Bon Voyage

Eben Haezer

Dear Maran,

  I still remember our simple T-shirt and grey skirt we used to have when we were in high school. We were so young, so naive, so fragile and we created the bond of friendship to survive. The world of teenager was never easy, wasn’t it? But the memory of our old times still one of the best place to escape from the harness of adolescent world. At many times, I find myself laughing over our stupidity, our ego and our youthfulness. It was the place where we were free to make  mistakes, to act silly, to be proud and to boast. When our world was so plain, we created a beautiful ship called , friendship.

  Ten years and I’m still counting. Too many beautiful memories that I’m afraid my limited brain will never be enough to capture them one by one.   Yes, I know. To sail with…

Lihat pos aslinya 294 kata lagi

Iklan

2012 in review | Thanks to WordPress! It’s so encouraging ^^

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 15,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 3 Film Festivals

Click here to see the complete report.

Demi Lajang dan Menikah sama-sama Bahagia

Sebetulnya, kurang komprehensif kalau saya menulis artikel ini, karena saya cuma merasakan bagaimana jadi lajang. Saya tidak tahu rasanya menikah sampai sekarang. Tapi, ada satu artikel yang menarik hati dan logika saya. Kalau mau baca lengkapnya di sini. Dan saya berharap, saya masih berpikiran yang sama dengan penulis artikel itu ketika saya menikah nanti. (JANGAN TANYA KAPAN! Hahahaa)

Jadi, dari artikel itu saya menemukan istilah baru. Smug married people. Ouch. Seem like some people I know. Iya, menurut saya, ada beberapa orang yang begitu bangganya menikah sehingga mereka merasa mereka lebih hebat dan lebih bahagia daripada para lajang. To be happy is something and to brag about it is another thing. Padahal, argumen mereka cuma satu: sudah menikah. *terdengar teriakan SOWHATGITULOH dari kejauhan*

Married vs Single

Baca lebih lanjut

Untitled

My father passed away two weeks ago.

I still can remember the look of my friend when she told me about that in the midnight. And I remember I felt so really sad but weirdly relieve. My dad has been sick for six years. (Tho all of our neighbours always said he seemed like a healty old man.)

And from that time, my thought and pray always go to my mom. I know she’s the one who feel really lost. Since, she lived with my dad for more than thirty years. It must be hard for her to let him go. Even though my mom looks though and all, I know deep inside it’s not gonna be easy for her to live without my dad. Because I know it’s not for me.

Sometimes at night, when I close my eyes and get ready to sleep, I cried my eyes out. I just missing him so much. The memories of him being a very good dad and my best friend make me feel so sad cause I cant have him as a dad and best friend anymore.

But this is the most sad feeling on why I cry when I remember him: from the moment he stop breathing, he won’t recognize me anymore. And vice-versa. Oh gosh, it’s killing me.

He used to tell me that there’s is no ghost because all dead people won’t recognize the living ones: the family and friends. They belong to another world.

My father belongs to another world right now. Even tho it’s killing me, I know I have to let him go. Because, may it sound cliche, but if God decided that he’s not belong in this cruel and sick world, who am I to say that God is wrong?

So, rest in peace, dad.. My hero, first love, and sometimes partner in crime. I love you and will save all your love for our family.

the coffin

 

 

Love,

 

 

Tina

 

Jokowi masih ada cacatnya iya. Tapi menurut daku, pasangan Jokowi-Ahok yang mendekati bagus karena sudah punya pengalaman, bukti, dan bersih. Daku sendiri masih mengusahakan kartu pemilih dan semoga besok ada kesempatan untuk nyoblos. Yang paling penting dari semua ini adalah #JanganPilihFoke. Mending pilkada 2 tahap tapi demi pemimpin yang bener daripada 1 tahap tapi yang menang Foke. Ada harga mahal untuk perubahan. :’)

ve handojo

Pertimbangan gue tentang JokoWi simple saja: Sudah ada bukti nyata. Solo adalah kota yang nyaman banget buat warganya, dan juga buat pengunjung seperti gue sendiri.

Gue ngga banyak paham tentang politik. Tapi satu hal yang gue tahu pasti: Politik itu selalu berubah. Nah, buat gue sebagai warga, silakanlah politik berubah-ubah, silakan saja tokoh A ke partai B terus pindah ke partai C, dan seterusnya, tapi yang penting kota gue punya transportasi umum yang layak, fasilitas publik yang nyaman, dan pedagang kecil bisa punya wadah yang tertata seperti di Galabo, Solo.

Solo memang kota yang skalanya jauh lebih kecil daripada Jakarta. Keberhasilan JokoWi di Solo mungkin ngga menjamin keberhasilan dia di Jakarta. Tapi, lagi-lagi gue pakai matematika yang sederhana saja: Dari semua calon, yang punya portfolio penataan kota yang baik hanya JokoWi.

Ini cuma tulisan singkat karena kalau gue ngecap di Twitter nanti jadi kayak kultwit, jadi mending ngecap di…

Lihat pos aslinya 90 kata lagi

Justin Bieber and Random Country

Have your heard that Justin Bieber called Indonesia as “some random country”? What? You feel offence? Angry? Hahaha. Silly you! Let me tell you this:

If a small thing has the power to make you angry, does that not indicate something about your size? ~Sydney J. Harris

From gossip the news I read, Justin created a song when he visited Indonesia couple of time ago. And when he went back to the State, he told his fans, “I created the song in some random country. They dont even know what they’re doing.” By random country, he meant, Indonesia.

Okay. Just because some random singer call our country “random”, doesnt mean we have to feel offence, or even angry.

No, this is not Justin Bieber!

For example, if I ever go to, let say, Liechtenstein or Eritrea and make a poem or song lyric in that country, will I say to my fans friends here that I created it in some random country? Of course not. I’m not some labil teenager who dont even appreciate place he ever visited before. Justin Bieber created some thing that he’s gonna “sell” to the world and he mentioned that he created it in some random country? I am not mad. I am completely understand. JB is a teenager, feel proud of what he produces (pfftt), and we make a big deal about his comment? Oh come Indonesia, you can do better.

And this issue become sillier when our random singer, Syahsuatu, ask Bieber to apologize to Indonesia for his comment. Hahaha. A radio station in Medan banned Bieber in their playlist. *laugh together forever And, a school in Jakarta forbid its students to put Bieber’ songs on their playlist. Hahahaaa. ROTFL.

You may not a great country, Indonesia, just not yet, but you are hillarious. :)))))

 

Not Bieber again!

Semangat Move On

Kebanyakan orang ketika mendengar kata “move on” mengartikannya sebagai fase hidup ketika seseorang yang baru putus cinta, bisa melanjutkan hidupnya tanpa mengungkit-ungkit masa lalu bersama pacar. Ada benarnya. Tapi tidak selalu seperti itu.

 

Saya tahu benar dengan istilah ini karena pengalaman sahabat saya yang mengaku move on itu sangat susah. Kekasihnya yang dulu sepertinya membawa kesan yang mendalam sehingga sahabat saya itu sulit melanjutkan hidup tanpa menempel pada masa lalu.

 

Bagi saya, move on itu beranjak dari masa lalu dan tidak bersungut-sungut atau mengasihani diri ketika mengingatnya di masa sekarang. Hal-hal indah yang kita alami dulu hanya indah pada dulu kala. Kalau kita terpaku pada ingatan itu dan menginginkan keindahan yang sama terjadi sekarang, itulah yang saya sebut, gagal move on.

 

Kalau kaitannya dengan pengalaman sahabat saya, tentulah dia tidak perlu menghabiskan waktu mengenang yang manis-manis di masa lalu dan melebih-lebihkannya sekarang hingga terasa pahit. Gampang sih bilangnya, tapi melaksanakannya susah sekali. Nangis seribu malam dan curhat di media sosial mana pun takkan sanggup bikin seseorang move on.

Meski saya tidak punya mantan pacar (kayanya sih :D) tapi saya pun perlu move on. Semua orang perlu move on. Masa lalu, seindah apapun itu, kalau terlalu sering diingat akan menjadi pahit. Masa-masa SMA yang dulu sangat membahagiakan bisa terasa menyedihkan kalau kita sadar kita tidak bisa bertemu lagi dengan teman-teman SMA kita. Atau kalau bertemu pun kita tidak seakrab yang dulu. Tidak bisa ketawa cekikikan untuk hal kecil yang dulu kita anggap konyol.

 

Momen yang sangat indah seperti wisudaan pun terasa kelam karena kita baru sadar itu jadi gerbang yang membawa kita pada tempat baru yang jauh dari kata nyaman. Momen indah bersama pacar memang bikin kita senang waktu dulu, tapi kalau sudah putus, momen itu lebih menyakitkan dari ditusuk jarum suntik seratus kali. #yahlebay

 

Sebagai seorang Kristen, saya tak pernah menyangka ada firman Tuhan yang tegas-tegas menyuruh kita untuk move on. Lah, memangnya umat Kristiani jaman dulu mengalami putus dari pacar dan susah move on? Mungkin iya, tapi kondisinya tidak seperti jaman sekarang pastinya.

 

Tadi pagi di saat teduh saya dikasih ayat dari Yesaya. Isinya semacam #jleb gitu deh buat saya.

 

“Janganlah ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala. Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?” ~Yesaya 43: 18-19

 

Wow, apa-apaan itu? Saya kan tidak baru putus dari pacar. Awalnya saya nggak ngerti kenapa Tuhan bilang begitu sama saya. Tapi begini, sejak LDR saya akui saya sangat labil dan marah sama keadaan. Saya mendambakan saat-saat seperti dulu ketika saya bisa bertemu patjar hampir setiap hari. (Sekarang dengan jarak Jakarta – Makassar, hal itu tidak berlaku lagi.) Dengan kata lain, saya belum move on. Belum bisa berdamai dengan keadaan jauh-jauhan begini. Kasihan memang saya ini. Makanya saya sangat bersyukur pagi ini bisa mendengar kebenaran indah yang Tuhan nyatakan.

 

Dengan ini juga saya menyerukan semangat move on bagi pemirsah di luar sana yang masih memenggam erat-erat masa lalu dan membawanya ke tiap tempat ia pergi. Dan sekali saya tegaskan, masa lalu ada untuk dingat, bukan untuk diingat-ingat. :’)