang toko itu, Ryan (42) mendatangi toko itu. Dua pernikahan sebenarnya cukup membuat dia trauma akan komitmen. Tapi, prinsipnya selama ini: “You’ll never know if you never try.” Melangkahlah ia ke toko yang ada di pinggiran New York itu.

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 1 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan. Ryan hanya mengulum senyum dan melanjutkan pencarian ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 Ryan mendapati tulisan seperti ini:

Lantai 2 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil. Kembali Ryan hanya senyum dan naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini :

Lantai 3 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan cantik. ” Wow”, pikir Ryan. Tapi rasa penasarannya menjadi-jadi dan ia terus naik.

Lalu sampailah Ryan di lantai 4 dan terdapat tulisan

Lantai 4 : Wanita di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cantik, dan rajin melakukan pekerjaan rumah. ”Ya ampun !” Ryan berseru, ”Aku hampir tak percaya”

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini

Lantai 5 : Wanita di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cantik, rajin melakukan pekerjaan rumah, dan romantis. Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada wanita di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk lelaki yang tidak pernah puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “ISTRI”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat Anda.

P.S: Ditulis kembali. Dan menurut saya, hal ini berlaku buat perempuan juga.